Sejak diumumkan akhir Oktober 2025, Sinergi Suara sebagai salah satu program pengembangan musisi daerah yang diinisiasi oleh Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia (Ekraf) kolaborasi bersama Pophariini dan Langit Musik langsung menarik perhatian. Program ini memadukan dua hal yang jarang hadir bersamaan yaitu ruang belajar yang terstruktur dalam program mentorship dan panggung showcase yang benar-benar memberi sorotan kepada talenta lokal. Alih-alih membuat acara kumpul musisi, Sinergi Suara hadir sebagai ekosistem kecil yang menghubungkan edukasi, kurasi, dan exposure.
Singgah ke lima kota Makassar, Medan, Yogyakarta, Bandung, dan Bali, Sinergi Suara mendatangkan para mentor yang akrab dengan dinamika industri musik hari ini yaitu Dimasz Joey (Chief Marketing Officer Mad Haus), Widi Puradiredja (MALIQ & D’Essentials, CEO Mad Haus), dan tim dari Nuon/Langit Musik untuk membicarakan strategi rilis digital, membangun audiens, hingga memperkuat identitas artistik. Tak lain tema-tema yang jarang tersampaikan di ruang publik. Sesi mentorship ini akhirnya menjadi pusat gravitasi utama dari keseluruhan pengalaman Sinergi Suara.
Setelah proses kurasi, Sinergi Suara tak berhenti di ruang kelas. Empat talenta dari tiap kota diberikan kesempatan untuk tampil dalam showcase. Format seperti ini membuat panggung Sinergi Suara terasa lebih relevan, di mana penonton bisa melihat langsung wajah baru musik kotanya, dan para peserta mendapat pembuktian nyata bahwa ilmu yang mereka dapatkan bisa langsung diterapkan dalam konteks pertunjukan.
Yang menarik, tiap kota menunjukkan karakter musiknya sendiri. Makassar hadir dengan spektrum pop emosional, folk sosial, hingga instrumental yang eksploratif. Medan mempertontonkan keberanian lintas genre dari hip hop fusion hingga orkestrasi folk-rock. Sementara Jogja, Bandung, dan Bali memancarkan identitas khas masing-masing, baik lewat produktivitas rilis, eksplorasi tradisi lokal, maupun gebrakan band-band muda yang baru merilis karya perdananya.
Dengan model seperti ini, Sinergi Suara bukan hanya “tur acara”, melainkan potret bagaimana potensi musik Indonesia tumbuh jika diberi ruang belajar dan tampil yang setara. Dari ratusan pendaftar hingga akhirnya terpilih 20 nama, program ini menunjukkan bahwa talenta musik di tiap kota bukan hanya ada mereka berkembang, berani, dan siap bersuara lebih jauh.
Berikut 20 nama yang mengisi panggung Sinergi Suara di berbagai kota.
Makassar, 16 November 2025
Lily At Summer
Band pop Makassar ini banyak mengangkat tema-tema emosional dari persoalan romantis dalam karya-karyanya. Muncul dengan single perdana “Nelangsa” tahun 2024 lalu, Lily At Summer juga resmi meluncurkan single kedua mereka dalam tajuk “Lepaskan” tanggal 17 Oktober lalu.
Saat pelaksanaan Sinergi Suara di Makassar, Yuri sang pemain bas sempat membagikan kesannya tentang acara tersebut. Menurutnya, setelah mengikuti Sinergi Suara, ia percaya diri industri musik di Makassar bisa lebih berkembang lagi.
“Kami melihat masa depan yang cerah di sini,” tegas Yuri.
Natinson
![]()
Duo folk beranggotakan Ahmad Najib dan Muhammad Najib ini dikenal dengan karya-karyanya yang banyak mengangkat isu sosial. Terakhir merilis karya dalam bentuk album berjudul DIGDAYA, grup ini bisa dijumpai di berbagai panggung musik yang ada di Makassar.
Dalam perbincangan Pophariini bersama Natinson di Sinergi Suara Makassar, duo kakak beradik ini merasa banyak sekali pelajaran yang bisa mereka ambil saat mengikuti sesi mentorship.
“Semoga ada lagi program begini biar kami bisa belajar lagi, bahwa ternyata industri musik itu banyak sekali rangkaian di dalamnya,” ungkap Muhammad.
Surgir
![]()
Nama band ini bukanlah sesuatu yang asing bagi kami. Banyak teman-teman Makassar yang kerap merekomendasikan Surgir kepada beberapa tim Pophariini. Jadi saat melihat bahwa Surgir mendaftar program Sinergi Suara, dan menyimak kembali tawaran musik instrumental mereka yang sangat menarik, rasanya sulit untuk tak melibatkan mereka dalam program ini.
