Saya kira semua tenaga pendidik selalu mengalami dilema ketika memberikan nilai. Entah itu guru, atau bahkan dosen. Saya juga demikian, sebagai dosen muda, saya selalu tidak tenang kalau memberi nilai yang sangat amat di bawah standar kelulusan.
Bagi dosen-dosen berhati baja, fase ini mungkin biasa saja. Tinggal klik-klik, masukkan angka dari Unggulselesai. Tapi, bagi klan dosen nggak enakan, fase ini adalah medan pertempuran batin yang menguras energi spiritual.
Penyakit sungkan ini bak tumor jinak yang pelan-lambat menggerogoti ketegasan akademik kami. Dan, celakanya, mahasiswa pemalas memiliki radar yang sangat sensitif untuk mendeteksi keberadaan dosen jenis ini.
Teror masa depan dan drama serba kasihan
Saya adalah hasil dari mahasiswa yang sebenarnya biasa saja di kelas tapi lumayan sering mendapat nilai A. Dan, jujur saja saya sangat berterima kasih atas nilai tersebut.
Dari sana ketika ingin memberikan nilai, saya selalu ingat jika mereka juga punya masa depan. Dan, jika diberikan nilai kurang baik, takutnya masa depan mahasiswa jadi terancam.
Sebagai dosen saya selalu kepikiran, kalau anak ini saya kasih nilai E, dia harus mengulang tahun depan. Sedangkan UKT sekarang mahal. Kasihan orang tuanya yang sudah kesulitan membiayai kuliahnya. Begitulah kontemplasi yang saya hadapi.
Belum lagi kalau mahasiswa tersebut ternyata penerima beasiswa KIP-Kuliah. Memberi mereka nilai D atau E sama saja dengan memutus rantai subsidi pendidikan mereka secara sepihak.
Di sisi lain, jika menanyakan penyebab nilai dan alasan kenapa tak kunjung mengirimkan tugas, mereka gercep sekali membuat sebuah paragraf panjang dan alasan yang macam-macam. Mulai dari laptop yang ujug-ujug meledak saat mau mengirim tugas, sampai kakeknya meninggal (meski sebenarnya meninggalnya sudah bertahun-tahun lalu).
Dilema keadilan sosial bagi seluruh mahasiswa yang rajin
Di sudut hati yang lain, akal sehat saya berteriak kencang. Bagaimana mungkin saya sebagai dosen menyamakan nilai anak yang tidak pernah masuk ini dengan mahasiswa di barisan depan yang selalu datang 15 menit sebelum kelas dimulai. Mahasiswa yang bukunya penuh coretan stabilo warna-warni dan yang selalu menyimak penjelasan saya dengan mata berbinar-binar?
Jelas itu bukan sekadar tidak adil. Itu adalah penistaan terhadap kerja keras. Maka, setelah perang batin yang melelahkan dan beberapa kali menghela napas panjang, saya biasanya mengambil jalan tengah, sebuah jalan kompromi. Saya beri mahasiswa-mahasiswa yang tak melakukan ini dengan nilai C atau C+. Batas aman agar dia tidak perlu mengulang kelas saya semester depan. Selesai, kan? Harusnya masalah beres di situ, tapi ternyata tidak.
Sayangnya, kenyataan di lapangan tidak pernah seindah teori itu. Alih-alih bersyukur karena diselamatkan dari jurang ketidaklulusan, mahasiswa tipe ini sering kali malah ngelunjak. Selang beberapa menit setelah nilai C itu muncul di portal mereka, ponsel saya langsung bergetar.
“Pak, mohon maaf, kok nilai saya C, ya? Apa bisa dikatrol”
Membaca pesan seperti itu rasanya ada rasa dongkol yang merayap cepat dari ujung kaki sampai ubun-ubun. Saya rasanya ingin membalas pesan itu dengan kalimat, “Gundulmu!” Tapi, tentu saja saya urungkan. Alhasil, ketikan saya di WhatsApp berakhir menjadi sangat diplomatis antara dosen dan mahasiswa.
Pelajaran dari bangku dosen
Pada akhirnya, saya sadar bahwa bersikap “terlalu baik” di dunia akademis kadang justru mendidik mahasiswa menjadi generasi yang manja dan menganggap remeh sebuah proses. Mereka belajar bahwa konsekuensi dari kemalasan bisa dinegosiasikan lewat mengobrol WhatsApp tengah malam dengan bumbu cerita kasihan.
Satu hal yang saya pelajari, menjadi dosen baik ternyata bukan tentang bagaimana kita selalu menyenangkan semua mahasiswa agar mendapatkan ulasan bintang lima di akhir semester.
Menjadi dosen yang baik adalah tentang bagaimana kita tega meletakkan cermin di depan wajah mahasiswa kita agar mereka tahu bahwa di dunia nyata nanti, tidak ada tombol “katrol nilai” ketika mereka gagal memenuhi tanggung jawab dalam pekerjaan.
Penulis: M. Afiqul Adib
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Chat Aneh Mahasiswa ke Dosen Muda, Tolong Jangan Dibiasakan.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini dari.
Terakhir diperbarui pada 15 Juli 2026 oleh