
Masjid Jogokariyan yang terletak di Yogyakarta, memiliki sejarah yang kaya dan unik. Masjid yang berdiri pada tahun 1967 ini berdiri di tengah-tengah kampung yang dulu menjadi basis Partai Komunis Indonesia (PKI).
Dinukil dari website Masjid Jogokariyan Yogyakarta, masjid ini berawal dari sebuah langgar kecil berukuran berukuran 3×4 meter. Hal ini tidak lepas dari masyarakat di wilayah Jogokariyan yang didominasi kalangan abangan.
“Karena kultur Abdi dalam prajurit keraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang lebih ngugemi “Tradisi Kejawen” dari pada kultur pada kultur keIslaman.”
Kampung Jogokariyan dibuka ketika masa pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono IV. Kampung ini digunakan untuk menampung Abdi Dalem Prajurit dari Kesatuan “Jogokariyo” yang tidak bisa tinggal di benteng baluwarti Keraton.
“Sehingga tempat tinggal/Palungguhan Prajurit ini sesuai dengan Toponemnya dikenal dengan nama “Kampung Jogokariyan”.
Basis PKI
Dzulfikar Fauzi dan Muhyani dalam Dakwah Berbasis Masjid: Studi Kasus Masjid Yogyakarta menjelaskan awal mula wilayah itu menjadi basis PKI. Hal ini tidak lepas dari kondisi ketimpangan ekonomi yang dialami masyarakatnya.
Ketika masa HB VIII terjadi perubahan peran prajurit di Keraton Ngayogyakarta yang semula adalah Prajurit Perang hanya menjadi prajurit upacara. Jumlah pasukannya pun dipersempit yang semula jumlahnya 750 orang hanya menjadi 75 orang saja.
Hal ini membuat para abdi dalam prajurit banyak yang kehilangan jabatan dan pekerjaan. Para abdi dalem ini tidak lagi menerima gaji, tetapi diberikan sawah untuk bercocok tanam.
Tidak sedikit dari abadi dalem yang tidak bisa menyesuaikan diri sehingga tahan mereka dijual kepada pengusaha batik dan tenun. Hal ini juga tidak lepas dari kebiasaan beberapa abdi dalam yang suka melakukan judi, mabuk bahkan memakai candu.
“Terjadilah perubahan sosial ekonomi yang cukup membuat syok warga. Kampung Jogokariyan mulai berubah jadi kampung batik dan tenun, generasi anak-anak Abdi Dalem terpaksa bekerja jadi buruh di pabrik-pabrik Tenun dan Batik,” paparnya.
Masa-masa kejayaan pengusaha batik dan tenun menjadi masa-masa buram bagi keturunan abdi dalem prajurit Jogokariyan yang tidak bisa menyesuaikan diri. Para penduduk asli yang sudah menjadi miskin ditengah kemakmuran pendatang, padahal mereka punya gelar bangsawan, Raden atau Raden Mas.
Kesenjangan sosial ekonomi ini dimanfaatkan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) dengan sentimen kelas buruh dan majikan. Maka gerakan PKI disambut antusias oleh warga Jogokariyan yang termarjinalisasi ini, sehingga di Jogokariyan menjadi basis PKI yang didominasi warga miskin dan buruh.
“Para juragan yang berasal dari “Abangan” aktif di PNI dan beberapa pendatang dari Karangkajen menjadi pendukung Masyumi (Jumlahnya minoritas),” jelasnya.
Dakwah Masjid Jogokariyan
Tetapi kondisi ini berubah setelah meletusnya peristiwa G30S. Saat itu anggota dan simpatisan PKI diciduk untuk menjadi tahanan politik.
Metode dakwah Masjid Jogokariyan untuk mengubah pola hidup masyarakatnya begitu penting. Para pengurus masjid selalu mengajak para pemuda yang suka mabuk untuk datang ke masjid, bahkan diserahkan jabatan sebagai keamanan.
Mereka juga mengajak anak-anak untuk beraktivitas di dalam masjid. Warga yang salat di rumah juga di arahkan untuk salat berjamaah di masjid.
“Di masa-masa kritis tersebut Masjid Jogokariyan dibangun dan menjadi alat perekat untuk perubahan sosial menjadi masyarakat Jogokariyan yang berkultur Islam,” jelasnya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News
Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.
Tim Editor