1. News
  2. Adventure
  3. Habitus Pecinta Alam

Habitus Pecinta Alam

habitus-pecinta-alam
Habitus Pecinta Alam

Oleh : Hendri Irawan
Pecinta alam. Editor di SINDOnews & RCTI+

Wartapalaindonesia.com, PERSPEKTIF – Pecinta alam, dua kata sarat makna dan pesan moral ini tentu tak asing di telinga. Mengutip Wikipedia, pecinta alam adalah istilah yang digunakan untuk kelompok-kelompok yang bergerak atau berkegiatan di alam bebas, pada bidang petualangan, lingkungan hidup dan konservasi alam, hingga pendidikan maupun kemanusiaan.

Di Indonesia istilah pecinta alam lebih merujuk pada kelompok yang bergerak di bidang petualangan alam bebas, seperti mendaki gunung, ekspedisi ke belantara, panjat tebing, arung jeram, susur gua, penyelaman bawah laut, bertualang dengan perahu layar, dan banyak lagi seabrek kegiatan lainnya di alam bebas. Namun lebih dari itu, pecinta alam biasanya akan melakukan berbagai hal yang bisa dilakukan untuk menjaga alam tetap lestari.

Ditilik jauh ke belakang, sejarah pecinta alam di Indonesia adalah dengan terbentuknya “Perkumpulan Petjinta Alam”, diprakarsai oleh Awibowo pada Oktober 1953 di Yogyakarta. Namun jauh sebelum Awibowo, sebenarnya orang-orang pecinta alam sudah ada sebelum Indonesia merdeka. Pada 1912, di Nusantara sudah ada yang namanya De Nederlandsh Indische Vereeniging Tot Natuur Rescherming, yaitu sebuah komunitas yang berkegiatan di alam. Hingga 1937 terbentuklah Bescherming Afdeling Van’t Land Plantetuin. Pada tahun inilah kegiatan kepencintaalaman mulai aktif.

Yang menjadi pertanyaan, kapankah kegiatan kepecintaalaman mulai diadakan secara resmi, mengapa istilah ‘pecinta alam’ yang dipilih? Artikel yang ditulis legenda petualang yang juga aktivis pecinta alam Mapala UI, Norman Edwin berjudul “Awibowo – Biang Pencinta Alam Indonesia” (Mutiara, 20 Juni-3 Juli 1984), mungkin bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang sejarah kepencintaalaman di Indonesia.

Dalam artikelnya, Norman menuliskan Awibowo adalah pendiri satu perkumpulan pencinta alam pertama di Tanah Air. Nama perkumpulannya yaitu Perkoempoelan Pentjinta Alam (PPA), yang berdiri pada 18 Oktober 1953. “Selesai revolusi kami ingin mengisi kemerdekaan dengan kecintaan terhadap negeri ini. Itu kami wujudkan dengan mencintai alamnya,” kata Awibowo yang saat wawancara dengan Norman sudah berusia hampir 80 tahun.

Saat pendirian, Awibowo baru selesai pendidikannya di Universitas Indonesia di Bogor (sekarang IPB/Institut Pertanian Bogor). Diskusi ramai digelar bersama teman-temannya, ada yang mengusulkan ‘penggemar alam, pesuka alam dsb. Tapi Awi mengusulkan istilah pecinta alam karena cinta lebih dalam maknanya dari pada gemar/suka. Gemar/suka mengandung makna eksploitasi belaka, tapi cinta mengandung makna mengabdi. “Bukankah kita dituntut untuk mengabdi kepada negeri ini?” kata dia. 

Istilah pecinta alam akhirnya dipakai. Tapi bagaimana reaksi masyarakat saat itu? Ternyata orang-orang masih merasa aneh karena saat itu istilah cinta masih selalu dikaitkan dengan persoalan asmara. Tapi Awibowo dkk terus bergerak. Tujuan mereka adalah memperluas serta mempertinggi rasa cinta terhadap alam seisinya dalam kalangan anggota-anggotanya dan masyarakat umumnya.

