
PENURUNANharga bahan bakar minyak (BBM) di Amerika Serikat mulai memberikan napas lega bagi para pengemudi setelah berbulan-bulan mengalami gangguan pasokan. Namun, para ahli memperingatkan bahwa penurunan tajam ini justru berpotensi membawa serangkaian masalah baru bagi stabilitas ekonomi nasional.
Berdasarkan estimasi terbaru dari AAA per Senin (30/6/2026), harga bensin rata-rata nasional telah turun menjadi US$3,86 atau sekitar Rp69 ribu per galon. Meski angka ini masih jauh lebih tinggi dibandingkan periode sebelum pecahnya konflik dengan Iran pada 28 Februari lalu, ini merupakan penurunan signifikan dari level tertinggi empat tahun sebesar US$4,56 yang sempat tercapai pada Mei akibat blokade Selat Hormuz oleh Teheran.
Minyak dan Gas Menuju Level Pra-Perang
Meskipun ketegangan sempat kembali mencuat akhir pekan lalu dengan aksi saling serang antara AS dan Iran, aliran minyak melalui Selat Hormuz tetap berjalan. Hal ini terus memberikan tekanan turun pada harga global. Minyak mentah Brent kini berada di kisaran US$73 per barel, kembali ke level sebelum perang setelah sempat menyentuh angka di atas US$120 pada akhir April.
Pemerintahan Donald Trump terus mengupayakan kemajuan lebih lanjut di sektor ini, mengingat survei menunjukkan ketidakpuasan publik yang besar terhadap tekanan anggaran rumah tangga dan penanganan inflasi. Departemen Kehakiman AS bahkanmeluncurkan penyelidikan terhadap dugaan praktik pencungkilan harga (permainan harga) oleh perusahaan minyak besar.
Namun, American Petroleum Institute (API) membantah tuduhan tersebut. “Harga bensin tidak bergerak selaras dengan minyak mentah, terutama selama gangguan global besar yang masih memengaruhi pasokan, pemurnian, dan inventaris,” ujar juru bicara API, Bethany Williams.
Risiko Ekonomi di Balik Harga Murah
Di balik kabar baik bagi konsumen, para ekonom melihat adarisiko tersembunyi. Torsten Sløk, Kepala Ekonom Apollo Global Management, menyatakan bahwa bensin yang lebih murah dapat memicu lonjakan permintaan yang tertahan (permintaan yang terpendam), sehingga justru bisa menghambat kemajuan dalam menekan inflasi.
“Narasi pasar berubah dari ‘harga minyak rendah berarti inflasi rendah’ menjadi ‘harga minyak rendah berarti lebih banyak permintaan di ekonomi yang sudah panas danberarti inflasi lebih tinggi’,” tulis Sløk dalam catatannya. Ia memprediksi kondisi ini dapat memaksa Federal Reserve untuk segera menaikkan suku bunga kembali.
Selain itu, Abhi Gupta dari Yale University’s Budget Lab menyoroti dampak ganda AS sebagai produsen sekaligus konsumen minyak. Penurunan harga memang membantu konsumen, tetapidapat menghambat investasi oleh perusahaan frackingterutama di negara bagian penghasil minyak seperti Texas, New Mexico, dan Oklahoma.
Ancaman terhadap Transisi Energi
Isu lain yang muncul adalah potensi terhambatnya transisi ke kendaraan listrik (EV). Saat harga bahan bakar melonjak, minat terhadap EV meningkat pesat hingga mencapai 26,1% dari total penjualan mobil pada Mei lalu, menurut laporan Goldman Sachs.
James Stock, profesor ekonomi politik dari Universitas Harvard, memperingatkan bahwa penurunan harga BBM yang cepat dapat menghilangkan momentum tersebut. Konsumen mungkin akan kembali memilih kendaraan bermesin pembakaran internal (ICE), yang pada gilirannya membuat produsen otomotif AS berisiko tertinggal dalam persaingan pasar EV global di masa depan. (Newsweek/I-2)