Legenda Asal Usul Danau Rayo di Musi Rawas Utara, Cerita Rakyat dari Sumatra Selatan | Wikimedia Commons/JovanSR
Danau Rayo adalah salah satu objek wisata yang ada di Desa Sungai Jernih, Kecamatan Rupit, Kabupaten Musi Rawas Utara, Sumatra Selatan. Konon ada sebuah cerita rakyat dari Sumatra Selatan yang mengisahkan tentang asal usul Danau Rayo tersebut.
Bagaimana kisah dari asal usul Danau Rayo itu? Simak cerita rakyat dari Sumatra Selatan ini dalam artikel berikut.
Legenda Asal Usul Danau Rayo di Musi Rawas Utara, Cerita Rakyat dari Sumatra Selatan
Dinukil dari laman Portal BPSDM Provinsi Jambi, alkisah pada zaman dahulu hiduplah seorang pemuda yang tampan dan rupawan. Pemuda tersebut bernama Bujang Kurap.
Nama yang dia miliki sebenarnya berasal dari bentuk pemuda tersebut di masa lalu. Sebelum menjadi pemuda yang tampan rupawan, seluruh fisiknya dulunya dipenuhi oleh penyakit kulit, yaitu kurap.
Kondisi fisik ini membuat dirinya memiliki paras yang buruk rupa. Bahkan tampilan fisik pemuda tersebut cenderung menjijikkan.
Hal ini membuat masyarakat banyak mengucilkan Bujang Kurap. Meskipun demikian, Bujang Kurap tidak pernah berkecil hati.
Dirinya tetap bertekad untuk menjadi orang yang baik hati. Dirinya kemudian pergi berkelana mencari guru yang bisa mengobati penyakitnya.
Singkat cerita, Bujang Kurap berhasil menemui guru yang tepat. Penyakit kurap yang dia derita juga berhasil disembuhkan.
Setelah terlepas dari penyakitnya, Bujang Kurap pamit pada sang guru. Bujang Kurap yang kini sudah gagah rupawan kemudian pergi mengembara mengembangkan ilmu yang dia dapatkan.
Dalam perjalanannya, Bujang Kurap pernah mendatangi daerah Karang Panggung Lamo. Konon daerah ini merupakan cikal bakal dari Desa Sungai Jernih yang saat ini berada di Musi Rawas Utara, Sumatra Selatan.
Di sana Bujang Kurap bertemu dengan seorang perempuan tua. Bujang Kurap sehari-hari membantu aktivitas perempuan tua itu.
Akhirnya Bujang Kurap pun diangkat menjadi anak oleh perempuan tua yang baik hati tersebut. Bujang Kurap pun berterima kasih dan membantu perempuan tua itu dengan segenap hati.
Kehadiran pemuda tampan ini tentu menggegerkan masyarakat yang ada di daerah tersebut. Banyak anak gadis yang tertarik dengan ketampanan Bujang Kurap.
Mereka mencoba mendekati Bujang Kurap dengan berbagai cara. Bahkan para gadis ini saling cemburu satu sama lain, walau Bujang Kurap tidak pernah memilih seseorang pun di antara mereka.
Beberapa waktu berlalu, Bujang Kurap merasa tidak nyaman dengan situasi yang dia alami. Berbekal ilmu dan kesaktian yang dia miliki, Bujang Kurap mengembalikan wujudnya seperti sedia kala.
Bujang Kurap yang awalnya tampan rupawan berubah menjadi pemuda yang dipenuhi penyakit kulit. Perubahan ini ternyata juga memengaruhi reaksi masyarakat terhadap dirinya.
Masyarakat yang pada awalnya menghormati Bujang Kurap kini justru mencibirnya. Tidak ada lagi anak gadis yang berusaha mendekatinya.
Berbagai hinaan diterima oleh Bujang Kurap. Puncaknya terjadi pada saat ada pesta pernikahan yang diselenggarakan di daerah tersebut.
Bujang Kurap hadir ke pesta pernikahan tersebut dengan niat baik. Namun bukannya sambutan, dirinya justru diusir dengan kasar oleh tuan rumah.
Alhasil Bujang Kurap pergi meninggalkan pesta itu. Sebelum pergi, Bujang Kurap menancapkan tujuh batang lidi di depan pesta.
Dirinya menantang masyarakat untuk bisa mencabut lidi itu. Meskipun demikian, tidak ada seorangpun yang berhasil mencabut lidi itu.
Akhirnya Bujang Kurap kembali mencabut lidi-lidi itu. Saat lidi terakhir tercabut, tiba-tiba muncul air yang mengalir dengan derasnya.
Air ini terus mengalir hingga menenggelamkan daerah tersebut. Hanya Bujang Kurap dan ibu angkatnya yang selamat dari musibah tersebut.
Konon peristiwa inilah yang menjadi cikal bakal dari Danau Rayo yang bisa Kawan kunjungi hingga sekarang.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News