Satu kegiatan besar yang pernah diadakan PPA adalah pameran tahun 1954 dalam rangka ulang tahun kota Jogja. Mereka membuat taman dan memamerkan foto kegiatan. Mereka juga sempat merenovasi “argadhumilah”/tempat melihat pemandangan di Desa Patuk, tepat di jalan masuk Kabupaten Gunung Kidul. 

PPA sempat meluas hingga anggota datang dari Jogja dan kota lain. Mereka juga sempat menerbitkan majalah “Pentjinta Alam” yang terbit bulanan. Sayang perkumpulan ini tak berumur panjang. Penyebabnya antara lain faktor pergolakan politik dan suasana yang belum terlalu mendukung sehingga akhirnya PPA bubar dengan sendirinya.

Setelah itu perkembangan kelompok-kelompok pecinta alam bukan sirna, tapi malah berkembang sangat pesat. Pada 1964, istilah pecinta alam dipopulerkan oleh para mahasiswa di Universitas Indonesia (UI) yang berhimpun dalam sebuah lembaga yang dikenal dengan nama Mapala (Mahasiswa Pecinta Alam). Para tokohnya seperti Soe Hok Gie, Herman Lantang, Aristides Katopo, dll.

Lalu ada pula komunitas Wanadri, yang meski kegiatannya lebih ke petualangan, namun para anggotanya juga sangat peduli dengan kelestarian alam dan lingkungan. Malah pada Januari 1974, tercetus Kode Etik Pecinta Alam Indonesia, lewat sebuah kegiatan bernama Gladian Nasional Pecinta Alam IV, yang notabene pelopornya Wanadri. Pelaksanaan kegiatan tersebut dilakukan di Pulau Kahyangan dan Tana Toraja, oleh Badan Kerjasama Club Antarmaja pecinta Alam se-Ujung Pandang (Makassar) dan dihadiri oleh 44 perhimpunan pecinta alam dari seluruh Indonesia.

Gladian Nasional Pencinta Alam didirikan sebagai ajang bagi pecinta alam untuk saling bertukar pikiran, pengetahuan, opini, serta kemampuan di bidang kepencintaalaman dan kegiatan di alam bebas. Di samping itu juga, Gladian Nasional Pecinta Alam berfungsi sebagai wadah silaturahmi bagi perhimpunan pecinta alam di seluruh Indonesia.

“Pecinta Alam Indonesia sadar bahwa alam beserta isinya adalah ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Pecinta Alam Indonesia adalah bagian dari masyarakat Indonesia sadar akan tanggung jawab kepada Tuhan, bangsa, dan tanah air. Pecinta Alam Indonesia sadar bahwa pecinta alam adalah sebagian dari makhluk yang mencintai alam sebagai anugerah yang Mahakuasa.”

“Sesuai dengan hakikat di atas, kami dengan kesadaran menyatakan: Mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Esa, Memelihara alam beserta isinya serta menggunakan sumber alam sesuai dengan kebutuhannya, Mengabdi kepada bangsa dan tanah air, Menghormati tata kehidupan yang berlaku pada masyarakat sekitar serta menghargai manusia dan kerabatnya, Berusaha mempererat tali persaudaraan antara pecinta alam sesuai dengan azas pecinta alam, Berusaha saling membantu serta menghargai dalam pelaksanaan pengabdian terhadap Tuhan, bangsa dan tanah air, Selesai”. (Disahkan bersama dalam GLADIAN IV – 1974, di Ujung Pandang).

