1. News
  2. Adventure
  3. Mapala Haram Wisuda!

Mapala Haram Wisuda!

mapala-haram-wisuda!
Mapala Haram Wisuda!

Caption foto : Ketika tali toga telah digeser, sejak saat itulah ruang gerak seorang anggota Mapala di dalam kampus mulai terbatas. (WARTAPALA INDONESIA / Mapala STI Universitas Ichsan Gorontalo Utara).

Oleh : Nurrahmat Hidayat Mokambu
Anggota Luar Biasa Mapala STI Universitas Ichsan Gorontalo Utara.

Editor Wartapala Indonesia.  

Wartapalaindonesia.com, PERSPEKTIF – Kegagalan seorang kader Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) adalah ketika ia menamatkan studi tanpa melahirkan regenerasi yang lebih hebat dari dirinya.

Sebab, ketika tali toga telah digeser ke arah kanan oleh pimpinan kampus, sejak saat itulah ruang gerak seorang anggota Mapala di dalam kampus mulai terbatas.

Betapa tidak, tugas dan fungsi kita saat menjadi mahasiswa, sangat jauh berbeda dengan tugas dan fungsi kita yang sudah menjadi alumni ketika berkecimpung di organisasi Mapala.

Memang, dalam organisasi Mapala, tidak ada yang namanya alumni Mapala. Sebab, status keanggotannya seumur hidup. Namun, secara hierarki, tugas dasar seorang anggota Mapala yang telah menjadi alumni dari sebuah perguruan tinggi lebih menitik beratkan pada controlling.

Sebab, untuk melakukan kordinasi ataupun menjabarkan program kerja organisasi Mapala dan lain sebagainya, kepada birokrasi kampus sudah bukan wewenang kita lagi ketika sudah diwisuda.

Hal inilah yang menjadi problematika ketika seorang anggota Mapala telah diwisuda. Apakah para regenerasi yang ditinggalkan sudah berkompeten? Jika sudah berkompeten, maka tidak ada alasan lagi untuk menunda wisuda.

Namun, ketika regenerasi yang ada di organisasi belum berkompeten, maka haram untuk anggota Mapala menyelesaikan studinya di kampus.

Hal inilah yang tentunya menjadi titik fokus seorang anggota Mapala agar ke depan roda organisasi yang telah kita geluti selama menempuh perkuliahan di kampus tersebut terus berkesinambungan.

Tentu ini menjadi sebuah tantangan berat bagi setiap anggota yang telah dilabeli kata “senior” di organisasi Mapala itu sendiri.

Bagaimana menjadikan setiap anggota yang masih berstatus sebagai mahasiswa bisa menjadi berkompeten dan leluasa dalam mengurusi organisasi di dunia kampus. Agar ke depan, setiap anggota tak hanya peka terhadap isu-isu lingkungan saja, melainkan mampu memecahkan masalah yang dihadapi. Baik permasalahan dari dalam organisasi maupun luar organisasi. Sebab, peran dari setiap anggota Mapala sangat menentukan eksistensi dari organisasi itu sendiri.

Untuk itu, pentingnya menanamkan rasa cinta terhadap organisasi Mapala, dan untuk apa kita berkecimpung di dunia kepecintaalaman.

Tak hanya itu saja, dalam menjadikan setiap anggota yang kompeten, tentunya harus menjadikan setiap anggota untuk melahirkan inovasi-inovasi terbaru agar nantinya organisasi Mapala tidak menjadi stagnan.

Sudah saatnya menuju Mapala 4.0 yang tidak hanya berkecimpung dengan alam liar, melainkan Mapala yang cakap akan kecanggihan digital. Salah satunya untuk mengkampanyekan berbagai macam dampak kerusakan bumi akibat ulah para oknum yang tidak bertanggung jawab.

Ketika hal itu telah diterapkan dengan baik, maka halal bagi setiap anggota Mapala untuk melangkah ke jenjang wisuda. Sebab, akan banyak tuntutan hidup yang akan dijalani, dan fungsi kita tinggal menjalankan fungsi kita sebagai mentor dan controlling dalam organisasi tersebut. (nhm)

Editor || Ahyar Stone, WI 21021 AB

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Mapala Haram Wisuda!
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us