1. News
  2. Kombitainment
  3. Pestapora 2025 Berakhir dengan Maaf dan Terima Kasih

Pestapora 2025 Berakhir dengan Maaf dan Terima Kasih

pestapora-2025-berakhir-dengan-maaf-dan-terima-kasih
Pestapora 2025 Berakhir dengan Maaf dan Terima Kasih

Pestapora 2025 sukses terlaksana tanggal 5-7 September lalu di JIExpo Kemayoran, tempat di mana festival ini langganan diadakan sejak perdana muncul 3 tahun lalu. Akhir pekan itu tentunya sudah ditunggu jauh-jauh hari oleh banyak orang yang ingin menyaksikan penampilan dari musisi favorit yang dijadwalkan tampil di festival.

Sekitar 1 minggu lebih sebelum Pestapora 2025 digelar, banyak kejadian yang terjadi di negeri ini, mulai dari demo di tanggal 25 Agustus yang merespons pemberitaan mengenai tunjangan hunian anggota DPR yang mencapai 10 kali upah minimum, sampai aksi puncak protes saat aparat menewaskan seorang driver ojek online, Affan Kurniawan menggunakan kendaraan taktis polisi.

Tentunya kejadian-kejadian ini berbuntut keramaian yang dilakukan oleh demonstran, sampai oknum-oknum tak bertanggung jawab yang menunggangi protes ini untuk memantik kerusuhan.

Beragam peristiwa yang terjadi membuat aktivitas banyak orang terhambat, terutama masyarakat yang tinggal atau sehari-harinya melewati zona merah. Waktu yang semakin dekat dengan perhelatan Pestapora membuat orang bertanya-tanya, apakah festival ini tetap akan digelar?

Tepat di hari Selasa (02/09), Kiki Ucup selaku Festival Director Pestapora mengumumkan via video di media sosial, bahwa festival asuhannya ini tetap berjalan di tanggal 5-7 September, namun dengan penyesuaian jam, yaitu dari jam 8 pagi-8 malam. Ini jadi pertama kalinya sebuah festival diadakan pada pagi hari. Kejadian ini membuktikan bahwa semua peristiwa politik, apa pun bentuknya, pasti punya pengaruh kepada kehidupan.

Meski tidak biasa, namun banyak pihak yang akhirnya bisa berdamai dan bersemangat untuk merasakan momen perdana berfestival musik sejak pagi. Hal itu pun kami saksikan sendiri di hari pertama perhelatan.


Hari Pertama Pestapora 2025: Pagi-pagi Sudah Berpesta

Tim Pophariini yang bertugas meliput Pestapora 2025 sengaja untuk datang jam 8 pagi, sesuai dengan yang diumumkan Ucup di video beberapa hari sebelum. Antara tak disangka dan tak kaget juga, ternyata banyak penonton yang sudah standby di antrean. Bahkan salah satu penonton–yang meminta untuk namanya tak disebut–mengaku sudah jalan dari rumahnya di daerah Cibubur dari pukul 5 pagi.

Gerbang masuk Pestapora 2025 / Dok. Gerald Manuel

Suasana antrean masuk Pestapora di pukul 08:00 WIB / Dok. Gerald Manuel

Tak bisa dipungkiri, kondisi yang ‘kepagian’ ini membuat saya harus melakukan beberapa penyesuaian saat memasuki area JIExpo. Setelah siap dengan topi dan bandana untuk menutup kepala dari terik matahari, saya pun langsung beranjak untuk menikmati sajian Pestapora 2025 hari pertama, yaitu para musisi saling membawakan lagu musisi lain. Sajian pertama adalah .Feast membawakan Barasuara, tepat di pukul 09:20 WIB.

Di momen itu, para personel .Feast berdandan seperti rupa klasik personnel Barasuara di awal kemunculan mereka. Baskara mengenakan batik (seperti Iga Massardi di era album Taifun), Awan memakai kaus bertuliskan “Kurang Lincah” (sebagai parodi Gerald Situmorang yang dulu kerap memakai kaus bertuliskan “Lincah”), dan Dicky yang memakai setelan seperti TJ Kusuma.

.Feast membawakan Barasuara / Dok. Gerald Manuel

Jam festival yang dimulai sejak pagi tentu saja membuat Pestapora harus menyediakan waktu salat Jumat di hari pertama. Beberapa jam sebelumnya, sempat diumumkan bahwa yang menjadi Imam di salat Jumat Pestapora adalah seseorang yang spesial.

Benar saja, salat Jumat yang diadakan di area Pestapora Stage itu diimami oleh Rhoma Irama. Fauzan Lubis dari Sisitipsi juga bertugas menjadi muadzin salat saat itu. Pestapora resmi jadi festival pertama yang mengadakan salat Jumat berjamaah di pergelarannya.

Suasana salat Jumat perdana di festival musik / Dok. Gerald Manuel

Setelah salat Jumat, aksi saling membawakan selanjutnya yang kami saksikan adalah saat Bernadya membawakan Hindia, dan sebaliknya. Tak banyak yang bisa dikomentari saat Hindia berkesempatan membawakan lagu Bernadya, selain set panggung yang bagus, Hindia juga tampak tidak kesulitan menyanyikan lagu-lagu solois naungan JUNI Records tersebut.

Di sisi lain, penampilan Bernadya membawakan Hindia cukup menarik. Jujur saja, rasa bosan tentunya sudah hadir untuk menyaksikan Bernadya di atas panggung, karena hampir setiap acara yang kami liput, pasti menampilkannya sebagai performer.