Pemilihan tersebut tentu juga berdasarkan materi Surgir yang bisa dibilang cukup untuk tampil di panggung-panggung musik. Sampai saat ini band sudah memiliki satu album penuh, satu album mini, dan sejumlah single lepasan. Materi terbaru mereka adalah album kolaborasi antar daerah bersama Niskala, Semiotika, dan Under The Big Bright Yellow Sun dalam judul Derauantara.
Mewakili rekan-rekan yang lain, Hendra sang pemain bas menyampaikan bahwa acara semacam ini penting untuk dihadiri karena banyak mendapatkan ilmu tentang bagaimana band itu bisa hidup dan bertumbuh. “Kesannya sangat baik, terus bertemu sama banyak bertemu teman-teman di sini, (semoga) banyak kolaborasi yang terjadi nantinya,” ucap Hendra.
Taman Impian
Kombinasi antara musik ska, reggae, dan rocksteady dalam musik Taman Impian jadi alasan mengapa kami tertarik dengan band ini. Terbentuk di tahun 2015 lalu, Taman Impian sudah merilis satu album penuh bertajuk Eargasm di tahun 2019. Jika melihat dari layanan streaming musik dan media sosial band, belum ada rilisan lain yang dirilis oleh Taman Impian.
Menanggapi hadirnya program Sinergi Suara di Makassar, para personel Taman Impian mengaku senang ikut dalam sesi mentorship karena merasa materi yang diberikan merupakan apa yang band mereka butuhkan saat ini. Rasa antusias pun muncul setelah mengikuti Sinergi Suara di Makassar.
“Mungkin ada beberapa band yang masih terkendala masalah manajemen, merchandise, dan lain-lain, jadi program mentorship sangat membantu,” ujar Nica, sang vokalis.
Medan, 19 November 2025
Inthesky
![]()
Jika ditanya soal entitas yang membawakan musik hip hop berbalut fusion dalam format band, band ini tentu jadi nama pertama yang muncul di kepala. Selain pandai dalam mengaransemen musik, mereka juga pandai dalam membentuk hook yang susah dilupakan setelah mendengarnya, sebut saja bagian reff dari lagu “SIKONDEGAY” dan “Yang Maha Edan”. Bahkan saat sedang menulis ini, liriknya terngiang di kepala saya berulang-ulang.
Dalam perbincangan kami dengan Xaverius, sang vokalis usai Inthesky tampil, ia mengatakan bahwa acara seperti ini harus lebih sering diadakan di Medan. “Wadah ini maunya lebih rutin (diadakan). Dan mungkin gak harus nunggu dari Jakarta, mungkin kawan-kawan Medan kalau mau bikin (acara) kayak begini, boleh tuh. Karena dari lokal aku rasa kita bisa ngelakuin apa aja,” pungkasnya.
Melodi Kursi
![]()
Senang rasanya saat mendapatkan band dengan pendekatan musikalisasi puisi dalam program Sinergi Suara ini. Tak hanya itu, Melodi Kursi juga menawarkan musik teater dengan balutan musik balada dan folk dengan manis.
Baru muncul dengan single pertama, “CEROBOH” bulan Februari lalu, Melodi Kursi langsung tancap gas dengan merilis album penuh perdana mereka berjudul PaDuKaTa di bulan Maret.
Para personel Melodi Kursi merasa banyak dibekali ilmu cukup banyak selama sesi mentorship Sinergi Suara Medan. Mereka pun percaya diri ilmu ini bisa menjadi modal menjalani karier bermusik ke depannya.
“Bagaimana cara bertahan di industri musik, terutama kami band daerah agar bisa bersaing di kancah nasional,” ujar Satrya, sang pemain bas.
Psychotic Villager
![]()
Perpaduan antara musik folk dan rock tergambar dengan jelas di musik Psychotic Villager. Identitas musik tersebut mereka warnai lagi dengan hadirnya sound orkestra, harmoni vokal, dengan progresi akor yang diakui terinspirasi dari musisi seperti Nobue Uematsu.
Baru-baru ini, tepatnya tanggal 10 Oktober lalu, Psychotic Villager baru saja meluncurkan single kolaborasi bersama Arcade Night yang mereka beri judul “Emberwake”. Materi ini menambah katalog band yang sudah punya satu album penuh, serta sejumlah single lepasan.
Tak ingin mendapatkan ilmu sendiri, Adrian (vokal) berharap Sinergi Suara bisa kembali diadakan di Medan tahun depan agar rekan-rekan musisi Medan yang lain bisa mendapatkan ilmu dan kesempatan manggung seperti yang ia dapatkan hari itu.
