1. News
  2. Berita
  3. Kisah Rayndra, Sukses jadi Petani Milenial dan Membangun “Kerajaan Domba”

Kisah Rayndra, Sukses jadi Petani Milenial dan Membangun “Kerajaan Domba”

kisah-rayndra,-sukses-jadi-petani-milenial-dan-membangun-“kerajaan-domba”
Kisah Rayndra, Sukses jadi Petani Milenial dan Membangun “Kerajaan Domba”

Kekhawatiran para pengamat mengenai semakin menurunnya jumlah petani di Indonesia akan segera menemui titik terang, jika semakin banyak anak muda Indonesia seperti tokoh inspiratif satu ini.

Dialah Rayndra Syahdan Mahmudin, S.S.T., M.M.A., seorang pemuda asal Magelang yang dengan berani memilih jalan yang tidak biasa. Alih-alih bekerja di belakang meja kantor dengan gelar Magister Manajemen Agribisnis-nya, ia justru dengan senang hati memutuskan untuk berkecimpung langsung di balik kandang domba.

Perjalanannya penuh tantangan, terutama dari orang tua yang awalnya memiliki pandangan lain terhadap dunia pertanian. Namun, kini ia menuai kesuksesan yang gemilang dan bahkan terpilih sebagai Ketua Umum Duta Petani Milenial dan Duta Petani Andalan (DPM/DPA) untuk periode 2025–2030.

Inilah kisah inspiratif petani milenial yang mengubah stigma dan membawa angin segar bagi masa depan pertanian Indonesia.

Kenalan dengan 5 Petani Milenial yang Inovatif dan Omzetnya Puluhan Juta

Berani Menentang Arus untuk Meraih Impian

Keputusan Rayndra untuk menjadi peternak domba bukanlah keputusan yang instan dan mudah. Ia harus berhadapan dengan tentangan, terutama dari keluarganya sendiri.

Pada awalnya, keluarga pria kelahiran 29 November 1995 ini menganggap dunia pertanian atau peternakan kurang menguntungkan. Namun, keyakinan Rayndra akan potensi besar di sektor peternakan membuatnya teguh pada pendirian.

“Tapi memang hambatannya cukup besar justru di lingkungan keluarga sendiri. Banyak yang tidak percaya kalau sektor pertanian itu menguntungkan. Tetapi saya berusaha membuktikan, dan alhamdulillah usaha saya di bidang pertanian menjadi baik, dan juga berkembang pesat,” ujar Rayndra.

Apa Itu Ramuan Bioyoso yang Jadi Jalan Kesekian Petani Indramayu Kendalikan Hama Tikus?

Keyakinannya ini berakar dari latar belakang pendidikannya yang kuat di bidang pertanian dan peternakan. Ia memulai pendidikan formal di bidang pertanian dimulai dari SMKN 1 Ngablak jurusan pertanian, dilanjutkan S1 Peternakan di Politeknik Pertanian Yogyakarta-Magelang, kemudian berlanjut lagi ke S2 Agribisnis. Baginya, sektor pertanian adalah sektor yang abadi dan masih akan sangat dibutuhkan.

“Jadi, selama manusia masih ada di dunia ini, tentu pasti butuh pangan, dan pangan tidak lepas dari sektor pertanian. Sehingga sektor pertanian ini sangat saya yakini menguntungkan,” tegasnya.

Banting Setir dari Buruh Bongkar Muat Pelabuhan, Marson Sukses Jadi Petani Pepaya

Membangun “Kerajaan Domba” dengan Strategi Bisnis dan Teknologi Modern

Keberhasilan Rayndra yang saat ini terlihat tidak datang serta merta tanpa usaha. Keberhasilannya ini merupakan kombinasi dari pengetahuan akademis, penerapan teknologi modern, dan strategi bisnis yang cerdas.

Peternak di Dusun Semen, Desa Trenten, Kecamatan Candimulyo, Kabupaten Magelang ini berhasil memasarkan 100-200 ekor domba per bulan dengan omzet minimal Rp130 juta hingga Rp260 juta.

Domba-domba tersebut adalah hasil pembesaran selama 2 bulan dari bobot awal 15 kg menjadi rata-rata 25 kg per ekor, dengan harga jual Rp55.000 per kg atau setara Rp1,3 juta per ekor.

Santardi, 15 Tahun Hidup di Lereng Bukit Siawu Menggarap Lahan Perhutani

Yang mencengangkan, pasokannya baru memenuhi 3% dari total permintaan pasar dalam kondisi normal. Untuk memenuhi permintaan yang tinggi, Rayndra mengembangkan sistem kemitraan.

