Sebagai warga Lampung yang sebenarnya sudah muak tinggal di sini selama 23 tahun, saya senang membaca berbagai perspektif orang di media sosial mengenai provinsi ini beserta ibu kotanya.
Jujur, saya rada kaget ketika menemukan fakta bahwa banyak orang yang merasa betah tinggal di Bandar Lampung (Balam). Bahkan, banyak perantau yang sudah melanglang buana ke berbagai kota di Indonesia hingga tinggal di luar negeri, tetapi tetap saja menganggap kota ini sebagai tempat paling nyaman dan dinanti-nanti ketika pulang.
Terlepas dari keluhan abadi mengenai kerusakan jalan, minimnya layanan transportasi umum, tata kota yang semrawut, hingga rentetan kriminalitas, rupanya Balam menyimpan kesan dan daya tarik tersendiri bagi sebagian orang.
Kenyamanan ini pun bukan hanya dirasakan oleh warga lokal, melainkan juga pendatang yang sudah belasan tahun bermukim maupun hanya menetap dalam waktu singkat. Berdasarkan pengamatan saya, berikut alasan orang-orang betah tinggal di Bandar Lampung.
#1 Bisa menikmati ritme slow living di Bandar Lampung
Inilah alasan yang paling banyak saya jumpai di medsos. Banyak pendatang, terutama dari Jakarta, mengaku jatuh cinta dengan Bandar Lampung lantaran ritme hidupnya terasa lebih santai. Berbeda dengan budaya ibu kota yang serba grasah-grusuh, Balam masih memungkinkan warganya untuk beraktivitas tanpa merasa terus-menerus dikejar waktu.
Suasana kota ini tidak terlalu ramai sampai bikin stres, juga tidak terlampau sepi hingga terasa menjemukan. Sedang-sedang saja. Ada pula yang menilai kualitas udara di Balam masih cukup baik, lingkungannya nyaman untuk membesarkan anak, serta masyarakatnya relatif heterogen sehingga mudah beradaptasi. Setelah bertahun-tahun hidup di tengah macet dan polusi, Bandar Lampung seakan telaga yang selama ini mereka cari untuk menuntaskan dahaga.
Selain Balam, Kota Metro juga kerap disebut-sebut sebagai lokasi idaman untuk pensiun pada hari tua. Biaya hidup murah, lingkungannya asri dan tenteram, nuansanya menyerupai perdesaan, pun udaranya lebih segar ketimbang Bandar Lampung. Walaupun jujur, perihal ini saya nggak bisa berkomentar lantaran seumur hidup belum pernah ke Metro. Hiks.
#2 Pergi ke mana-mana jaraknya dekat dan tingkat kemacetannya masih bisa ditoleransi alias nggak bakal tua di jalan
Selain slow living, alasan ini juga kerap muncul dari warga Bandar Lampung. Jarak antarlokasi di kota ini relatif dekat. Berkaca dari pengalaman sendiri yang sejak TK hingga kuliah di Bandar Lampung melulu, saya cukup sepakat. Mau pergi ke mal, pasar tradisional, ataupun rumah sakit, rerata bisa ditempuh di bawah 30 menit. Mobilitas sehari-hari terasa cukup ringkas kendati rumah saya tidak berada di pusat kota.
Namun, kemudahan ini tentu lebih dirasakan oleh pemilik kendaraan pribadi. Bagi orang yang nggak punya kendaraan atau nggak bisa berkendara, mobilitas menjadi lebih terbatas dan ongkos harian pun lebih besar lantaran harus bergantung pada ojol dan taksi online.
Oleh karena itulah keberadaan transportasi umum yang layak, banyak, dan merata masih jadi urgensi apabila warganya ingin tiap kawasan di Bandar Lampung mudah dijangkau oleh siapa pun.
Banyak pula orang yang membandingkan kota ini dengan kota-kota besar yang kemacetannya lebih melelahkan ketimbang tujuan perjalanannya itu sendiri. Tinggal di Balam membuat waktu produktif nggak keburu habis hanya untuk berpindah tempat, alias warganya nggak bakal tua di jalan.
Kendati demikian, saya juga nggak bisa berpura-pura bilang bahwa Bandar Lampung bebas dari kemacetan. Pada jam-jam sibuk, beberapa ruas jalan padatnya ampun-ampunan. Ditambah lagi kondisi jalan yang sempit, penuh lubang, bergelombangdan sesekali harus berhadapan dengan banjir. Lengkap penderitaan.