“Karena di Medan ini bukan hanya empat (band) ini. Seperti yang sudah disampaikan, ternyata banyak yang mendaftar. Semoga tahun depan kalau ada, band yang lain bisa kebagian juga,” kata Adrian.
Yoko City Ghost
Sejak merilis album perdana Sputnik-1 tahun lalu, band ini langsung masuk ke radar kami. Merumuskan gaya musik mereka ke dalam genre indie rock, bunyi-bunyian yang dihasilkan Yoko City Ghost cukup melampaui batas-batas yang ada. Tema-tema liriknya pun menarik karena bisa menggabungkan diksi-diksi science fiction dengan bahasa Indonesia, sehingga menghasilkan cerita yang memikat.
Tengku Ariy selaku pemain bas Yoko City Ghost juga sempat memberikan pendapatnya soal Sinergi Suara Medan. Menurutnya materi yang diberikan hari itu sedikit banyak sudah diketahuinya, bahkan sudah dilakukan. Namun pemberian materi hari itu ia rasa mengupas pengetahuannya lebih dalam sehingga ia lebih mengerti tentang apa yang dijalaninya bersama Yoko City Ghost selama ini.
“Selama ini kami menebak-nebak, mungkin begini atau begitu. Dengan adanya mentorship tadi, kami makin yakin cara yang paling benar untuk masuk industri,” ucap Ariy.
Yogyakarta, 23 November 2025
Angsakarta
![]()
Dalam profilnya di layanan streaming dituliskan bahwa Angsakarta merupakan proyek musik kakak beradik yang ingin memberanikan diri untuk mengeluarkan karya musik.
Sejauh ini band yang berasal dari Gunungkidul tersebut sudah merilis dua single yaitu “Angkara Asmara” (2021) dan “Membayang Terbayang” (2022). Semoga ke depannya bisa mendengarkan karya lebih banyak dari Angsakarta.
Hunian
![]()
Salah satu nama dari Jogja yang patut diperhitungkan. Produktivitas Hunian sebagai sebuah band tidak main-main. Muncul di tahun 2024, mereka langsung gas merilis dua single yaitu “Kota Besar” dan “Bermuara”. Lanjut di tahun ini, Hunian kembali dengan dua single lagi, “Potret Kecil” dan “Suara Suara”.
Kabarnya, Hunian bakal merilis album penuh perdana sesegera mungkin. Melihat tahun 2025 yang kurang dari sebulan lagi, mungkin kita bisa mengharapkan sang album beredar di tahun 2026. Mari nantikan.
Risti Panjali
![]()
Datang dari Madiun, Risti memulai karier musiknya sejak tahun 2015 lalu. Karier ini awalnya ia jalani dengan menjadi pengisi lagu jingle sampai ikut berbagai lomba dan audisi sana sini. Baru di tahun 2023 sang solois akhirnya merilis single perdananya yang bertajuk “KepadaA”.
Risti juga sudah mengantongi satu album mini yang bertajuk Bilik Kamar (2024) di bawah naungan R&B Records. Untuk tahun ini, Risti juga terlibat dalam album kompilasi Bintang Muda Lokananta, Vol. 1 lewat lagunya yang bertajuk “X ON Your Calendar”.
Sweeter
![]()
“Pop ringan dari Timur Jawa,” adalah tulisan di akun media sosial Sweeter yang saya rasa cukup menggambarkan musik mereka. Jika ingin membuktikan seberapa ringan musik pop yang mereka tawarkan, silakan dengarkan album mini self-titled mereka yang baru dirilis bulan September lalu.
Dilihat dari akun media sosialnya saat tulisan ini dibuat, Sweeter juga sedang membuka pra-pesan merchandise mereka berupa t-shirt. Selain itu mereka juga merilis album mini self-titled dalam format cakram padat.
Bandung, 27 November 2025
Bala Romantica
![]()
Di tengah pandemi yang melanda di tahun 2020, beberapa pemuda dari Cianjur sepakat untuk membuat band pop di bawah nama Bala Romantica. Untuk format penulisan karya, band ini menggabungkan nuansa ceria dengan suasana melankolis yang menyayat hati.
Tahun ini jadi tahun penting bagi Bala Romantica, karena mereka akhirnya resmi menghadirkan album penuh perdana yang punya judul Dramantika. Berisikan 11 lagu, di mana salah satu treknya, “Antara Ingin Dan Angan” sudah berhasil didengarkan oleh lebih dari 10.000 pendengar di salah satu layanan streaming musik.
Sebelum mereka tampil dalam perhelatan Sinergi Suara Bandung, Pophariini sempat mengajak personel Bala Romantica untuk mengomentari sesi mentorship. “Seru karena tidak terlalu formal jadi kami bisa enjoy, mingle bareng, dan juga sharing pengalaman,” ujar Fikri, sang vokalis.
