1. News
  2. Mojok
  3. Kenapa orang Bali jarang liburan ke pantai, padahal tinggal deket pantai?

Kenapa orang Bali jarang liburan ke pantai, padahal tinggal deket pantai?

kenapa-orang-bali-jarang-liburan-ke-pantai,-padahal-tinggal-deket-pantai?
Kenapa orang Bali jarang liburan ke pantai, padahal tinggal deket pantai?

Apa destinasi impian banyak orang di Indonesia? Saya yakin Bali masih selalu menjadi yang favorit. Alasannya ya nggak jauh-jauh dari liburan ke pantai.

Ada yang terbayang pasir putih, ombak, melihat matahari terbenam di Kuta, berjemur santai di Sanur atau sekedar foto-foto estetik di Melasti. Pokoknya, Pulau Dewata itu identik dengan pantai.

Tapi, lucunya, banyak orang Bali sendiri jarang liburan ke pantai. Termasuk saya, setiap pulang kampung jarang sekali merencanakan untuk liburan ke pantai.

Warlok Bali malah nggak kepikiran untuk liburan ke pantai

Saya pernah ngobrol dengan teman yang baru pertama kali liburan ke Bali. Schedule-nya padat banget.

Hari pertama pergi ke Melastihari kedua pergi ke Pandawa, hari ketiga mengejar sunset di Jimbaran. Sementara saya malah bingung kapan terakhir kali sengaja liburan ke pantai. Rasanya sudah lama sekali. Kenapa bisa gitu ya?

Setiap pulang ke Bali, saya hampir nggak pernah berfikir untuk jalan-jalan, apalagi ke pantai. Waktu saya habis untuk keluarga, bantu-bantu di rumah, atau sekedar rebahan menikmati suasana kampung.

Lucunya, teman-teman pasti mengira kalau saya hapal semua pantai. Seolah-olah begitu lahir di Bali, otomatis saya punya pengetahuan lengkap tentang pantai-pantai tersembunyi, tempat melihat matahari terbenam terbaik, sampai warung seafood paling enak. Padahal kenyataannya, saya justru lebih sering jadi pendengar ketika mereka bercerita habis liburan ke Bali.

Kenapa liburan ke pantai tetap jadi favorit?

Mungkin jawabannya sederhana. Karena sesuatu yang kita lihat setiap hari lama-lama terasa biasa.

Coba bayangkan kamu tinggal dekat pantai. Mau pergi ke mana saja, pasti melewati pantai. Mau beli makan, lihat laut lagi. Pulang sore, ketemu matahari terbenam. Jadi lama-lama terasa pantai bukan lagi tempat wisata, tapi cuma pemandangan di pinggir jalan.

Yah, mirip-miriplah dengan orang Jakarta yang jarang ke Monas, orang Jogja yang malas ke Malioboro, atau orang Bandung yang ogah ke Lembang saat akhir pekan karena macet.

Bukan karena bosan atau tempatnya jelek, tapi karena rasanya, “Nanti kita bisa bisa ke sana kapan saja kita mau.” Nah, kata-kata itulah yang sering berujung nggak pernah. Hehe

Alasan lainnya, bagi sebagian orang Bali, pantai bukan tempat healing, tapi tempat kerja. Banyak masyarakat kami yang mencari nafkah dari kawasan pantai.

Ada yang bekerja di hotel dengan view pantai, restoran di pinggir pantai, beach club, penyewaan papan selancar, hingga menjadi fotografer wisata pantai. Bayangkan kalau setiap hari bekerja di sekitar pantai, masak ya liburan ke pantai? Kan bosan, ya.

Rasanya sama seperti pegawai mall yang ketika libur malah main ke mall. Yang lebih menarik lagi, ketika hari libur datang, banyak masyarakat bali justru memilih pergi ke daerah dengan udara yang sejuk seperti Bedugul, Kintamaniatau Munduk.

Bukannya liburan ke pantai, tapi mencari suasana baru dengan pergi ke pegunungan, danau, atau air terjun. Yah, namanya juga manusia, cenderung mencari sesuatu yang berbeda dari rutinitasnya.

Kalau setiap hari sudah hidup di daerah yang panas dan dekat laut, saat liburan warga Bali tentu pengen mencari suasana baru.

Makna pantai buat warga Bali

Di sisi lain, pantai bagi masyarakat Bali juga punya makna yang berbeda dengan para wisatawan. Banyak pantai di Bali menjadi lokasi upacara adat dan keagamaan, seperti Melasti yang dilaksanakan menjelang Hari Raya Nyepi.

Jadi, hubungan warga Bali dengan pantai nggak melulu soal berenang atau berjemur. Bagi kami, pantai menjadi bagian dari kehidupan budaya dan spiritual.

Belum lagi kalau musim liburan tiba. Jalan menuju pantai mulai macet, parkiran penuh, tempat makan antre, situasi menjadi sangat padat dan ramai, lautan wisatawan membuat sebagian masyarakat Bali merasa liburan ke pantai itu nggak nyaman.

Bukannya santai, yang ada justru makin pusing. Dan akhirnya masyarakat lokal memilih rebahan di rumah atau memilih pergi ke tempat yang lebih sepi dan jauh dari keramaian.

Lucunya lagi, kadang teman-teman saya mengingatkan saya bahwa kampung halaman saya adalah tempat yang indah. Melihat teman-teman saya rela nabung berbulan-bulan demi bisa menikmati pantai di Bali membuat saya berfikir: “Oh iya ya, ternyata selama ini yang saya anggap biasa adalah tempat impian banyak orang.”

Yang dekat terasa biasa saja

Ya begitulah sifat manusia. Yang jauh selalu tampak lebih menarik daripada yang dekat. Terkadang kita rela mengejar sesuatu yang belum kita miliki, sementara yang sudah ada di depan mata sering dianggap biasa.

Oh iya, ada satu faktor lagi yang sering terlupakan oleh wisatawan, waktu luang orang Bali nggak selalu benar-benar luang. Di balik citra Bali sebagai pulau wisatakehidupan sosial masyarakat bali sangat aktif.

Ada banyak kegiatan atau upacara agama, hingga berbagai kewajiban adat yang sangat membutuhkan waktu dan tenaga. Jadi, ketika akhir pekan, nggak semua orang bebas menentukan jadwal liburan ke pantai misalnya.

Terkadang, waktu yang ada justru kami pakai untuk menjalankan kewajiban sosial dan budaya. Ini sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Karena itulah, anggapan bahwa orang Bali pasti sering liburan ke pantai nggak selalu tepat. Jadi, kalau suatu hari kamu berkunjung terus bertanya kepada teman orang Bali “Pantai favoritmu apa?” Tolong jangan kaget kalau jawabannya malah “Wah nggak ada pantai favorit, udah lama juga nggak ke pantai.”

Bukan karena nggak mencintai pantai, tapi mereka hanya terlalu akrab dengan pantai. Dan mungkin, keakraban memang sering membuat kita lupa untuk kembali mengagumi sesuatu yang dulu begitu Istimewa.

Penulis: Ni Putu Roshinta Dewi

Redaktur: Yamadipati Seno

BACA JUGA Bali Bukan Cuma Ubud, Canggu, dan Kuta, 5 Tempat Ini Bisa Jadi Rekomendasi Saat Berkunjung ke Pulau Dewata

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini dari.

Terakhir diperbarui pada 18 Juli 2026 oleh

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Kenapa orang Bali jarang liburan ke pantai, padahal tinggal deket pantai?
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us