Indra Suroinggeno adalah budayawan dan pelestari warisan budaya terutama kesenian wayang beber. Langkah nyatanya dalam melestarikan tradisi dan budaya kesenian itu bisa dilihat lewat Museum Wayang Beber Sekartaji yang didirikannya pada 2017.
Sosok Indra menarik. Ia bukan hanya seorang penekun budaya, melainkan seorang pemikir yang berani menantang pandangan konvensional tentang tradisi Nusantara.
Melalui pandangannya yang unik, Indra berupaya menjembatani dunia mistis yang sering dianggap tabu dengan logika ilmiah. Baginya, kearifan leluhur bukanlah sesuatu yang kuno, melainkan ilmu pengetahuan yang belum kita pahami sepenuhnya.
Filosofi utama Indra Suroinggeno berpusat pada gagasan bahwa “segala hal yang mistis itu bisa dijelaskan secara ilmiah.”. Ia meyakini bahwa fenomena-fenomena yang seringkali dikaitkan dengan hal-hal gaib, seperti kecelakaan di jalan yang dianggap karena tumbal, sebenarnya bisa dipahami melalui konsep energi.
Menurutnya, energi negatif dari pikiran dan emosi buruk dapat memengaruhi lingkungan. Di sinilah peran doa menjadi penting—bukan sebagai ritual takhayul, melainkan sebagai sarana untuk mengurai energi negatif tersebut.
Tradisi Sesajen
Indra sudah mengunjungi negara-negara Barat yang orang-orangnya memiliki sikap berpikir secara logika. Ia setuju logika atau akal itu penting, tetapi jangan melupakan rasa dan karsa yang bisa melengkapi energi kehidupan.
“Energi itu sendiri bisa dijelaskan pelan-pelan bahwa semua benda ini mengandung algortima energi. Kita harus mempelajari energi itu sendiri. Ketika kita berada di jalan misalnya kadang orang kalau ada terdapat banyak kecelakaan sering bilang pasti ada hantunya di situ, ada yang nunggu, ada tumbal. Nah, seperti itu lagi-lagi dikambinghitamkan itu demit” ucap Indra kepada Good News From Indonesia dalam segmen GoodTalk.
Indra pun berusaha menjelaskan energi sejatinya tidak diciptakan karena itu berasal dari sang pencipta. Pemberian sesajen pun dijadikannya contoh. Menurutnya, para leluhur melakukan itu bukan diberikan ke makhluk kasat mata, melainkan untuk alam yang memberi energi untuk kebaikan dalam hidup.
“Energi-energi ini kan sangat berkaitan sekali. Bagaimana leluhur dulu sudah mencontohkan memberi sesajen dan lain-lain itu bukan berarti untuk dedemitan. Karena ketika kita berbagi energi melalui hal-hal yang sudah disediakan alam pastinya akan terdifrak dengan baik. Sesuatu yang misalnya ada sukerta dan lain-lain, ada wabah atau apa, kita mengenal itu pada tataran energi-energi tertentu setidaknya akan dikelola dengan baik,” ucap Indra lagi.
Gamelan di Mata Orang Luar
Adapun sebelumnya Indra membicarakan mengenai gamelan. menurut Indra alat musik ini sering dikaitkan dengan hal-hal mistis atau gaib yang konteksnya negatif.
Ia pun menyayangkan hal tersebut karena di luar negeri gamelan justru berada di ruang penelitian bagi orang asing, Mereka yang jatuh cinta kepada alat musik ini menjadikannya sebagai alat relaksasi sampai meditasi.
“Di luar seperti Jerman bahkan Amerika Serikat mendatangkan gamelan untuk diteliti. Gelombang (suaranya) bisa bermanfaat untuk penyembuhan, relaksasi, metta bhavana, dan yang lain-lain. Nah, hal semacam ini kita sudah banyak kehilangan arah dan itu bukan salah generasi saat ini, ada suatu kejadian yang membikin kita lupa,” ungkap Indra.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News
Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dimas Wahyu Indrajaya lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dimas Wahyu Indrajaya.
Tim Editor