Basajan
![]()
Jika kalian suka dengan musik Ali dan album mini Galura Tropikalia The Panturas, band satu ini pasti bisa dengan mudah jadi band favorit kalian. Pasalnya ekspresi musik mereka menggabungkan musik instrumental psikedelia dengan nuansa musik Sunda.
Adhitama, gitaris dari Bala Romantica sempat menyampaikan harapannya agar program Sinergi Suara bisa terus berjalan setiap tahunnya, karena ia merasa pemilihan kota-kota yang disinggahi program ini berisi musisi-musisi baru yang potensial.
“Pasti tiap tahunnya akan ada talent baru juga yang bikin industri musik Indonesia gak cuma itu-itu lagi,” harap Adhitama.
John Karwati
Sekilas seperti nama solois, namun John Karwati adalah band pop Bandung berisi tiga orang, Elang Albani, Riksa Yuga, dan Kemal Fasya. Tak ada yang bernama John di band ini.
Sejak muncul perdana di tahun 2022 lalu, band ini sudah menelurkan tiga single yang masing-masing berjudul “Perasaan Terpendam”, “Berlari”, dan “Senjaku”. Masih banyak yang bisa ditunggu dari John Karwati, mari nantikan.
Kataswara
![]()
Band ini memperkenalkan diri ke publik lewat album mini perdana mereka, Menjadi Manusia tahun 2024 lalu. Sejak itu mereka kerap mengisi panggung musik di berbagai daerah untuk membawakan karya-karya mereka.
Selain album mini Menjadi Manusia, Kataswara juga sudah merilis dua single terbaru tahun ini. Selain itu, tahun 2025 ini Kataswara juga sempat meramaikan acara Lanjong Art Festival 2025 di Kalimantan Timur bulan Agustus lalu. Saat itu mereka mengemas penampilan mereka dengan pertunjukan teatrikal yang melibatkan penonton.
Bali, 30 November 2025
Fluctus
![]()
Karier Fluctus berawal dari sebuah UKM kampus, di mana mereka ingin mengikuti lomba band dan berhasil mendapatkan juara 2. Sejak saat itu mereka memutuskan untuk lebih serius menjalani band ini.
Setelah merilis sejumlah single lepasan, tahun ini Fluctus pecah telur dengan melepas album penuh perdana mereka. Album yang diberi judul Tropical Journey ini berisikan delapan lagu ini meneguhkan keinginan mereka untuk bisa mendapatkan pendengar dari berbagai generasi.
Samara
![]()
Band ini menggabungkan elemen musik elektronik dengan nada-nada pop dalam karya-karya mereka. Lirik-lirik yang mereka sampaikan pun memiliki gaya melankolis dengan menyampaikan emosi mendalam. Sejauh ini Samara sudah merilis tiga single lepasan yaitu “Kemana Kau Pergi”, “See You On Top!”, dan “Sang Juara”.
Pramestiara, vokalis Samara merasa disegarkan kembali setelah mengikuti mentorship Sinergi Suara Bali. “Very insightful dan habis ini hopefully kami bisa implementasikan lebih dalam lagi,” ujarnya.
Satva
![]()
Band ini memperkenalkan kami dengan genre yang mereka sebut sebagai pop riot. Hal itu tergambar di album penuh perdana mereka, Pink Noises yang mereka rilis bulan Juli lalu.
Setelah mengikuti sesi mentorship, para personel Satva merasa informasi yang diberikan para narasumber sangat berguna bagi karier musik mereka. “Kami dapat banyak banget informasi yang gak akan kami dapetin dari manapun, bahkan kamu googling juga gak bakalan dapat sih informasi ini. Sebagai musisi yang baru mulai (acara) ini membantu sekali,” ujar Vita, sang vokalis.
Sekala
![]()
Terbentuk di tahun 2023, Sekala sudah pernah tampil sepanggung dengan rekan-rekan band Bali yang sudah lebih dulu aktif di berbagai panggung seperti White Swan dan Astera. Setelah merilis tiga single lepasan sejak tahun 2024, band akhirnya merilis materi yang lebih panjang dalam format album mini bertajuk Titik.
Seperti band-band di tiap kota lainnya, para personel Sekala merasa banyak sekali mendapatkan edukasi yang bermanfaat dan baru bagi mereka. Sekala pun berharap acara seperti ini bisa terselenggara setiap tahun di kota mereka.
“Banyak banget ilmu yang gak pernah aku dengar selama aku ngeband. Seperti bagaimana cara sebuah band bisa lebih maju lagi dan bisa menghasilkan,” jelas Kirani, vokalis Sekala.