Namun, kalau pembandingnya adalah Jabodetabek, saya masih bisa paham alasan banyak orang menganggap lalu lintas di Balam jauh lebih bersahabat.
BACA JUGA: 4 Hal yang Saya Rindukan dari Kota Bandar Lampung
#3 Makanan di Bandar Lampung enak-enak dan rasanya paling pas di lidah
Kalau alasan satu ini sih, rasanya nyaris selalu ada ketika orang membahas kampung halaman masing-masing. Wajar saja, lidah kita sudah telanjur akrab dengan cita rasa tempat kita dibesarkan. Namun, Balam juga nggak luput dari pujian para pendatang maupun pelancong yang mengaku langsung cocok dengan makanan di sini kendati baru kali pertama mencobanya.
Barangkali salah satu penyebabnya ialah heterogenitas penduduk Kota Bandar Lampung. Banyak transmigran dari berbagai daerah di Indonesia menetap di sini membawa serta cita rasa khas kampung halaman mereka. Pilihan kuliner pun menjadi sangat beragam. Di sisi lain, masakan khas Lampung seperti seruit dan gulai toboh juga kerap menjadi alasan para perantau ingin segera pulang.
Kekayaan kuliner di Balam pun makin lengkap dengan kemudahan warga memperoleh ikan laut segar. Berhubung dekat pesisir, Bandar Lampung mempunyai akses terhadap hasil tangkapan nelayan sehingga seafood berkualitas bukanlah barang langka. Warga Balam bisa berburu hasil laut segar di Gudang Lelang atau aneka ikan asin di Pulau Pasaran.
Yah, tetap nggak bisa dimungkiri bahwa urusan lidah memang subjektif. Ada yang langsung jatuh hati dengan cita rasa makanan di Balam, ada pula yang membutuhkan waktu lama untuk beradaptasi. Misalnya sambal rampai. Saya yang tumbuh besar di sini sih doyan-doyan saja, apalagi rampai hijau. Namun, nggak sedikit juga orang yang kurang menyukai tekstur, aroma, dan rasa khas dari sambal ini.
#4 Beragamnya objek wisata di Lampung, dari yang dekat dan mudah diakses hingga yang jauh minta ampun
Selain perkara kuliner, objek wisata juga menjadi salah satu alasan yang sering disebut ketika membahas kebetahan tinggal di Bandar Lampung. Sejujurnya, saya jarang sekali berekreasi kecuali pada saat outing class atau kebetulan diajak (dan dibayari) oleh saudara. Meskipun begitu, saya bisa memafhumi alasan ini. Rumah saya pun cukup dekat dengan beberapa destinasi populer, seperti Bukit Sakura (kendati belum pernah ke sini) dan Lembah Hijau yang jaraknya hanya tiga kilometer.
Kalau punya kendaraan pribadi atau dana lebih untuk menyewa kendaraan, pilihan destinasi wisata di Provinsi Lampung terbilang lengkap. Mulai dari pantai, perbukitan, hingga kawasan yang masih dipenuhi pepohonan ada semua. Bagi warga Balam yang tidak ingin bepergian terlalu jauh, banyak pantai di Kabupaten Pesawaran maupun Lampung Selatan yang masih bisa dijangkau dalam waktu sekitar satu jam dari ibu kota.
Potensi wisata di Lampung memang sangat besar. Tentunya, pemerintah daerah masih memiliki berbagai PR yang harus diurus dalam mengelola sektor wisata, mulai dari akses jalan menuju lokasi yang bikin istigfar hingga praktik pungutan liar. Terlepas dari segala kekurangannya, pilihan objek wisata di sini tetaplah beragam, dari yang terdekat sampai terjauh dari rumah masing-masing.
Yah, barangkali saya masih belum bisa ikut mengatakan bahwa Bandar Lampung adalah kota yang ideal untuk menetap. Namun, setelah membaca begitu banyak pengalaman dan perspektif orang lain mengenai Balam, saya perlahan mengerti alasan kota yang ingin segera saya tinggalkan ini justru menjadi tempat pulang yang paling dirindukan oleh banyak orang.
Penulis: Siti Atika Azzahrah
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Bandar Lampung Terbuat dari Flyover, Pulang, dan Pasangan
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini dari.
Terakhir diperbarui pada 4 Juli 2026 oleh