Mempedomani Kode Etik Pecinta Alam Indonesia
Sering waktu, Kode Etik Pecinta Alam Indonesia menjadi pedoman dalam setiap pengaplikasian kegiatan kepecintaalaman di Indonesia, yang biasanya bergabung dalam sebuah komunitas atau organisasi. Komunitas-komunitas pecinta alam ini dibentuk dengan tujuan melakukan kegiatan kolektif untuk turut melestarikan alam sebagai wujud kecintaan mereka terhadap alam. Komunitas pecinta alam memiliki nilai-nilai yang mereka pegang teguh dalam melestarikan alam, salah satunya meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan.

Setiap anggota komunitas biasanya akan memiliki pemikiran bahwa alam merupakan anugerah dari Sang Maha Pencipta. Oleh sebab itu, manusia harus bertanggung jawab untuk menjaga dan merawatnya. Perlu dipahami bahwa komunitas pecinta alam hadir untuk melakukan berbagai upaya pelestarian alam. Jadi, kegiatan pecinta alam itu tidak hanya tentang mendaki, menyusuri berbagai sudut hutan, berkemah, dan lain sebagainya.

Kegiatan-kegiatan tersebut hanya merupakan bentuk dari kecintaan komunitas terhadap alam dengan cara menyatu dengan alam. Komunitas pecinta alam akan melakukan berbagai upaya nyata supaya alam tetap lestari, sebab mereka menyadari bahwa manusia tidak akan bisa hidup tanpa alam. Berbagai kebutuhan sandang dan pangan didapatkan dari alam. Tetapi pengelolaannya tidak dilakukan dengan baik, sehingga proses pemenuhan kebutuhan tersebut justru merusak alam.

Dalam rangka meningkatkan kesadaran dalam menjaga dan merawat alam, komunitas pecinta alam kerap menyelenggarakan kegiatan luar ruangan seperti kemah, hiking, rafting, dan lain sebagainya. Tujuannya untuk memberi kesempatan kepada partisipan untuk melihat dan menikmati kebesaran alam ciptaan Tuhan.

Bersentuhan dengan alam dapat meningkatkan kesadaran bahwa alam yang zero sampah dapat menjadi tempat yang nyaman untuk beraktivitas. Selain aktivitas luar ruangan yang berbentuk rekreasi, biasanya komunitas pecinta alam mengajak partisipan untuk membersihkan sungai, membersihkan lingkungan sekitar, dan tidak meninggalkan sampah setelah pendakian.

Salah satu bentuk kampanye komunitas pecinta alam yaitu menerapkan pola hidup sehat yang berkesinambungan dengan cara merawat dan menjaga alam. Misalnya menggunakan barang-barang yang mudah terurai oleh alam, sehingga residu polusi dapat ditekan. Bentuk kampanye lainnya yaitu menerapkan metode reuse, reduce, dan recycle, terutama dalam pengelolaan sampah. Selain itu, dapat pula berpartisipasi aktif dengan aksi nyata memisahkan sampah organik dan anorganik, mengurangi penggunaan kendaraan bermotor dengan bahan bakar minyak, dan lain sebagainya.

Begitu banyak kampanye yang dilakukan komunitas pecinta alam dalam rangka mewujudkan kecintaan terhadap alam. Bahkan dari hal kecil hingga besar dilakukan supaya alam tetap lestari. Bahkan, belakangan ada istilah Healing Forest, yang dalam bahasa Indonesia bisa disebut hutan pemulihan atau hutan terapi. Healing Forest lalu bermetamorfose menjadi Forest Healing, yang bisa kita artikan sebagai sebuah aktivitas terapi di hutan yang menyatu dengan hutan itu sendiri.

Hutan memberikan manfaat atau khasiat untuk tubuh manusia terutama untuk memulihkan stres, baik fisik maupun mental. Qing Li dalam bukunya berjudul “Shinrin-Yoku: The Art and Science of Forest Bathing” mengungkapkan bahwa berjalan di bawah hutan dan menikmati kealamian hutan merupakan obat penyembuh penyakit di tubuh dan pikiran. Studi terkait Forest Healing di Korea membuktikan bahwa setelah melakukan Forest Healing kadar antioksidan dan NK sel tubuh yang berfungsi untuk kekebalan tubuh meningkat, sedangkan kadar kortisol dan kadar alpha dalam otak mengalami penurunan.

