1. News
  2. Kombitainment
  3. Industri Musik dan Relasi yang Makin Transaksional

Industri Musik dan Relasi yang Makin Transaksional

industri-musik-dan-relasi-yang-makin-transaksional
Industri Musik dan Relasi yang Makin Transaksional

Relasi manusia di industri kreatif jangan terus direduksi menjadi transaksi. Ini tulisan kritik untuk sistem manajemen talenta yang terlalu tunduk pada logika transaksional. Walaupun memang setiap industri bisa berjalan karena hal-hal transaksional, untuk industri kesenian, terutama musik, ada hal-hal yang perlu dirawat sesuai dengan karakter manusianya.

Sebab, industri ini memiliki urat nadi yang bernama apresiasi. Dan falsafah apresiasi melibatkan tiga hal paling mendasar dari relasi manusianya. Pertama, empati yang melibatkan kepekaan batin. Kedua, estetika yang dipengaruhi pengamatan dan pemahaman. Ketiga, kritik yang didasari oleh analisis mendalam.

Kebanyakan manajemen talenta hanya membentuk seniman atau musisi untuk menjadi populer. Dalam hal ini, profesi dianggap sebagai aset yang bisa dimanfaatkan secara maksimal untuk menghimpun pendapatan. Ada strategi dan sistem yang dibentuk. Salah satu cara yang dipilih adalah membuat pagar interaksi humanis dalam rangka proteksi citra.

Bila zaman dahulu proteksi citra dilakukan untuk mengontrol simbol dan narasi, misalnya koin digunakan untuk menyebarkan citra kaisar, legitimasi kekuasaan, kemenangan militer, dan nilai-nilai negara, di masa modern proteksi citra berkembang menjadi pengelolaan opini publik dan manajemen pesan. Talenta, mulai dari aktor politik, perusahaan, hingga selebritas, termasuk seniman atau musisi, mulai memahami bahwa citra tidak hanya dibentuk oleh tindakan, tetapi juga oleh framing media: headline, foto, soundbite, wawancara, dan respons saat krisis.

Di era digital dan media sosial, proteksi citra berubah lagi. Reputasi tidak hanya ditentukan oleh media besar, tetapi juga oleh percakapan publik, influencer, komunitas, komentar viral, tangkapan layar, dan algoritma. Maka sekarang, proteksi citra dilakukan untuk menjaga kepercayaan di tengah risiko, data, media sosial, dan krisis real time.

Oleh karena itu, tak heran bila langkah yang dilakukan manajemen talenta adalah memagarinya. Memberikan jarak antara talenta dengan siapa pun. Ada tujuan-tujuan terkait citra yang ingin digapai. Padahal, mungkin saja talenta tersebut tidak berjarak dengan siapa pun.

Terbentuklah sistem proteksi citra itu yang, menurut saya, sering kali terasa banal. Tidak elok untuk zaman sekarang yang serba saling berinteraksi. Para penggemar, penulis, pemerhati, dan pecinta musik harus berlapang dada bila hal demikian terjadi. Kita tentu sama-sama berharap agar tidak ada cibiran soal “lupa daratan” sebagai bentuk penghakiman dari mereka yang tidak mendapatkan timbal balik sesuai harapan dan akhirnya merasa kecewa.

Namun, dari pengalaman saya selama ini, masih ada manajemen talenta yang mengalkulasi proteksi citra dengan mengedepankan sisi humanisme. Sayangnya, hanya manajemen talenta yang tumbuh secara dewasa karena asam garam industri yang mampu melakoni hubungan antarmanusia ini. Talenta yang mereka kelola lebih “merangkul” dan mengapresiasi pihak mana pun, walaupun dengan takaran gestur yang berbeda-beda. Paling tidak, mereka memiliki daya apresiatif yang lebih besar.

Berbeda dengan manajemen talenta yang memilih untuk tetap mengedepankan logika transaksional. Tim yang dibangun untuk menunjang talentanya sangat lengkap. Bahkan detail dan terlihat sangat profesional. Sepertinya, dalam benak mereka, cara mencapai cita-cita dan visi agar menjadi lebih sukses adalah dengan mengelola operasional dan aset bisnis berdasarkan value yang sudah ditentukan.

Hal ini bisa terlihat dari cara mereka membatasi akses. Humanisme mereka hanya dapat dirasakan bila sudah masuk lingkaran yang diseleksi ketat. Tidak sembarang orang bisa berinteraksi. Bahkan yang sudah saling mengenal lama pun belum tentu masuk dalam skala prioritas atau lingkar kolega yang perlu dirawat karena dianggap value-nya belum setara.

Bebas saja, tidak ada yang salah atau benar. Jalan yang diambil tentu punya konsekuensinya masing-masing. Namanya juga bisnis. Masalahnya, ketika pemahaman industri masih berhenti pada logika transaksional semata, relasi manusia akhirnya hanya dibaca dari nilai manfaatnya.

Boleh saja meniru sistem industri hiburan yang sangat terstruktur, tertutup, dan serba terorkestrasi. Namun, kita juga perlu jujur bahwa kultur Indonesia masih bertumpu pada rasa, kedekatan, dan penghormatan personal.

Bukan apa-apa. Kasihan talenta yang hanya ikut-ikut saja. Saat kariernya mentok, manajemennya sudah bubar, lalu ujung-ujungnya harus menggalang donasi sendirian. Padahal, hal terpenting dari industri kreatif bukan hanya bagaimana mencetak popularitas dan menghitung value, tetapi juga bagaimana membangun ekosistem yang merawat manusianya. Industri kreatif Indonesia seharusnya tumbuh berdasarkan karakter bangsanya sendiri, yakni menghargai relasi, menjaga rasa, menghidupkan gotong royong, dan tidak melulu menghamba pada logika kapitalistik.

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Industri Musik dan Relasi yang Makin Transaksional
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us