Caption foto: Sebanyak 20 mahasiswa dari berbagai provinsi di Indonesia belajar bersama di Sekolah Air Hujan Banyu Bening (WARTAPALAINDONESIA/AJ Purwanto)
Wartapalaindonesia.com, YOGYAKARTA – Kelas “Gerakan Sosial Transnasional” pada Selasa, 13 Agustus 2024, mengunjungi Sekolah Air Hujan Banyu Bening untuk mendapat pencerahan dan insight sekaligus provokasi berharga.
Kelas tersebut disambut langsung founder Komunitas Banyu Bening, Sri Wahyuningsih, Kepala Sekolah Air Hujan, Udin, serta sukarelawan yang ada di komunitas ini.
Bagi kelas “Gerakan Sosial Transasional”, air akan menjadi bagian sentral dari konflik ekologi dan sumber daya di masa depan. Air akan mempengaruhi diplomasi, geo-politik dan sekuritas. Sambil menyiapkan kelas kolaboratif studi pembangunan dan diplomasi bersama pembimbing, Ratih Herningtyas, di semester depan.
“Kunjungan ke Sekolah Air Hujan memberi horizon berharga tentang isu-isu kontemporer dalam studi HI (Hubungan Internasional),” ungkap Ade Marup Wirasenjaya sebagai dosen program studi Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Politik.
Sebanyak 20 mahasiswa belajar bersama dari berbagai provinsi di Indonesia untuk merubah cara pandang terhadap air hujan.
Selama ini anggapan terhadap air hujan yang disebut tidak baik ternyata merupakan hal yang luar biasa jika kelompok masyarakat mau dan mampu menjadi pribadi yang tidak mudah terprovokasi.
“Untuk itu kita harus merefleksi diri dari bagian proses introspeksi diri yang dilakukan dengan cara melihat kembali dan merenungkan berbagai hal yang telah terjadi di dalam hidup, seperti pengalaman, pembiasaan, dan keputusan, serta perjalanan yang akan kita langkahkan nanti hingga sampai pada titik keselarasan bahwa manusia hidup tidak lepas dari semesta ini khususnya air,” tambahnya.
Sri Wahyuningsih menyampaikan bahwa kalangan masyarakat sejauh ini mempunyai masalah di management pengelolaan air.
“Belum mampu meyiapkan cadangan air di musim kemarau. Padahal air sangat mendasar bagi kebutuhan kita bahkan bukan hanya untuk diri kita sebagai makhluk mulia tapi makhluk-makhluk lainnya yang ada di bumi ini juga membutuhkannya,” jelasnya.
Peran Komunitas Banyu Bening di tengah masyarakat untuk berbagi pengalaman san terus melakukan gerakan dengan strategi agar masyarakat bisa menerima apa yang disosialisasikan.
Bahwa air hujan ini bermanfaat dan masyarakat bisa langsung praktek dengan 5 konsep (menampung, mengolah, minum, menabung, mandiri).
“Semua bisa melakukan secara sederhana saja dengan material di sekitar kita. Sejatinya hanya niat dan mau melakukan sebagai langkah lebih baik untuk menjadi contoh bagi sekitar kita. Yuk, kita cerdas jangan sampai terus menerus eksploitasi air tanah, karena saat ini mungkin kita mampu dan bisa beli air yang masih ada cadangan nya, akan tetapi jika air yang di kelola habis apa yang harus kita lakukan dalam mitigasi management air bagi keturunan kita yang akan datang,” tambah perempuan yang akrab disapa Bu Ning tersebut.
Bagi Bu Ning, peran kita saat mahasiswa di dunia pendidikan bisa untuk menyampaikan secara data teori agar menambah keyakinan masyarakat dan pemerintah untuk lebih peka atas permasalahan yang di hadapi baik sebelum maupun sesudahnya.
“Langkah apa yang harus di lakukan, karena setiap tahun musim hujan tiba, bencana banjir, longsor menjadi hantu bagi masyarakat, belum lagi musim kemarau jangan sampai masyarakat menjadi penunggu bantuan, setidaknya bagaimana merubah perilaku dan cara pandang ini menjadi lebih baik dan mandiri untuk benar-benar di tahun yang akan datang berkurang atau tidak terjadi lagi bencana yang selalu menghantuinya,” tandasnya. (ajp/dan)
Kontributor || AJ Purwanto
Editor || Danang Arganata, WI 200050
Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)