Legenda Asal Usul Padi Pulut, Cerita Rakyat dari Sumatera Utara
Ada sebuah cerita rakyat dari Sumatera Utara yang menceritakan tentang legenda asal usul padi pulut. Konon padi pulut ini awalnya tercipta dari jelmaan gadis sebagai bentuk ungkapan terima kasih dan balas budi atas sebuah kebaikan.
Simak kisah dari legenda asal usul padi pulut ini dalam artikel berikut.
Legenda Asal Usul Padi Pulut, Cerita Rakyat dari Sumatera Utara
Dinukil dari buku Asal Usul: Bunga Rampai Cerita Rakyat Sumatera Utara, alkisah pada zaman dahulu ada sebuah negeri di daerah Dairi. Negeri tersebut bernama Sikice-kice.
Negeri ini dulunya dibentuk oleh seorang datu atau dukun yang sakti. Kesaktian datu ini terkenal hingga seantero negeri.
Meskipun demikian, datu tersebut tidak pernah sombong dengan kemampuan yang dia miliki. Datu tersebut selalu belajar dan menambah ilmu yang dimilikinya.
Konon Negeri Sikice-kice ini dulunya tercipta juga berkat kemampuan datu tersebut. Dulunya datu ini pergi ke sebuah bukit datar yang dikelilingi sumber air jernih.
Di tengah bukit itu tumbuh sebatang pohon simarmanik. Di bawah pohon inilah datu tersebut mengadakan upacara untuk menyampaikan hajatnya pada Sang Pencipta.
Dalam upacara itu, sang datu meminta agar Tuhan memberikan sebuah negeri di atas bukit tersebut. Tiba-tiba terdengar suara gaib yang menjawab permintaan datu tersebut.
Suara gaib ini berkata jika nanti akan ada sebuah negeri yang dihuni banyak orang di sana. Namun sayang, saat mencapai puncak kejayaannya, orang-orang yang ada di sana akan lupa diri dan menjadi sombong.
Sang datu terpana mendengarkan ucapan suara gaib tersebut. Setelah upacara selesai dilakukan, sang datu kemudian menyampaikan kabar jika akan ada sebuah negeri di atas bukit tersebut.
Negeri ini akan menjadi sangat maju nantinya. Negeri inilah yang menjadi cikal bakal Negeri Sikice-kice nantinya.
Orang-orang yang mendengarkan hal ini langsung berbondong-bondong ke sana. Mereka tidak mendengarkan lanjutan ucapan sang datu yang berisi peringatan di masa yang akan datang.
Benar saja, dalam waktu singkat Negeri Sikice-kice berubah menjadi daerah yang maju. Masyarakatnya pun hidup dengan makmur.
Suatu hari, datang sebuah keluarga kecil ke negeri itu. Keluarga ini hidup miskin dan berkekurangan.
Keluarga ini memiliki seorang anak laki-laki yang bernama Olih. Meskipun hidup miskin, wajah ayah Olih cukup tampan dan rupawan.
Hal ini membuat banyak anak gadis di Negeri Sikice-kice tertarik dengannya. Akhirnya sang ayah justru menikah lagi dengan seorang gadis kaya dan meninggalkan Olih beserta ibunya seorang diri.
Ramalan yang didapatkan sang datu dulunya akhirnya menjadi kenyataan. Masyarakat yang ada di sana makin pongah dan lupa dengan asal usulnya.
Beberapa tahun kemudian, musibah akhirnya menimpa Negeri Sikice-kice. Musim paceklik panjang menimpa negeri tersebut.
Pada suatu hari, datanglah seorang kakek tua ke sana. Dia meminta sedikit bantuan agar bisa mendapatkan makanan di Negeri Sikice-kice.
Namun tidak ada seorangpun penduduk yang mau menjamunya. Akhirnya kakek tua ini pergi ke sebuah ladang di pinggiran desa yang menjadi tempat tinggal Olih beserta ibunya.
Kakek tua ini dijamu dengan baik oleh Olih dan ibunya. Kakek tua ini menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam pada keluarga kecil itu.
Beberapa saat kemudian, Negeri Sikice-kice kembali didatangi oleh tujuh orang gadis. Kedatangan mereka juga sama untuk mendapatkan bekal makanan di tengah perjalanan.
Sama seperti sebelumnya, tidak ada seorangpun masyarakat yang mau menjamu gadis-gadis tersebut. Akhirnya ketujuh gadis ini pergi ke ladang tempat Olih dan ibunya tinggal.
Sang ibu kembali menjamu ketujuh gadis ini dengan makanan sederhana, yakni umbi-umbian yang dicampur beras. Meskipun demikian, ketujuh gadis ini menikmati sajian tersebut.
Setelah itu, ketujuh gadis ini minta izin untuk beristirahat. Mereka berpesan agar selimut yang digunakan tidak dibuka hingga bangun nantinya.
Legenda Roh Fumuripitsy Sang Pengukir Suku Asmat, Cerita Rakyat dari Papua
Tujuh hari berlalu, ketujuh gadis ini masih juga belum bangun. Olih dan ibunya yang penasaran kemudian membuka selimut tersebut.
Alangkah terkejutnya sang ibu karena hanya menemukan satu orang gadis saja yang tersisa. Gadis ini tidur di antara tumbuhan padi yang ada di sekitarnya.
Tidak lama kemudian, gadis itu terbangun. Dia berkata jika sang ibu tidak perlu takut melihatnya.
Gadis ini bercerita jika kakek tua yang dulu dibantu oleh Olih dan ibunya merupakan ayah mereka. Kedatangan mereka ini sebagai bentuk balas budi atas jasa Olih dan ibunya itu.
Konon tumbuhan padi jelmaan para gadis inilah yang menjadi asal usul padi pulut. Sejak saat itu, Olih menikahi gadis ini dan hidup bahagia bersama sang ibu di sana.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News