Hutan memiliki bentang alam hijau dan asri yang dapat mengurangi ketegangan mata dan memberikan ketenangan pikiran. Selama berjalan di hutan, udara yang dihirup juga terasa lebih bersih dan menyegarkan. Forest healing juga bermanfaat bagi anak-anak yaitu meningkatkan kreativitas dan percaya diri untuk mengekaplorasi alam. 

Nah, sebagai sesama pecinta alam dapat ikut serta mengampanyekan pola hidup sehat yang ramah lingkungan dalam kegiatan yang dinamakan Forest healing tersebut mulai dari diri sendiri. Komunitas pecinta alam hadir untuk mengakomodasi kepentingan banyak orang yang memiliki minat dan ketertarikan yang sama terhadap isu lingkungan.

Lebih jauh lagi, melalui komunitas pecinta alam bisa bertukar ide dan pendapat untuk membantu memulihkan kondisi alam yang mengalami pemanasan global. Kondisi ini terjadi lantaran penebangan hutan terus dilakukan, sementara di waktu yang sama polusi terus meningkat. Di sisi lain pohon menjadi salah satu media yang dapat mengubah polutan menjadi oksigen. Aktivitas penanaman pohon pun akhirnya diinisiasi untuk mengatasi masalah tersebut. Aktivitas ini biasanya dikemas dalam kegiatan yang menarik supaya mendapat perhatian, seperti pendakian gunung dan outbond.

Lalu, apa manfaat dari adanya komunitas pecinta alam? Salah satu manfaatnya adalah meningkatnya kesadaran untuk menjaga dan merawat alam dari mulai hal kecil hingga besar. Misalnya dengan menggunakan barang-barang yang mudah terurai secara alami dan ikut serta dalam kegiatan penanaman pohon. Kepedulian untuk merawat dan menjaga alam awalnya hanya dilakukan oleh komunitas pecinta alam saja.

Namun, berkat kerja keras dan konsistensi dalam mengampanyekan pola hidup sehat yang ramah lingkungan, kepedulian masyarakat untuk ikut merawat dan menjaga alam mulai tumbuh. Mulai dari pengelolaan sampah menggunakan metode 3R (Reuse, Reduce, Recycle) untuk ranah rumah tangga, hingga munculnya konsep sustainable yang kini menjadi isu masyarakat dunia.

Patut disadari, lingkungan yang tercemar akan membuat hewan dan tumbuhan tidak memiliki habitat asli dan tempat tinggal. Hal ini terjadi karena habitat mereka telah hilang bersamaan dengan dilakukannya penebangan hutan. Kampanye untuk menjaga lingkungan dengan cara tidak menebang pohon sembarangan dapat melindungi habitat makhluk hidup lainnya.

Cerminan Sifat-sifat yang Menginspirasi
Kepribadian seseorang yang memiliki ketertarikan mendalam terhadap alam seringkali merupakan cerminan dari sifat-sifat yang menginspirasi. Seseorang yang mencintai alam biasanya menunjukkan empati yang mendalam, kesabaran yang besar, serta kepekaan yang lebih tinggi terhadap kehidupan di sekitar mereka, baik sesama manusia lebih luas lagi alam dan lingkungan sekitarnya

Seorang pencinta alam seringkali memiliki sifat-sifat seperti kesetiaan dan pengorbanan. Mereka dapat menunjukkan rasa cinta yang tak terbatas terhadap alam dan lingkungan sekitar mereka. Pecinta alam juga rela menghabiskan waktu dan energi untuk merawat dan memelihara alam dengan baik. Selain itu, mereka juga cenderung lebih peka terhadap kebutuhan dan perasaan alam dan lingkungan tempat mereka berada.

