
Masyarakat di Jawa Timur, khususnya di Surabaya masih menjalankan tradisi yang diwariskan secara turun temurun. Tradisi yang bernama sepasar ini masih dilakukan ketika keluarga melaksanakan pernikahan.
Dimuat dari Radar Surabaya, tradisi yang mirip dengan ngunduh mantu ini sebenarnya sudah biasa dilakukan oleh masyarakat Jawa. Baik itu di Jawa Timur maupun Jawa Tengah, tradisi ini tetap dilestarikan.
“Biasanya setelah dilakukan akad nikah dan resepsi pernikahan, mempelai wanita akan diajak ke rumah mempelai pria untuk tinggal sementara maupun selamanya,” kata Pegiat sejarah Kota Surabaya Nur Setiawan.
Penyatuan dua keluarga
Nur Setiawan mengatakan ada beberapa filosofi dibalik tradisi ini yaitu penyatuan dua keluarga, purna dalam mengarungi masa lajang dan memasuki kehidupan baru yaitu biduk rumah tangga. Karena itu, jelasnya tradisi ini di Surabaya dinamakan sepasar.
Pria yang kerap disapa Wawan ini menjelaskan tradisi sini dilakukan setelah lima hari pernikahan. Mempelai wanita beserta suaminya akan pulang ke rumah orang tua si pria.
Pihak keluarga pria saat penyerahan mempelai akan melakukan resepsi mengundang keluarga, kerabat, tetangga maupun kawan dari sang mempelai pria untuk dilakukan pesta besar-besaran.
“Dalam proses ngunduh mantu itu, sang mertua dari mempelai wanita (orang tua mempelai pria) akan menerima dengan baik menantunya melalui ritual-ritual Jawa yang sakral,” ujarnya.
“Terkadang di beberapa daerah mempunyai cara yang berbeda serta unik menyesuaikan adat setempat, namun memiliki inti yang sama yakni ngunduh mantu,” pungkasnya.
Mempererat silaturahmi
Nyoto warga Desa Nglebur, Kecamatan Jiken, Kabupaten Blora menjelaskan ada manfaat dari tradisi ini. Tradisi sepasaran ini menjadi alat untuk mempererat tali silaturahmi.
“Banyak makna dan manfaat dalam tradisi sepasar ini, di antaranya adalah mempererat tali silaturahmi, memperkenalkan pasangan baru kepada kerabat dan keluarga dekat,” katanya yang dinukil dari RMOL.
Nyoto mengungkapkan ketika acara ini dilakukan terlihat momen kebersamaan antar dua keluarga. Apalagi bila masyarakat sekitar ikut turun untuk membantu acara tersebut.
“Rasa kebersamaan terasa begitu kental. Semangat membantu dan gotong-royong masyarakat ini ternyata masih dijumpai di zaman modern yang cenderung individual ini,” katanya.
“Mudah-mudahan semangat gotong-royong yang menjadi kekuatan utama pembangunan ini tidak mudah tergerus oleh ancaman budaya eksternal yang terus menggerogoti budaya luhur kita ini,” tambah Teguh, salah seorang peminat tradisi sepasaran manten Blora.
Sumber:
- Tradisi Sepasar Manten, Memperkenalkan Pasangan Baru Kepada Kerabat
- Sepasar, Tradisi Pernikahan yang Masih Lestari
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News
Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.
Tim Editor