Pada November 2022, ia mengelola 1.200 ekor domba; 500 ekor dipelihara di lahan sendiri seluas 1.000 m², sementara 700 ekor lainnya tersebar di 30 peternak mitra binaannya di Magelang.

Sistem di peternakannya yang ia beri nama Cipta Visi farm ini tidak hanya fokus pada penggemukan, tetapi juga pembiakan 500 ekor domba untuk menjamin keberlanjutan produksi. Rayndra memanfaatkan persilangan strategis dengan domba lokal Magelang sebagai induk betina, dan pejantan dari jenis garut, wonosobo, dan doper untuk mendapatkan keunggulan dari masing-masing jenis domba.

Penerapan teknologi modern Rayndra akui menjadi kunci efisiensinya dalam beternak.

Petani Kopi Masa Kini Pakai IoT: Tanaman Robusta Lebih Stabil

“Kalau di peternakan kami di Cipta Visi Farm, saat ini kita memiliki tujuh kandang dengan kapasitas 1.100 ekor. Dan di tempat kami beternak tanpa ngarit, atau beternak dengan sistem pakan kering,” jelasnya.

Pakan berupa rumput pakcong, odot, dan kelobot jagung yang difermentasi selama 3 hari, ditambah konsentrat dari kulit kacang, bungkil sawit, dan gaplek untuk meningkatkan protein hingga 16%.

Dengan pakan 800-1.000 gram per ekor per hari, dihasilkan 130 gram daging dengan rasio konversi pakan (FCR) sekitar 6,15. Sistem ini tidak hanya efisien, tetapi juga berkelanjutan dan terintegrasi dengan perkebunan kelapa organik di desanya, di mana limbah ternak dimanfaatkan menjadi pupuk.

“Dari perkebunan kelapa itu, kita bisa memproduksi gula semut. Perlu diketahui, akhir dari peternakan adalah awal pertanian, sedangkan akhir pertanian adalah awal peternakan. Itu yang harus dipegang,” papar Rayndra.

Uap Panas Bisa Ubah Limbah Jadi Pupuk: Solusi Baru Petani Kamojang Hadapi Biaya Tinggi

Mendirikan Sekolah Petani hingga Mendapat Mandat Nasional

Kesuksesan yang diraih Rayndra tidak mudah membuatnya berpuas diri. Ia memiliki komitmen kuat untuk membagikan ilmunya dan mengajak lebih banyak generasi muda terjun ke sektor pertanian.

Langkah konkret Rayndra tunjukkan dengan membuka Sekolah Petani Milenial dan program permagangan secara gratis.

“Semuanya gratis. Untuk Sekolah Petani Milenial ada 2.870 orang, dan magang 320 orang, mungkin akan terus bertambah,” imbuhnya.

Inisiatif ini lahir dari keprihatinannya akan usia petani Indonesia yang didominasi oleh generasi tua di atas 45 tahun, sehingga sangat diperlukan regenerasi yang masif.

Perjalanan Rayndra sendiri dimulai dari bantuan program Pertumbuhan Wirausahawan Muda Pertanian dari Kementerian Pertanian senilai Rp30 juta pada tahun 2016.

Apa Itu Teknik Geothermal Dry House yang Antarkan Kopi dari Gunung Kamojang Tembus Pasar Ekspor?

“Saya menjadi salah satu penerima program dari Kementerian Pertanian saat itu,” kenangnya.

Bantuan tersebut menjadi batu loncatan yang membawanya pada kesuksesan seperti sekarang.

Dedikasinya yang berkelanjutan mendapatkan perhatian dari pemerintah. Pada tahun 2025, jerih payahnya diakui secara nasional dengan terpilihnya Rayndra sebagai Ketua Umum Duta Petani Milenial dan Duta Petani Andalan untuk periode 2025–2030.

Pengakuan dan mandat ini adalah bukti nyata bahwa pertanian adalah sektor yang sangat prospektif.

“Pertanian itu sudah maju, modern, dan keren. Ini bentuk bisa menghadapi krisis pangan, karena bangsa pemenang adalah bangsa yang bisa menciptakan pangannya sendiri,” tandasnya.

Tanaman Bengkuang Ternyata Beracun, Bisa Dijadikan Pestisida Alami

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Kisah Rayndra, Sukses jadi Petani Milenial dan Membangun “Kerajaan Domba”
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us