1. News
  2. Berita
  3. Kisah La Tungke dan Burung Pipit, Cerita Rakyat dari Sulawesi Selatan

Kisah La Tungke dan Burung Pipit, Cerita Rakyat dari Sulawesi Selatan

kisah-la-tungke-dan-burung-pipit,-cerita-rakyat-dari-sulawesi-selatan
Kisah La Tungke dan Burung Pipit, Cerita Rakyat dari Sulawesi Selatan

Kisah La Tungke dan Burung Pipit, Cerita Rakyat dari Sulawesi Selatan | Magnific AI


Kisah La Tungke dan Burung Pipit adalah salah satu cerita rakyat dari Sulawesi Selatan. Cerita rakyat ini berkisah tentang seorang pemuda baik hati yang mengakui kesalahan yang sudah dia perbuat pada gerombolan burung pipit.

Berkat perilakunya itu, pemuda ini mendapatkan ganjaran di kemudian hari. Bagaimana kisah lengkap dari cerita rakyat Sulawesi Selatan tersebut?

Kisah La Tungke dan Burung Pipit, Cerita Rakyat dari Sulawesi Selatan

Dikutip GNFI dari buku Jemmain yang berjudul Cerita Rakyat Bugis, alkisah pada zaman dahulu hiduplah sebuah keluarga petani. Keluarga ini memiliki seorang anak yang bernama La Tungke.

Setiap hari La Tungke membantu ayahnya bekerja di sawah. Dia melakukan apa saja yang diperintahkan oleh sang ayah dengan sepenuh hati.

Setelah melewati masa tanam, akhirnya musim panen pun tiba. Padi-padi yang ada di sawah pun mulai menguning.

Ayah La Tungke kemudian memberikan tugas khusus untuknya. La Tungke diperintahkan untuk menjaga sawah agar padi-padinya tidak dimakan oleh burung pipit.

La Tungke tentu menyanggupi perintah dari sang ayah. Dirinya pun mempersiapkan semua keperluan untuk berjaga di sawah.

Selama di sawah, La Tungke berjaga di pondok yang ada di sana. Jika dia melihat gerombolan burung pipit datang, maka La Tungke akan langsung berteriak mengusirnya.

La Tungke juga memasang beberapa orang-orangan sawah di sana. Dengan demikian, dia bisa menggerakkan orang-orangan sawah tersebut dari pondoknya untuk mengusir burung pipit.

Saat asik bermain di pondoknya, La Tungke tiba-tiba melihat segerombolan burung pipit. Dia pun berteriak sambil menghardik burung pipit tersebut.

Gerombolan burung pipit ini langsung terbang saat itu juga. La Tungke merasa senang karena berhasil menjalankan tugasnya.

Namun beberapa saat kemudian, gerombolan burung pipit ini kembali tiba. Semua padi yang ada di sawah La Tungke habis tak bersisa.

La Tungke menjadi panik melihat hal tersebut. Dia membayangkan sang ayah akan marah besar padanya.

Benar saja, saat melaporkan kejadian ini, sang ayah menjadi naik pitam. Bahkan dia mengusir La Tungke dan memintanya bertanggung jawab untuk mengembalikan padi-padi tersebut.

La Tungke akhirnya berjalan seorang diri keluar dari rumahnya. Setelah berjalan cukup jauh, sampailah dia di sebuah rumah tua yang ada di tengah hutan.

Sesampainya di sana, La Tungke disambut oleh orang tua penghuni rumah tersebut. Dia dipersilahkan untuk beristirahat di sana sebelum melanjutkan perjalanan.

La Tungke pun menceritakan apa yang sudah terjadi pada dirinya. Setelah mendengarkan cerita La Tungke, orang tua itu berkata jika dirinya mesti meminta maaf pada raja burung pipit.

Perkataannya yang menghardik burung pipit sebelumnya menjadi penyebab masalah tersebut bisa terjadi. La Tungke pun sadar atas kesalahan yang sudah dia perbuat sebelumnya.

Orang tua itu kemudian menunjukkan kediaman raja burung pipit. Keesokan harinya, La Tungke melanjutkan perjalanan menuju tempat tersebut.

Beberapa hari berlalu, sampailah La Tungke di kediaman raja burung pipit. Di sana La Tungke langsung meminta maaf atas kesalahan yang sudah dia perbuat sebelumnya.

Melihat ketulusan hati La Tungke, raja burung pipit pun memaafkan kesalahan yang sudah dia perbuat. Namun raja burung pipit berkata jika tidak bisa mengembalikan padi yang sudah dimakan oleh rakyatnya.

Sebagai gantinya, La Tungke dipersilahkan memilih salah satu kuda milik raja burung pipit. Dirinya bisa mengendarai kuda itu untuk kembali ke kampung halamannya.

La Tungke akhirnya memilih salah satu kuda milik burung raja pipit. Sebelum kembali ke rumahnya, raja burung pipit menitipkan sebuah pesan padanya.

Raja burung pipit berpesan jika La Tungke mesti mengumpulkan semua kotoran kuda tersebut sepanjang perjalanan. Raja burung pipit berkata jika kotoran tersebut bisa memberikan manfaat untuk La Tungke nantinya.

La Tungke pun menjaga dengan baik pesan dari raja burung pipit tersebut. Sepanjang perjalanan dia mengumpulkan semua kotoran kuda itu di dalam sarung miliknya.

Setelah melewati beberapa hari perjalanan, sampailah La Tungke di rumahnya. Dia meminta maaf pada sang ayah tidak bisa membawa kembali padi-padi yang dimakan oleh burung pipit.

Namun dia mendapatkan satu ekor kuda sebagai gantinya. Melihat keteguhan hati sang anak, ayahnya pun memaafkan kesalahannya dan menyuruh La Tungke beristirahat.

La Tungke pun meletakkan sarung berisi kotoran kuda di bawah kolong rumah. Setelah itu, dia masuk ke rumah dan beristirahat.

Keesokan harinya, La Tungke berniat untuk mengambil sarungnya yang digunakan untuk membungkus kotoran kuda. Namun alangkah terkejutnya La Tungke ketika membuka bungkusan tersebut.

Kotoran kuda yang dia kumpulkan tiba-tiba berubah menjadi bongkahan emas. Sejak saat itu, La Tungke dan keluarganya menjadi hidup kaya raya berkat harta yang dia dapatkan dari raja burung pipit.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Kisah La Tungke dan Burung Pipit, Cerita Rakyat dari Sulawesi Selatan
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us