1. News
  2. Berita
  3. Keraton Surosowan, Bekas Pusat Kesultanan Banten di Kawasan Banten Lama

Keraton Surosowan, Bekas Pusat Kesultanan Banten di Kawasan Banten Lama

keraton-surosowan,-bekas-pusat-kesultanan-banten-di-kawasan-banten-lama
Keraton Surosowan, Bekas Pusat Kesultanan Banten di Kawasan Banten Lama

dok. Aqwin Polosoro (Google Maps)


Di depan Masjid Agung Banten, persis berseberangan dengan kompleks masjid yang sudah ada sejak abad ke-16, berdiri sisa-sisa sebuah keraton yang dulunya adalah jantung dari salah satu kesultanan terbesar di Nusantara. Keraton Surosowan kini tidak lagi berdiri dalam bentuk yang utuh.

Yang tersisa adalah tembok-tembok tebal, puing-puing denah ruang yang bisa dibaca dari kontur tanahnya, dan sebuah kolam pemandian sultan dengan pancuran-pancuran berarsitektur khas yang masih terlihat jelas.

Keraton ini mulai dibangun sekitar 1526 hingga 1570 pada masa pemerintahan Sultan Maulana Hasanuddin, raja pertama Kesultanan Banten sekaligus putra Sunan Gunung Djati.

Selama lebih dari dua abad, kompleks ini berfungsi sebagai pusat pemerintahan, tempat tinggal sultan dan keluarganya, serta pusat kegiatan kesultanan. Kemudian pada 1808, Daendels memerintahkan penghancurannya setelah konflik antara Sultan Banten dan pemerintah kolonial Belanda.

Bahan-bahan bangunan keraton banyak diambil untuk digunakan pada bangunan Belanda lainnya. Apa yang tersisa hari ini adalah, seperti yang dicatat para peneliti, sisa dari sisa-sisa kehancuran itu.

Meski kondisinya jauh dari utuh, Keraton Surosowan tetap menjadi salah satu situs cagar budaya paling penting di Banten, dan kunjungan ke sini adalah bagian yang tidak bisa dipisahkan dari perjalanan menjelajahi kawasan Banten Lama.

Sekilas Mengenai Keraton Surosowan

Keraton Surosowan mengalami empat fase pembangunan yang berlangsung selama beberapa generasi sultan. Fase pertama adalah pembangunan dinding luar dari bata dengan lebar mencapai 125 meter. Fase kedua adalah pembangunan dinding dalam sebagai area pertahanan tambahan. Fase ketiga adalah pendirian ruang-ruang di sepanjang dinding, dan fase keempat mencakup pembangunan bangunan-bangunan di dalam kompleks keraton.

Nama “Surosowan” diambil dari gelar Sultan Maulana Hasanuddin sendiri, yaitu Maulana Hasanuddin Panambahan Surosowan. Nama gelar itu kemudian melekat pada keraton yang ia bangun.

Salah satu ironi dalam sejarah bangunan ini adalah keterlibatan arsitek Belanda dalam pembangunannya. Pada masa Sultan Haji, setelah keraton mengalami kerusakan akibat konflik internal dengan Sultan Ageng Tirtayasa pada 1680, perbaikan keraton melibatkan Hendrik Loocaszoon Cardeel, arsitek Belanda yang kemudian memeluk Islam dan diberi gelar Pangeran Wiraguna.

Orang yang sama juga terlibat dalam pembangunan Benteng Speelwijk yang berdiri tidak jauh dari keraton ini. Dua peninggalan di kawasan yang sama, dengan satu arsitek yang sama, dalam dua kepentingan yang berbeda.

Penghancuran terakhir berlangsung mulai 1808 di bawah perintah Daendels dan terus berlangsung hingga 1832. Sejak saat itu, Keraton Surosowan hanya tinggal reruntuhannya.

Daya Tarik Utama Keraton Surosowan

Tidak ada bangunan utuh yang bisa dilihat di sini. Tapi justru kondisi itu yang membuat Keraton Surosowan punya karakter tersendiri dibanding situs-situs sejarah lain yang sudah dipugar penuh. Hamparan puing-puing yang tersisa membentuk denah yang cukup bisa dibaca, memberi gambaran tentang seberapa luas kompleks keraton ini pada masa kejayaannya.

Yang paling jelas masih berdiri adalah tembok-tembok luar yang tebal, sebagian sudah ditumbuhi vegetasi, dan beberapa segmen struktur di bagian dalam.

Kolam pemandian sultan menjadi salah satu titik yang paling sering dikunjungi, dengan pancuran-pancuran berornamen yang strukturnya masih terlihat jelas meskipun sudah tidak berfungsi. Pancuran itu menunjukkan bagaimana perhatian terhadap estetika hadir bahkan di fasilitas sehari-hari dalam kompleks istana.

Penelitian arkeologi yang pernah dilakukan di bagian tengah keraton berhasil memunculkan kembali sisa-sisa struktur bangunan yang sebelumnya tertimbun.

Dari data peta kuno yang paling tua berasal dari 1596, keraton Surosowan digambarkan masih sangat sederhana berupa satu bangunan dikelilingi pagar. Peta 1624 sudah menggambarkan keraton berupa bangunan berundak dan bertingkat yang dikelilingi rumah-rumah, menunjukkan perkembangan pesat dalam kurang dari tiga dekade.

Akses Menuju Keraton Surosowan

Keraton Surosowan beralamat di Jalan Masjid Agung Banten, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, Banten, berseberangan langsung dengan Masjid Agung Banten. Dari pusat Kota Serang, jaraknya sekitar 12 km dengan waktu tempuh sekitar 26 menit menggunakan kendaraan pribadi, melalui rute yang sama dengan menuju kawasan Banten Lama dan Benteng Speelwijk.

Karena berada dalam satu kawasan dengan Masjid Agung Banten, Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama, dan tidak jauh dari Benteng Speelwijk, Keraton Surosowan sangat praktis dikunjungi dalam satu rute perjalanan menjelajahi kawasan Banten Lama. Tidak ada angkutan umum yang langsung menuju lokasi, sehingga kendaraan pribadi atau ojek adalah pilihan paling praktis.

Jam Operasional dan Harga Tiket

Keraton Surosowan terbuka setiap hari selama 24 jam. Tidak ada tiket masuk yang dikenakan. Waktu terbaik berkunjung adalah pagi hari antara pukul 07.00 hingga 10.00 sebelum cuaca terlalu panas, mengingat area reruntuhan ini cukup terbuka tanpa banyak peneduh.

Keraton Surosowan cocok untuk Kawan GNFI yang tertarik pada sejarah Kesultanan Banten dari perspektif yang lebih dekat. Datanglah pagi hari, bawa topi atau pelindung dari matahari, dan jadikan kunjungan ini bagian dari rute Banten Lama yang juga mencakup Masjid Agung Banten, Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama, dan Benteng Speelwijk. Semuanya bisa dituntaskan dalam setengah hari dengan biaya yang sangat minimal. Selamat berkunjung!

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Keraton Surosowan, Bekas Pusat Kesultanan Banten di Kawasan Banten Lama
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us