Jakarta (ANTARA) – Pengurus Besar Tinju Indonesia (Perbati) menjadikan University Boxing League (UBL) Nasional 2026 di Jakarta pada 23 Mei sebagai ajang menjaring bibit-bibit petinju amatir potensial dari mahasiswa.
Sekretaris Jenderal Perbati Hengky Silatang menegaskan UBL membuka ruang luas bagi talenta muda dari seluruh Indonesia.
“Dari UBL ini kami harapkan muncul atlet yang bisa membawa Merah Putih. Kami tidak memilih berdasarkan latar belakang, yang penting potensial. Tidak ada batasan, seluruh Indonesia punya kesempatan,” ujar Hengky dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat.
Ia menambahkan, meski UBL berstatus ajang nasional, peluang atlet dalam menembus level internasional tetap terbuka melalui pembinaan lanjutan.
“Kalau memang ada potensi, tentu akan kami dorong ke level berikutnya, termasuk internasional,” katanya.
Wakil Ketua Umum Perbati Sultan Sapta mengatakan mahasiswa memiliki potensi besar untuk diproyeksikan menjadi atlet nasional.
“Kalau ada yang menonjol, sangat mungkin diproyeksikan menjadi atlet Indonesia. Tentu ada tahapan seperti seleksi kejuaraan nasional dan lainnya,” ujar Sultan.
Sementara itu, Presiden UBL Sandri Karamoy berharap ajang ini berkontribusi dalam pembinaan tinju Indonesia.
“Pada Juli ada agenda Asian Boxing U-19 dan U-23. Kami juga berharap dari sini ada yang bisa mewakili ke depannya,” kata Sandri.
Baca juga: Perbati kirim empat petinju unjuk gigi di Kejuaraan Asia U-19 dan U-22
Sandri mengungkapkan tantangan terbesar UBL adalah proses seleksi atlet dari berbagai daerah yang memiliki kualitas relatif merata.
“Kami mengumpulkan peserta dari enam kota besar seperti Bali, Banten, Yogyakarta, dan Semarang. Di beberapa daerah, jumlah partai cukup banyak, seperti di Yogyakarta dan Semarang yang mencapai sekitar 35 partai,” ujarnya.
Dari proses tersebut, lanjut dia, hanya atlet dengan poin tertinggi yang dipilih melaju ke tingkat nasional.
“Itu tantangan kami, karena hampir semua punya potensi yang sama. Tapi kami harus memilih yang terbaik berdasarkan poin,” katanya.
UBL Nasional 2026 dijadwalkan berlangsung pada 23 Mei sebagai puncak dari rangkaian UBL Season 1, setelah melalui roadshow di enam provinsi yang melibatkan lebih dari 60 universitas dan 280 mahasiswa.
Sebanyak 18 petinju terbaik akan bersaing memperebutkan sembilan sabuk juara nasional di berbagai kelas.
Menurut Sandri, UBL tidak hanya berhenti di level nasional karena telah disiapkan rencana jangka panjang untuk membawa petinju mahasiswa ke kancah internasional.
“Setelah nasional, kami akan melakukan roadshow di wilayah Jabodetabek, lalu diseleksi kembali untuk musim berikutnya. Dari situ, kami menargetkan satu atlet terbaik untuk dikirim ke ajang internasional,” ujarnya.
Ia menambahkan, kunci menembus level tersebut adalah konsisten bertanding, prestasi, dan menjunjung tinggi sportivitas serta disiplin.
UBL berencana memperluas jangkauan pada musim berikutnya dengan menyasar 14 provinsi agar ekosistem tinju mahasiswa lebih inklusif dan berkelanjutan.
Baca juga: Kemenpora terapkan skema round-robin seleknas tiga cabang olahraga
Pewarta: Muhammad Ramdan
Editor: Jafar M Sidik
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.