1. News
  2. Mojok
  3. Jogja Sudah Terlalu Banyak Coffee Shop, yang Kita Butuhkan Sekarang Adalah Ruang Terbuka Hijau

Jogja Sudah Terlalu Banyak Coffee Shop, yang Kita Butuhkan Sekarang Adalah Ruang Terbuka Hijau

jogja-sudah-terlalu-banyak-coffee-shop,-yang-kita-butuhkan-sekarang-adalah-ruang-terbuka-hijau
Jogja Sudah Terlalu Banyak Coffee Shop, yang Kita Butuhkan Sekarang Adalah Ruang Terbuka Hijau

Dulu, katanya Jogja terbuat dari rindu, pulang dan angkringan. Tapi sekarang, saya rasa kalimat tersebut sudah harus direvisi menjadi rindu, pulang dan coffee shop.

Mau belok ke gang kecil, ada coffee shop. Lewat jalan alternatif, ada coffee shop. Bahkan ketika berniat mencari warung makan biasa, sering kali yang muncul lebih dulu justru papan nama bertuliskan “coffee, brunch, and space”.

Konon jumlah coffee shop di Jogja sudah mencapai sekitar 3.500. Saya memang belum pernah menghitungnya satu per satu—dan sepertinya tidak ada yang cukup gabut untuk melakukannya, tetapi angka itu sama sekali tidak terdengar berlebihan. Rasanya hampir setiap berjalan dalam radius sekitar 100 meter, selalu ada setidaknya satu kedai kopi yang bisa disinggahi.

Fenomena ini sebenarnya menarik. Jogja memang kota mahasiswa. Budaya nongkrongnya kuat dan kopi sudah lama menjadi bagian dari gaya hidup. Tidak heran kalau bisnis coffee shop tumbuh begitu subur.

Masalahnya, ketika jumlahnya sudah terlalu banyak, saya mulai bertanya-tanya: memang masih perlu sebanyak itu?

Tiap waktu, ada satu coffee shop baru

Hampir setiap bulan saya melihat unggahan pembukaan coffee shop baru di Jogja. Interiornya estetik, logonya minimalis, menunya dibuat seunik mungkin. Namun di sisi lain, tidak sedikit pula kabar tentang kedai yang mulai sepi, berpindah tangan, atau akhirnya tutup permanen.

Seolah-olah sekarang berlaku hukum baru di Jogja: mati satu, tumbuh seribu.

Persaingan akhirnya bukan lagi soal siapa yang membuat kopi paling enak, tetapi siapa yang paling mampu bertahan.

Bahkan, sebagai pelanggan, saya mulai merasa menu es kopi susu sudah tidak lagi memberi sensasi “wah”. Hampir semua kedai menawarkan versi mereka masing-masing, tetapi rasanya sering kali mirip. Perbedaannya kadang hanya tingkat manis, jenis gula, atau desain gelasnya.

Lucunya lagi, setelah banyak bereksperimen membuat kopi sendiri di rumah, saya sadar beberapa rasa itu ternyata bisa direplikasi menggunakan bahan-bahan yang dijual di minimarket. Memang tidak akan identik seratus persen, tetapi cukup untuk memuaskan keinginan ngopi tanpa harus keluar uang puluhan ribu rupiah.

Oleh karena itu, saya mulai berpikir bahwa mungkin Jogja sudah tidak terlalu membutuhkan tambahan coffee shop sebanyak sekarang. Yang lebih dibutuhkan justru ruang terbuka hijau.

BACA JUGA: Sisi Gelap Kedai Kopi Jogja: Ganti Barista Tiap 3 Bulan demi Cuan

Jogja butuh ruang terbuka hijau, jauh lebih berfaedah

Bayangkan kalau setiap kecamatan memiliki taman yang benar-benar nyaman. Bukan sekadar hamparan rumput dengan dua bangku yang catnya mengelupas, tetapi ruang publik yang teduh, bersih, aman, dan memang dirancang untuk dipakai warga.

Tempat di mana orang bisa menggelar tikar untuk piknik kecil bersama keluarga, mahasiswa membaca buku tanpa harus membeli segelas kopi sebagai “tiket masuk” untuk duduk berjam-jam, dan para pekerja datang setelah jam kantor hanya untuk menikmati angin sore.

Atau bahkan tempat yang melegalkan satu aktivitas yang sekarang mulai terasa mewah: bengong.

Tidak semua waktu luang harus dihabiskan sambil memegang gelas kopi atau duduk di ruangan berpendingin udara. Kadang seseorang hanya ingin duduk di bawah pohon, mendengar suara burung, melihat anak-anak berlarian, lalu pulang dengan pikiran yang sedikit lebih ringan.

Ironisnya, untuk melakukan hal sesederhana itu di Jogja justru lebih sulit daripada cari coffee shop yang terjangkau.

Ruang terbuka hijau bukan sekedar estetika

Padahal ruang terbuka hijau bukan cuma soal estetika kota. Kehadirannya bisa menjadi ruang sosial yang mempertemukan banyak orang dari berbagai latar belakang tanpa ada kewajiban membeli apa pun.

Kalau dikelola dengan serius, manfaat ekonominya pun bukan hal yang mustahil. Misalnya, UMKM di sekitar taman bisa ikut menikmati ramainya pengunjung. Penjual makanan, minuman, penyewaan tikar, mainan anak, hingga pelaku seni lokal punya ruang untuk berkembang tanpa harus menyewa ruko atau membuka coffee shop baru.

Tentu saya tidak sedang mengajak orang berhenti membuka usaha coffee shop. Bisnis kopi tetap punya tempatnya sendiri, apalagi Jogja memang memiliki budaya ngopi yang kuat.

Hanya saja, mungkin sekarang kita sudah berada di titik ketika keseimbangannya perlu dipikirkan. Sebab kota yang nyaman bukanlah kota yang menawarkan pilihan latte paling banyak, melainkan kota yang memberi warganya ruang untuk bernapas.

Kalau setiap lahan kosong terus berubah menjadi coffee shop, lama-lama kita memang tidak akan pernah kehabisan tempat untuk memesan es kopi susu. Yang habis justru kesempatan menikmati kota tanpa harus menjadi konsumen terlebih dahulu.

Penulis: Wahyu Tri Utami
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Coffee Shop di Jogja, Benarkah Jadi Ruang Pamer Fashion yang Mengintimidasi?

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini dari.

Terakhir diperbarui pada 4 Juli 2026 oleh

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Jogja Sudah Terlalu Banyak Coffee Shop, yang Kita Butuhkan Sekarang Adalah Ruang Terbuka Hijau
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us