Ada pepatah “gantungkan cita-citamu setinggi langit”. Sebuah anjuran supaya kita berani bermimpi besar dan memiliki target tinggi. Namun, bayangkan bagaimana rasanya hidup dengan target tanpa batas seperti langit tanpa ujung.
Mobil yang sudah dilunasi dengan susah payah tiba-tiba terasa kurang mewah dibandingkan mobil baru tetangga. Ponsel yang saat dibeli terlihat canggih langsung terasa kuno begitu seri terbaru diluncurkan. Gaji yang kemarin membuat kita bersyukur, hari ini terasa tidak lagi mencukupi. Tidakkah pola pikir tanpa ada garis akhir seperti ini terasa melelahkan. Tidak hanya secara fisik, tetapi juga batin.
Berapa sering kita menjanjikan kebahagiaan pada diri kita sendiri pada masa depan. “Kalau lulus nanti, aku akan bahagia.” Setelah lulus kita berpikir, “Kalau nanti dapat pekerjaan dengan gaji besar, aku baru akan bahagia.” Setelah mendapatkan pekerjaan impian, kita mulai berpikir, “Senangnya kalau saya jadi atasan yang punya banyak anak buah.” Satu demi satu tonggak kehidupan berusaha kita raih. Namun, apakah rasa bahagia yang datang itu bertahan selama yang kita bayangkan?
Psikolog Tal Ben Shahar menyebut hal ini sebagai “arrival fallacy“, ilusi bahwa begitu kita tiba di suatu titik, kebahagiaan akan menetap selamanya. Kenyataannya, kita hanya senang sebentar, lalu mata kita sudah sibuk mencari capaian berikutnya. Kegembiraan lebih sering muncul dalam proses mengejar, bukan pada saat tiba.
Dua wajah ambisi
Apakah ini berarti kita tidak boleh memiliki ambisi dalam hidup, mimpi untuk meraih hal-hal besar, keinginan untuk selalu menjadi lebih baik lagi?
Berupaya untuk terus menjadi lebih dari kondisi saat ini yang dikendalikan oleh motivasi intrinsik, seperti menaklukkan tantangan, meningkatkan kemampuan, adalah keinginan yang tumbuh dari rasa aman, bukan rasa kurang. Bukan karena lari dari sesuatu, melainkan memang ingin terus tumbuh. Sementara ambisi yang dikejar rasa tidak cukup, kekhawatiran kalah dari yang lain membuatnya merasa tidak berarti, merupakan arrival fallacy yang tidak pernah selesai meskipun dari luar keduanya terlihat sama.
Bedanya baru terasa di titik tiba. Yang satu, begitu sampai, langsung berpikir untuk mencari puncak berikutnya, apalagi kalau ada pihak lain yang mempertanyakan apa target berikutnya. Sedangkan yang lain, berhenti sejenak untuk mensyukuri keberhasilannya, berterima kasih kepada semua pihak yang telah mendukungnya untuk mencapai titik itu.
Psikolog Dacher Keltner dan koleganya, lewat serangkaian studi (Cordaro dkk, 2024), menunjukkan, kondisi contentment ini bersifat tenang, bukan meletup-letup. Inti dari contentment adalah rasa completeness, keutuhan, perasaan bahwa apa yang ada sekarang sudah lengkap.
Penelitian yang sama menunjukkan rasa ini terkait erat dengan penerimaan diri tanpa syarat, bukan dengan validasi dari pencapaian eksternal. Ini bukan soal pasrah atau berhenti berusaha. Ia justru mengakui bahwa apa yang kita punya sekarang sudah cukup untuk membuat kita merasa utuh, terlepas dari apa yang masih ingin kita capai setelahnya.
Piring yang tidak pernah penuh
Ada satu kebiasaan sederhana dari Okinawa, Jepang, yang mengajarkan kebalikan dari pola tidak-pernah-cukup ini. Orang Okinawa memiliki kebiasaan mengucap “hara hachi bu” sebelum makan, pengingat untuk berhenti begitu perut terasa 80 persen kenyang, bukan penuh sepenuhnya.
