1. News
  2. Adventure
  3. 11. Cara Mendatangkan Bantuan

11. Cara Mendatangkan Bantuan

11.-cara-mendatangkan-bantuan
11. Cara Mendatangkan Bantuan

Wartapalaindonesia.com, EDUKASI – Artikel ini merupakan isi bab kedua dari buku “Cara Menjadi Relawan Garis Depan di Lokasi Gempa”. Bab kedua Posko Kemanusiaan Relawan garis Depan. Berisi 7 artikel (nomor 7 hingga 13).

Buku ini ditulis oleh Ahyar Stone (Pemimpin Redaksi Wartapala. Anggota Dewan Pengarah SARMMI). Terbit pertama Januari 2024. Penerbit Jasmine Solo, Jawa Tengah. Buku ini diterbitkan atas kerja sama Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Wartapala, SARMMI. Selamat membaca. (Redaksi).

a. Perlu Bantuan Tambahan
Saat Anda masih di kota asal, mencari bantuan untuk disalurkan ke lokasi gempa, umumnya cukup sulit. Kalaupun terkumpul jumlahnya tak terlampau banyak.

Tetapi saat Anda sudah mendirikan posko kemanusiaan di desa terpencil dan terisolir yang menjadi focus area, mencari bantuan justru mudah. Bantuan malah datang ke posko Anda.

Mendatangkan bantuan tambahan, memang perlu dilakukan. Bantuan yang Anda bawa umumnya tak mencukupi. Atau ada barang tertentu yang dibutuhkan warga tetapi Anda tidak membawanya.

b. Semua Pihak Saling Membutuhkan
Pada fase tanggap darurat, tim relawan dari berbagai daerah berdatangan ke lokasi gempa. Semakin tinggi magnitudo gempanya dan sering diberitakan media, makin banyak tim relawan yang berangkat ke lokasi bersangkutan.

Ada tim relawan yang sebelum berangkat ke lokasi gempa, sudah punya rencana akan ke mana, dan hendak melakukan apa di sana.

Tetapi sebagian tim relawan, belum punya rencana lengkap seperti itu. Mereka belum punya tujuan akan ke mana. Dengan demikian mereka tidak punya gambaran mau melakukan apa dan bantuan apa yang mesti dibawa.

Mengapa bisa begitu? Tim relawan tersebut kurang mendapat pasokan informasi detil yang datang langsung dari lokasi gempa. Informasi detil menyangkut kebutuhan korban gempa, tak banyak beredar di media online, elektronik dan cetak.

Di sisi lain ada pula tim relawan yang tak mau gegabah membawa bantuan. Khawatir bantuannya tidak relevan dan salah sasaran.

Para donator — individu atau organisasi yang hanya mengirim bantuan tetapi tidak memberangkatkan relawan — juga hati-hati mengirim bantuan. Mereka butuh informasi.

Donatur hanya mau mengirim bantuan ke tim relawan di lokasi gempa yang dapat dipercaya. Pihak donator percaya pada tim relawan tersebut karena sudah kenal atau karena rekomendasi dari koleganya.

Situasi saling tunggu antara tim relawan garis depan yang butuh tambahan bantuan dengan tim relawan yang berencana membawa bantuan, serta donator yang butuh informasi untuk mengirim bantuan, memang selalu terjadi di lokasi gempa.

Lantas bagaimana agar kebutuhan tiga pihak di atas terakomodasi seluruhnya? Jawabannya, Anda buat informasi, lalu sebarkan.

Itulah kenapa struktur awal posko kemanusiaan — disamping ada ketua posko kemanusiaan dan koordinator logistik — harus ada koordinator humas.

Humas adalah singkatan dari hubungan masyarakat, atau dalam bahasa Inggris disebut public relation. Humas di posko kemanusiaan bertanggung jawab menyampaikan informasi ke masyarakat tentang aktivitas posko kemanusiaan dan warga yang didampingi.

c. Buat Berita Harian
Tugas harian koordinator humas adalah membuat naskah berita (rilis) aktivitas posko kemanusiaan berikut perkembangan warga yang didampingi. Naskah berita dikirim ke media online.

Bila Anda kesulitan mengirim naskah berita, kirim naskah tersebut ke beberapa teman Anda yang tidak di lokasi gempa. Terutama teman-teman Anda yang sudah biasa mengirim berita ke media online. Minta tolong mereka mengirimnya ke media online.

Berita yang sudah dimuat oleh media online, Anda share ke grup-grup WA (WhatsApp). Sampaikan juga ke anggota grup, Anda butuh bantuan mereka untuk menyebar berita tersebut ke grup WA yang mereka ikuti.

d. Buat Informasi Khusus Untuk WA
Tugas harian kedua koordinator humas adalah membuat informasi yang ditulis khusus untuk disebar di WA.

Bagi relawan garis depan yang tak bisa menulis berita gaya jurnalistik untuk dikirim ke media online, dapat menggunakan cara WA ini. Cara ini juga ampuh mendatangkan bantuan.

Di informasi yang khusus untuk disebar di WA, terangkan Anda dari organisasi apa. Tim relawan garis depan organisasi Anda membangun posko kemanusiaan di desa mana. Informasikan pula secara singkat kondisi desa yang Anda dampingi. Apa yang sudah dikerjakan dan apa yang berikutnya dikerjakan oleh tim Anda.

Sampaikan juga bantuan apa yang dibutuhkan warga. Kemudian jelaskan mengapa bantuan tersebut dibutuhkan warga desa focus area.

