
Kawan GNFI mungkin pernah mendengar soal Bali yang lebih “terkenal” dibandingkan Indonesia di mata wisatawan mancanegara. Banyak turis asing yang mengira bahwa Bali adalah sebuah negara. Padahal, realitanya Bali adalah sebuah provinsi yang ada di dalam negara Indonesia.
Saat mereka diberi tahu jika Bali adalah bagian dari Indonesia, mereka terkejut. Kira-kira, apa yang membuat Bali lebih populer dibanding Indonesia?
Belanda yang “Memperkenalkan” Bali
Merangkum dari ANTARA, popularitas Bali yang mendunia sebenarnya memiliki akar yang sangat dalam sejak era kolonial Belanda. Sejak tahun 1920-an, pemerintah kolonial mempromosikan Bali sebagai daerah tujuan wisata.
Pemerintah kolonial Belanda mempromosikan Bali ke negara-negara di Eropa dan negara lainnya. Pulau Dewata tidak hanya menawarkan wisata alam yang aduhai, tapi juga budayanya yang sangat unik.
Sejak saat itu, banyak orang asing yang mulai berbondong-bondong datang ke Bali. Banyak di antara mereka yang berprofesi sebagai budayawan, pelukis, sampai peneliti.
Lebih lanjut, Belanda juga membangun hotel pertama di Bali pada tahun 1930. Tak hanya itu, jalur udara juga mulai dibuka di tahun 1935 untuk memudahkan akses wisatawan.
Seniman-seniman yang datang ke Bali juga membuat karya yang membawa nama pulau tersebut. Ditambah lagi, saat itu Indonesia belum merdeka, sehingga nama Indonesia juga belum terlalu terdengar di telinga turis internasional.
Bali memiliki jalan beraspal yang bagus. Bukan cuma itu, sawahnya juga luas dan hampir tidak terpengaruh dengan kerusakan pertanian di era kolonial saat itu.
Disadur dari San Francisco Film Festival, di tahun 1930-an saja, ada sekitar 30.000 wisatawan yang mengunjungi pulau itu. Dari sinilah, secara perlahan branding Bali sebagai surganya wisata mulai terbentuk di dunia internasional.
Film Jadul Berlatar Bali
Citra Bali sebagai destinasi mandiri semakin diperkuat oleh pengaruh media internasional dan industri film. Di tahun 1932 misalnya, ada film berjudul Goona Goona yang mengambil set syuting di Bali. Film ini menggambarkan kehidupan realistis di Bali.
Kemudian, pada tahun 1935, ada film Legong: Dance of the Virgins. Berlatarkan di Ubud, disebutkan jika pemeran film ini adalah warga Bali.
Tahun 1952, Amerika Serikat meluncurkan sebuah film komedi bertajuk Road to Bali. Film ini ikut serta dalam mempromosikan Bali di dunia. Uniknya lagi, konon Road to Bali menjadi satu-satunya film dalam seri Road to… yang difilmkan dalam technicolor.
Pariwisata Kelas Dunia
Pasca-kemerdekaan, pemerintah Indonesia memperkuat posisi Bali. Presiden Soekarno bahkan sengaja memilih Bali sebagai tempat dibangunnya Istana Tampaksiring.
Istana Tampaksiring juga menjadi Istana Negara pertama yang dibangun setelah kemerdekaan. Tempat ini difungsikan sebagai lokasi untuk menjamu tamu-tamu negara.
Tak berhenti di sana, Soekarno turut memprakarsai dibangunnya Hotel Bali Beach di Sanur pada tahun 1963 sebagai simbol modernitas pariwisata Indonesia kala itu.
Di era modern seperti sekarang, Bali terus berupaya berbenah. Akses menuju Bali juga semakin mudah dengan semakin banyaknya penerbangan langsung dari berbagai negara ke Bandara Ngurah Rai.
Bali memberikan kemudahan akses yang mudah bagi pelancong. Begitu mendarat, wisatawan disuguhi pilihan akomodasi, transportasi, dan layanan publik yang sudah terkoneksi dengan standar internasional.
Hal ini berbeda dengan tempat-tempat wisata lain di Indonesia yang memerlukan “perjuangan” lebih, seperti penerbangan ekstra atau perjalanan lanjutan dengan kapal, dan lain sebagainya.
Di era digital saat ini, Bali juga menjadi magnet bagi para digital nomad dan pekerja jarak jauh dari seluruh dunia. Pulau Dewata menawarkan akses bagi para pekerja yang ingin merasakan sensasi bekerja sambil berlibur.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News
Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Firda Aulia Rachmasari lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Firda Aulia Rachmasari.
Tim Editor