Manggalawaditro. (Foto: YouTube/Good News From Indonesia)
Suara-suara merdu yang keluar dari instrumen musik biasa terjadi di pagelaran musik mana saja termasuk orkestra. Di pagelaran orkestra sendiri tidak hanya pemain alat musik yang berperan, tetapi juga ada konduktor atau pengaba sebagai pemimpin melalui ayunan tangannya.
Salah satu sosok yang menjalankan peran konduktor dewasa ini ialah Manggalawaditro. Pemilik nama asli Elgar Putrandhra ini dikenal sebagai konduktor dalam Yogyakarta Royal Orchestra (YRO).
YRO sendiri diresmikan Sri Sultan Hamengkubuwono pada 21 Juni 2021 lalu. Namun, eksistensi sesungguhnya sudah ada sejak era kolonial Belanda, yakni pada 1924 dengan nama Kraton Orcest Djogja (KOD). Demi memunculkan daya tarik Yogya dari lingkup kraton, orkestra ini pun dihidupkan kembali setelah vakum kurang lebih selama 70 tahun.
Peran Manggalawaditro sebagai pengaba YRO sangatlah krusial. Ia tercatat telah ikut serta dalam sejumlah pertunjukan, termasuk konser kolaborasi bersama Swa Bhuwana Paksa Orchestra pada 2024 serta lawatan konser ke Kyoto, Jepang, pada 2025. Kiprahnya memperlihatkan bagaimana musik orkestra dapat menjadi ruang pertemuan antara tradisi, pendidikan musik, dan diplomasi kebudayaan.
Pemain Biola yang Menjadi Pengaba
Manggalawaditro sudah lekat dengan dunia musik sejak lama. Jika dilihat secara akademik, ia memiliki kredibilitas karena memegang predikat sarjana seni setelah lulus dari jurusan Seni Musik Institut Senin Indonesia (ISI) Yogyakarta pada 2018.
Awal mula bergabungnya Manggalawaditro sendiri baru terjadi pada 2021. Namun, ia tidak langsung menjadi pengaba, melainkan memulainya sebagai pemain biola.
“Jadi saya tergabung sebagai pemain biola, lalu terpilih jadi konser masternya menjadi konduktor itu 2024,” ucap Manggalawaditro kepada Good News From Indonesia dalam segmen GoodTalk.
Bergabungnya Manggalawditro ke YRO otomatis membuatnya mendapat status sebagai pelayan Keraton Yogyakarta atau biasa disebut abdi dalem. Dengan status itu pun membuatnya tersadar akan tanggung jawab untuk menyajikan kualitas lewat musik supaya nama Yogyakarta mewangi di depan banyak orang.
“Sangat senang sih dan menjadi kehormatan juga karena kita bisa meneruskan perjuangan musisi-musisi Yogya sebelumnya yang dulu abdi dalem juga. Terus beban, mungkin bukan beban yang kayak gimana ya, tapi lebih ke tanggung jawab kita sebagai abdi dalem setelah tergabung di IRO ini. Abdi dalem untuk menjaga kualitas dan nama baik Yogyakarta Royal Orchestra,” kata Manggalawaditro lagi.
Riset Dulu Sebelum Tampil
Orkestra seperti yang dilakukan YRO tidak bisa sembarang. Mereka tidak hanya harus menampilkan keeksotisan, tetapi juga mesti menonjolkan esensi dari tiap-tiap lantunan lagu yang dimainkan kepada pendengarnya.
Demi menampilkan lagu yang penuh makna Manggalawaditro pun harus meriset dulu satu per satu. Alasannya supaya corak kejawaan bisa selaras dengan tiap komponen musik yang dimainkan para pemain.
“Ada karya baru namanya Konserto Kidung Pamudji. Itu konserto baru yang diciptakan baru untuk YRO. Ini terinspirasi dari Kidung-kidung Pamudji kayak Lingsir Wengi. Cara menyanyikannya gimana? Saya harus riset dulu kayak gimana,” ucap Manggalawaditro.
Banyaknya pakem-pakem yang harus dituruti membuat YRO membutuhkan waktu untuk selaras dan senada dalam satu irama yang sama. Menurut Manggalawaditro, perlu hitungan tahun agar semua komponen bisa menyatu dan tampil dengan kemampuan terbaik di hari pagelaran.
“Jujur aja baru menemukan klik dengan kolaborasi dengan cokekan itu sekitar 1-2 tahunan. Jadi tuh cukup lama penjajakannya. Waktu itu hampir benar-benar tidak bisa, kayak stressful gitu kita latihan hampir seminggu tidak menemukan kliknya tuh pernah,” ujarnya lagi.
Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dimas Wahyu Indrajaya lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dimas Wahyu Indrajaya.
Tim Editor