Informasi khusus untuk share WA, Anda tulis dengan bahasa yang baik. Gunakan istilah, kosa kata dan tanda baca yang tepat. Di informasi seperti ini, jangan gunakan singkatan, karena terkesan tidak resmi dan kerap membingungkan yang membaca.

Informasi yang sudah dibuat, kemudian Anda kirim ke grup WA induk organisasi Anda. Minta anggota grup menyebarnya ke grup lain dan ke berbagai pihak.

Membuat informasi khusus untuk disebar di WA, lakukan tiap hari dan isinya selalu informasi baru. Jangan copy paste utuh informasi yang pernah dibagikan.

Setelah sehari atau dua hari, biasanya ada tim relawan atau donatur yang merespon. Mereka menghubungi melalui WA. Baik untuk mengirim bantuan maupun hendak bergabung di posko kemanusiaan tim Anda.

e. Menulis Naskah Berita di HP
Paling nyaman menulis naskah berita adalah menggunakan laptop. Tetapi dalam kondisi tertentu laptop malah tidak berfungsi. Misalnya karena siang hari genset belum hidup. Atau genset kehabisan bahan bakar. Mau beli bahan bakar, kios bahan bakar eceran adanya di tempat lain yang jaraknya jauh.

Solusi praktis adalah menulis di aplikasi MS Word di HP. Selesai ditulis, share ke WA beberapa teman Anda yang akan membantu mengirimkannya ke media online.

Naskah berita yang ditulis dengan format MS Word, paling cocok untuk dikirim ke media online. Redaktur lebih mudah mengeditnya.

f. Menulis Naskah Berita di Grup Kosong
Alternatif kedua menulis naskah berita atau informasi adalah menulis di WA Grup (WAG) yang tidak ada anggotanya. Caranya, Anda mulai dengan membuat grup WA yang baru. Nama grup terserah Anda.

Masukan dua orang teman Anda sebagai anggota grup. Setelah grup jadi, keluarkan mereka. Sekarang anggota “grup kosong” di WA, cuma Anda sendirian.

Kemudian Anda mulai menulis naskah berita atau draf informasi di grup WA yang kosong anggota tadi. Selesai menulis, Anda tekan tanda kirim. Setelah tampil di grup WA kosong, kiriman itu Anda baca.

Sambil membaca, Anda perhatikan mungkin ada informasi yang kurang lengkap atau penulisannya kurang tertata. Bila Anda menemukannya, kiriman tadi Anda copy. Lalu paste di kolom komentar WA grup kosong. Lakukan perbaikan atau edit. Selesai diedit, Anda kirim lagi.

Untuk mendapat hasil akhir yang layak untuk dipublikasikan, mungkin Anda perlu melakukan beberapa kali proses kirim, baca, copy, paste, edit dan kirim.

Anda jangan malas untuk edit, edit dan edit. Seorang jurnalis senior sekalipun, selalu melakukan editing beberapa kali sebelum menayangkan berita yang ditulisnya.

Anda juga tak perlu malu berkali-kali edit naskah di grup WA kosong anggota, karena tak ada orang yang membacanya.

Kalau Anda kurang paham cara membat grup WA, Anda bisa menulis naskah berita atau informasi di akun WA pribadi. Lalu dikirim ke diri sendiri. Kemudian lakukan proses editing seperti penjelasan di atas.

10. Manajemen dan Struktur Posko Kemanusiaan

g. Sertakan Foto
Tiap naskah berita yang dikirim dan informasi yang Anda sebar khusus di WA, sertakan foto pendukung. Foto yang disertakan jangan sembarang foto. Anda perlu selektif.

Contoh, bila Anda mengirim naskah berita tentang kehati-hatian tim relawan garis depan saat berada di lokasi berbahaya, relawan garis depan yang menjadi objek foto harus memakai alat pelindung diri seperti helm dan sepatu. Untuk ke media online, kirim foto orientasi landscape atau horizontal.

Foto yang ditampilkan sifatnya candid. Artinya foto yang apa adanya. Seakanakan orang yang menjadi objek foto tidak tahu jika dipotret. Foto seperti ini terlihat natural dan menyampaikan pesan. Foto yang dikirim selaraskan dengan berita atau informasi yang hendak Anda share.

Hindari mengirim atau membagikan foto relawan yang sedang merokok. Anak kecil tak berpakaian. Lelaki dewasa yang mengenakan celana pendek tanpa baju. Orang yang sedang (maaf) menungging. Pemuda yang memamerkan jari tengah, serta foto yang tidak senonoh lainnya. Tanpa penulis jelaskan di sini, Anda pasti sudah paham mengapa foto seperti itu tak pantas diedarkan di media online dan media sosial.

Foto lain yang tak elok diedarkan di media adalah foto relawan yang tersenyum manis tatkala menyerahkan bantuan ke warga. Senyum di peristiwa seperti ini, malah mengesankan si relawan tak memiliki empati.

Jika hendak membagikan foto serah terima bantuan, pilihlan relawan yang menjadi objek foto yang ekspresi mukanya biasa saja.

Foto relawan tersenyum — bahkan tertawa riang — akan pantas di-share tatkala si relawan sedang menyelenggarakan psikososial anak, tengah melaksanakan sekolah darurat, ketika memberikan edukasi ke kelompok dewasa atau saat gotong royong. Senyum di momen seperti ini menunjukkan kebersamaan, semangat dan optimis. (as).

Foto || SARMMI
Editor || Danang Arganata, WI 200050

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
11. Cara Mendatangkan Bantuan
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us