Kepribadian seseorang pecinta alam juga dapat mencerminkan sifat keberanian dan kepedulian. Mereka seringkali siap untuk melangkah dan bertindak demi melindungi dan menyelamatkan alam dan lingkungan yang terancam kelestariannya. Tindakan-tindakan seperti menyumbangkan waktu atau dana untuk yayasan penyelamatan hewan. Bahkan menjadi relawan terkait kegiatan penyelamatan alam dan lingkungan adalah contoh nyata dari keberanian dan kepedulian yang mendasari kepribadian seorang pecinta alam.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kepribadian seseorang pecinta alam tidak hanya mencerminkan cinta dan kasih sayang terhadap alam dan lingkungan sekitarnya. Seorang pecinta alam juga menggambarkan sifat-sifat mulia seperti empati, kesetiaan, keberanian, dan kepedulian. Sifat-sifat ini tidak hanya memperkaya kehidupan individu itu sendiri, tetapi juga memberikan kontribusi positif bagi lingkungan sekitarnya.

Sebenarnya menjadi seorang pecinta alam enjoy saja, tak mesti serius-serius amat seperti halnya yang dinarasikan di atas. Intinya, habitus pecinta alam harus melekat pada setiap kader/insan pecinta alam. Ekspresi, cara pandang, dan kegelisahan seorang pecinta alam dalam menghadapi berbagai persoalan, pun ketika yang bersangkutan secara formal tak lagi menyandang status anggota pecinta alam yang terikat baik di sebuah organisasi atau lembaga.

Menggunakan istilah filsuf Prancis, Pierre Boudiue, pecinta alam adalah habitus: nilai-nilai sosial yang dihayati seseorang, terbentuk melalui pergulatan hidup yang panjang, lalu secara laten membentuk watak, ciri, dan perilaku orang tersebut. Habitus begitu kuat tertanam sehingga secara refleks akan mengarahkan bagaimana seseorang bersikap dan memandang permasalahan, sekaligus memberi gambaran tentang bagaimana seorang pecinta alam mesti berkiprah, dan apa yang mesti dilakukan?

Sejauh mana mentalitas dan sentuhan seorang pecinta alam tetap dijaga ketika yang bersangkutan bergerak di ruang-ruang baru? Bagaimana laku seorang pecinta alam yang bertumpu pada disiplin, jiwa korsa, mentalitas, prinsip independensi dan spirit dalam mencintai dan menjaga kelestarian alam tetap dipertahankan ketika melibatkan diri dalam perbincangan publik?

Memang, menjadi seorang pencinta alam harus memiliki spirit atau semangat, terlebih di saat menyaksikan kondisi alam yang semakin kritis. Spirit menjadi pecinta alam bisa datang dari mana saja dan kapan saja, termasuk dari melihat banyaknya kenyataan, pendengaran, bahkan perasaan dan keprihatinan semakin rusaknya alam. Spirit berselimut ide atau gagasan tersebut harus diikat dengan segera merefleksikannya, atau kapan saja pada saat ada kesempatan agar spirit yang melintas tidak menguap begitu saja.

Dalam setiap mencintai sebuah objek, termasuk mencintai alam, kita pun pasti pernah mengalami titik jenuh dan bosan. Tidak bisa merefleksikan apa pun, tidak ada satu kalimat pun yang bisa terangkai sebagai wujud mencintai objek dimaksud. Sejatinya, mencintai alam adalah ungkapan jiwa, sarana mengekspresikan diri, dan menuangkan kegelisahan. Hal inilah yang mesti diwujudkan oleh setiap insan yang memproklamirkan dirinya seorang pecinta alam. Mencintai alam harus menjadi nafas hidup. (hi).

Foto || Hendri Irawan
Editor || Ahyar Stone, WI 21021 AB

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Habitus Pecinta Alam
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us