Jakarta (ANTARA) – Komite Olimpiade Indonesia (KOI/NOC Indonesia) menyebut kemandirian organisasi olahraga menjadi salah satu syarat penting bagi cabang olahraga nasional untuk mengejar prestasi dunia.
Komite Eksekutif KOI, Muhammad Akbar Nasution, mengatakan organisasi olahraga tidak dapat lagi hanya bergantung pada dukungan pemerintah, tetapi perlu membangun tata kelola profesional, sumber pendanaan yang berkelanjutan, serta kemitraan dengan berbagai pihak.
“Independensi adalah kunci kemajuan olahraga. Menjadi pemimpin organisasi olahraga itu ada konsekuensinya. Tidak bisa hanya berharap pada bantuan pemerintah, tetapi juga harus mampu membangun sumber pendanaan yang sehat, kreatif, dan berkelanjutan,” kata Akbar dalam keterangan resmi NOC Indonesia yang diterima di Jakarta, Rabu.
Akbar mengatakan cabang olahraga juga perlu lebih selektif dan kritis dalam memilih figur pemimpin organisasi. Menurut dia, pemimpin cabang olahraga harus memiliki komitmen untuk mencari atlet, pelatih, serta membangun sumber pendanaan yang baik.
Baca juga: KOI segera temui Kemenkeu bahas dampak efisiensi dalam olahraga
Baca juga: KOI: Sinergi lintas sektor penting untuk pembiayaan olahraga
“Termasuk juga kami mengimbau kepada cabang olahraga untuk kritis dalam mencari figur-figur yang apabila memimpin tidak bisa lepas dari tanggung jawabnya untuk terus mencari atlet, pelatih dan sumber pendanaan yang baik,” ujar Olympian Indonesia dari cabang olahraga renang itu.
Pernyataan tersebut disampaikan seiring momentum transformasi olahraga nasional melalui Peraturan Menteri Pemuda dan Olahraga Nomor 8 Tahun 2026 tentang Pembinaan dan Pengembangan Olahraga Prestasi.
Regulasi tersebut menekankan penguatan kelembagaan olahraga, tata kelola modern, efisiensi sistem, serta pembangunan ekosistem olahraga yang berkelanjutan.
Akbar menilai aturan itu harus menjadi dorongan bagi cabang olahraga untuk memperkuat daya tahan organisasi, terutama dalam menghadapi persaingan olahraga dunia yang semakin cepat dan kompetitif.
“Permenpora ini harus dimaknai sebagai momentum memperkuat sistem olahraga nasional. Artinya, cabang olahraga juga harus mulai membangun daya tahan organisasinya sendiri. Karena olahraga dunia bergerak sangat cepat dan kompetitif,” ujar Akbar.
Sebagai bagian dari Gerakan Olimpiade dunia, NOC Indonesia menjalankan tugas dan fungsi berdasarkan Olympic Charter yang menjunjung tinggi prinsip independensi organisasi olahraga dari intervensi politik maupun kepentingan lain di luar olahraga.
NOC Indonesia juga mendorong cabang olahraga nasional untuk tidak hanya fokus pada pembinaan atlet, tetapi juga memperkuat organisasi secara manajerial dan finansial.
Akbar mengatakan prestasi atlet tidak dapat dilepaskan dari kualitas organisasi yang menaunginya. Menurut dia, atlet dan pelatih membutuhkan sistem yang stabil agar program pembinaan dapat berjalan secara konsisten.
“Kalau ingin prestasi dunia, maka organisasinya juga harus berstandar dunia. Atlet membutuhkan sistem yang stabil. Pelatih membutuhkan kepastian program. Dan itu tidak mungkin tercapai kalau organisasi masih bergantung pada satu sumber pendanaan,” kata Akbar.
Dia menambahkan pengabdian dalam olahraga harus tetap dibangun dengan profesionalisme dan visi jangka panjang, bukan sekadar bergantung pada bantuan.
“Olahraga itu tentang Merah Putih, tentang passion, tentang pengabdian. Tetapi pengabdian juga harus dibangun dengan profesionalisme. Pemimpin olahraga harus siap mencari solusi, mencari sumber pendanaan, membangun kemitraan, dan memastikan pembinaan atlet terus berjalan,” kata Akbar.
NOC Indonesia meyakini penguatan independensi organisasi olahraga menjadi faktor penting untuk meningkatkan daya saing Indonesia menuju agenda besar olahraga internasional, termasuk Asian Games 2026 di Aichi-Nagoya, Jepang, dan Olimpiade 2028 di Los Angeles, Amerika Serikat.
Baca juga: Padel dan Cheerleaders resmi jadi anggota KOI
Baca juga: KOI sebut efisiensi tantangan meraih prestasi Asian Games
Pewarta: Muhammad Ramdan
Editor: Michael Teguh Adiputra Siahaan
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.