Psikolog Susan Albers menjelaskan, lambung butuh sekitar 20 menit untuk mengirim sinyal kenyang ke otak. Ini berarti makan terlalu cepat, membuat kita terlambat menyadari rasa kekenyangan. Hara hachi bu mengajarkan untuk berhenti sebelum sinyal mengatakan penuh, dan justru di titik itulah tubuh merasa cukup, bukan berlebihan, bukan pula kurang.
Prinsip yang sama ternyata bisa kita pinjam untuk cara kita bekerja. Teori Flow yang dikembangkan psikolog Mihaly Csikszentmihalyi menunjukkan, kondisi paling produktif dan memuaskan justru muncul ketika tantangan yang kita hadapi seimbang dengan kemampuan kita, tidak terlalu mudah hingga membosankan, tidak terlalu berat hingga membuat kita menyerah.
Keseimbangan itulah yang membedakan eustress (tekanan yang mendorong pertumbuhan) dari distress (tekanan yang melumpuhkan), konsep yang dirumuskan psikolog Hans Selye. Menuntut diri memberi 100 persen penuh di setiap momen, yang sering disebut hustle culture, justru mendorong kita keluar dari zona flow menuju distress yang berujung kelelahan, bukan pencapaian yang bertahan lama.
Budaya kerja semacam ini menghargai kesibukan dan sikap “tidak pernah puas dengan hasil sebelumnya” sebagai tanda dedikasi, tanpa membedakan apakah dorongan itu datang dari rasa aman atau rasa cemas.
Mengejar kesempurnaan setiap hari melelahkan secara mental. Anehnya, prestasi tanpa cacat justru bisa menjadi tanda kita berhenti berkembang karena tidak ada ruang untuk mencoba hal baru yang berisiko gagal. Kita perlu menyisakan ruang, seperti menyisakan 20 persen ruang di lambung kita, agar tubuh dan pikiran memiliki kesempatan untuk pulih dan tumbuh.
Titik berhenti yang pas
Bagaimana kita menerapkan rasa cukup ini, tanpa harus merasa bersalah karena tidak mengejar yang “terbaik”?
Psikolog Herbert Simon membedakan dua gaya mengambil keputusan, yakni satisficer dan maximizer. Satisficer mengambil keputusan begitu kriterianya terpenuhi, bukan berarti standarnya rendah. Ia berhenti mencari dan merasa puas begitu menemukan yang cocok. Maximizer ingin memastikan pilihannya benar-benar yang terbaik dari semua kemungkinan sehingga terus memeriksa opsi lain, bahkan setelah menemukan sesuatu yang sebenarnya sudah baik.
Penulis Gretchen Rubin bercerita tentang dirinya sendiri, seorang satisficer di hampir semua hal. Ia hanya menelepon satu pelatih kebugaran berdasarkan rekomendasi teman dan hanya melakukan wawancara di enam kantor hukum, dibanding temannya yang mewawancarai 50 orang. Keduanya justru berakhir di kantor yang sama.
Psikolog Barry Schwartz, yang mengembangkan lebih jauh gagasan Simon, menunjukkan lewat risetnya bahwa maximizer menghabiskan jauh lebih banyak waktu dan energi untuk memutuskan, dan sering tetap cemas apakah pilihannya benar-benar terbaik. Sementara itu, satisficer cenderung lebih tenang dan lebih bahagia dengan pilihannya.
Rasa cukup bukan lawan dari ambisi. Ia justru fondasi yang membuat ambisi bisa bertahan lama, alih-alih membakar habis mereka. Jadi, apakah saya bersyukur menikmati pencapaian saya atau mata langsung mencari tonggak berikutnya tanpa sempat berhenti sama sekali? Kapan terakhir kali kita berhenti bukan karena kehabisan tenaga, melainkan memilih untuk berhenti pada titik yang pas? Apakah saya lebih sering menjadi maximizer atau satisficer dalam hidup saya?
Baca juga: Terhubung yang Sehat
HR CONSULTANT/KONSULTAN SDM

Eileen Rachman & Emilia Jakob
Character Building Assessment & Training EXPERD
EXPERD (EXecutive PERformance Development) merupakan konsultan pengembangan sumber daya manusia (SDM) terkemuka di Indonesia.