1. News
  2. Berita
  3. Kabar Baik dari Pesisir Kalimantan, 14 Spesies Mangrove Ditemukan Tumbuh Subur di Kotabaru

Kabar Baik dari Pesisir Kalimantan, 14 Spesies Mangrove Ditemukan Tumbuh Subur di Kotabaru

kabar-baik-dari-pesisir-kalimantan,-14-spesies-mangrove-ditemukan-tumbuh-subur-di-kotabaru
Kabar Baik dari Pesisir Kalimantan, 14 Spesies Mangrove Ditemukan Tumbuh Subur di Kotabaru

Hutan Mangrove Kotabaru Kalimantan Selatan


Kawasan hutan mangrove di Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan, menyimpan keanekaragaman hayati yang tinggi. Temuan terbaru dari Unit Penunjang Akademik (UPA) Lingkungan Lahan Basah Universitas Lambung Mangkurat (ULM) menunjukkan setidaknya terdapat 14 spesies mangrove yang tumbuh di kawasan Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) yang kini dikelola kampus tersebut.

Penemuan itu diperoleh melalui kegiatan identifikasi keanekaragaman hayati yang dilakukan tim peneliti ULM. Wakil Rektor ULM Bidang Kerja Sama, Humas, dan Sistem Informasi, Yusuf Azis, mengatakan penelitian tersebut memberikan gambaran penting mengenai kondisi ekosistem mangrove di wilayah tersebut.

“Beragam spesies mangrove ini ditemukan saat kegiatan identifikasi keanekaragaman hayati mangrove,” kata Yusuf Azis di Banjarmasin, Selasa (2/6).

Hasil identifikasi mencatat keberadaan berbagai jenis mangrove, mulai dari paku laut (Acrostichum aureum), api-api ludat (Avicennia officinalis), ketapang (Terminalia catappa), tanjang (Bruguiera cylindrica), tengar (Ceriops decandra), hingga nyirih (Xylocarpus granatum). Selain itu ditemukan pula teruntum merah (Lumnitzera littorea), teruntum putih (Lumnitzera racemosa), nipah (Nypa fruticans), bakau minyak (Rhizophora apiculata), bakau hitam atau bakau merah (Rhizophora mucronata), bakau kecil (Rhizophora stylosa), johar (Senna siamea), dan pedada (Sonneratia alba).

Ekosistem yang Masih Terjaga

Tidak hanya menemukan 14 spesies mangrove, tim peneliti juga mencatat keberadaan enam spesies tumbuhan asosiasi yang tumbuh secara alami di kawasan tersebut. Kehadiran berbagai jenis tumbuhan ini menunjukkan bahwa kondisi ekosistem mangrove di lokasi penelitian masih relatif stabil.

Menurut Yusuf, keragaman vegetasi yang ditemukan memperlihatkan struktur hutan yang lengkap. Berbagai fase pertumbuhan tanaman, mulai dari semai, pancang, hingga pohon dewasa, dapat dijumpai di kawasan tersebut.

“Kondisi ini menjadi indikator penting bahwa regenerasi alami mangrove berlangsung baik,” ujarnya.

Temuan tersebut penting karena regenerasi alami merupakan salah satu indikator kesehatan ekosistem. Ketika bibit, tanaman muda, dan pohon dewasa dapat tumbuh bersamaan dalam jumlah memadai, berarti siklus kehidupan mangrove berjalan secara normal tanpa gangguan besar.

Peran Besar Mangrove bagi Lingkungan

Keberadaan mangrove tidak hanya penting bagi keanekaragaman hayati, tetapi juga bagi kehidupan masyarakat pesisir. Yusuf menjelaskan bahwa ekosistem mangrove memiliki fungsi strategis dalam menjaga keseimbangan lingkungan.

Mangrove membantu melindungi garis pantai dari abrasi dan gelombang laut, menjadi habitat bagi berbagai biota pesisir, serta mendukung produktivitas ekosistem perairan. Sistem perakaran mangrove yang rapat mampu menahan sedimen sehingga mengurangi erosi dan menjaga kestabilan garis pantai.

Secara global, hutan mangrove juga dikenal sebagai salah satu ekosistem penyerap karbon paling efektif. Kemampuannya menyimpan karbon di akar dan tanah bahkan disebut dapat mencapai empat kali lebih besar dibandingkan hutan daratan. Selain itu, mangrove berfungsi menyaring berbagai polutan seperti nitrat dan fosfat sehingga membantu menjaga kualitas perairan pesisir.

Ekosistem ini juga menjadi rumah bagi beragam satwa. Berbagai spesies ikan, krustasea, burung, reptil, hingga mamalia bergantung pada kawasan mangrove sebagai tempat mencari makan, berkembang biak, atau berlindung. Secara global, ratusan spesies yang terancam punah diketahui memiliki keterkaitan dengan habitat mangrove.

Menjadi Dasar Pengelolaan Berbasis Konservasi

Sejak pertengahan 2024, ULM melalui Koperasi Berkah Wasaka Mandiri memperoleh izin pengelolaan kawasan hutan produksi seluas 611 hektare di Kabupaten Kotabaru melalui skema PBPH. Kawasan tersebut direncanakan tidak hanya untuk konservasi karbon, tetapi juga untuk budidaya perikanan, wisata pendidikan, dan penelitian lingkungan lahan basah.

Yusuf mengatakan hasil identifikasi keanekaragaman hayati ini diharapkan menjadi landasan ilmiah dalam pengelolaan kawasan ke depan.

“Melalui identifikasi itu ULM berharap dapat memberikan data ilmiah sebagai dasar pengelolaan kawasan berbasis konservasi, sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kelestarian ekosistem mangrove,” katanya.

Temuan ini menjadi penting di tengah berbagai ancaman terhadap mangrove di dunia. Berbagai penelitian menunjukkan sebagian besar habitat mangrove global telah mengalami degradasi akibat pembangunan pesisir, penebangan, konversi lahan untuk pertanian, hingga perluasan tambak komersial. Karena itu, keberadaan kawasan mangrove yang masih memiliki regenerasi alami yang baik seperti di Kotabaru menjadi aset lingkungan yang bernilai tinggi untuk dijaga dan diteliti secara berkelanjutan.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Kabar Baik dari Pesisir Kalimantan, 14 Spesies Mangrove Ditemukan Tumbuh Subur di Kotabaru
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us