Namun hari itu berbeda, saya cukup kaget saat Bernadya membuktikan bahwa dia bisa bernyanyi dengan karakter berbeda. Rasanya ornamen pakaian bernuansa ‘rock’ yang ia pakai hari itu tidak sia-sia karena performanya.

Selain aksi saling membawakan ada juga musisi-musisi yang tampil sepanggung di Pestapora hari pertama, seperti NTRL x MORFEM yang main di Hingar Bingar Stage pukul 15:45 WIB.

Di kesempatan ini saya ingin sedikit meluapkan kekecewaan di penampilan NTRL x MORFEM. Sedikit info, 2 band ini adalah favorit saya saat berbicara mengenai band rock alternatif kawakan, di mana lagu-lagu dari kedua band ini cukup sering saya putar di berbagai kegiatan. Tidak ada yang salah dengan penampilan mereka, hanya saja di sela-sela aksi, mereka sempat memainkan intro lagu “Pucat Pedih Serang” dari Album Minggu Ini (1998).

Sadar bahwa lagu ini sudah jarang masuk daftar set NTRL di zaman sekarang, tentu saya melompat kegirangan saat intronya dimainkan. Meski begitu, saya harus menelan perasaan ‘kentang’ dan kecewa saat mereka berhenti, tertawa, dan Jimi mengatakan, “Gak ada lagu ini di setlist.” Semoga di hari depan saya bisa menyaksikan NTRL atau bahkan MORFEM membawakan “Pucat Pedih Serang” di panggung.

Tepat satu jam setelah NTRL x MORFEM memulai setnya, penampilan Soneta Group x MALIQ & D’Essentials pun berlangsung di Pestapora Stage. Kantor Pophariini yang satu atap dengan MALIQ membuat kami bisa mendengar tipis bagaimana band ini berlatih untuk membawakan lagu-lagu Rhoma Irama.

Saat menyaksikan MALIQ beraksi tentu saja ada rasa haru karena akhirnya kerja keras mereka dalam mengaransemen ulang lagu-lagu yang dibawakan berhasil memantik joget para D’Essentials dan pengunjung Pestapora.

Di Pestapora hari pertama kami juga mendapatkan pengalaman menyaksikan aksi musisi-musisi di panggung kolektif seperti Paguyuban Crowd Surf dan Microgram Alternative Stage. 2 area ini tentu jadi favorit dalam setiap kunjungan ke Pestapora di tahun sebelumnya, karena konten yang ditawarkan memang lebih bernapas bawah tanah, mentah, dan penuh keseruan intim.

Band-band emerging yang perdana tampil di Pestapora dan sempat kami saksikan adalah Spitrage (Depok) dan Madmax (Tangerang). Bukan pertama kali saya menyaksikan aksi Spitrage di panggung. Namun, hari itu di PCS Stage saya merasa cukup bahagia menyaksikan band yang baru saja merilis single “Desire I Lack” di bawah Knowing Records favorit saya itu tampil di festival sekelas Pestapora. Turut bangga.

Lalu ada Madmax, yang berkesempatan tampil di Microgram Alternative Stage. Kami sempat berbincang dengan 2 personel band, Anin (gitar) dan Nadya (drum) terkait bagaimana perasaan mereka tampil di festival tersebut. Mereka pun mengungkapkan bahwa ini jadi salah satu dream come true.

“Setiap kelar latihan kami suka bercanda bilang, “Thank you, Pestapora!”. Jadi hari ini kayak mimpi jadi nyata,” ujar Anin saat ditemui usai tampil.

Kembali ke PCS Stage, kami sangat senang bisa menyaksikan penampilan Dental Surf Combat, unit hardcore yang beranggotakan Siddha (Skandal) dan Anida (Amerta). Cukup lama tidak tampil di panggung, penampilan mereka hari itu cukup mengobati rasa kangen terhadap Dental Surf Combat.

Panggung PCS juga jadi saksi janji dari Dental Surf Combat, bahwa mereka akan segera merekam dan merilis lagu-lagu mereka, mengingat band ini memang belum punya rilisan resmi. Usai melempar janji, mereka langsung gas membawakan beberapa lagu cover di antaranya, “Waiting Room” dari Fugazi dan “Song 2” dari Blur.

Sisa hari pertama pun kami habiskan dengan bertemu dengan teman-teman, saling sapa, saling bertukar cerita dan minuman, serta berbagai kegiatan-kegiatan seru lainnya. Semua ini dilakukan semua pihak tanpa mengetahui hal nahas apa yang bakal terjadi di sisa hari Pestapora 2025.

Hari kedua Pestapora 2025: Sponsor Kontroversial Berujung Gelombang Boikot

Di malam hari pertama, saat semua kesenangan dari Pestapora 2025 masih melekat dalam perjalanan pulang, ternyata harus hilang seketika saat mengetahui keterlibatan sebuah korporasi yang penuh kontroversi menjadi salah satu sponsor di Pestapora 2025. Tidak hanya jadi sponsor, bahkan Pestapora memberikan ruang bagi mereka untuk melakukan pawai di hari pertama saat siang hari.

Kabar ini pertama kali saya lihat saat band Kelelawar Malam, salah satu penampil di hari kedua Pestapora menyatakan undur dari perhelatan karena kehadiran korporasi tersebut sebagai sponsor. Malam itu juga, Pestapora memberikan pernyataan bahwa mereka sudah memutus kerja sama dengan perusahaan tersebut.

Ditinggal tidur selama satu malam, pengumuman undur dari lebih banyak band pun memenuhi linimasa di pagi hari. Belakangan akhirnya kami tau bahwa ada lebih dari 30 band yang memilih enggan tampil di Pestapora 2025.

Di hari itu juga beberapa band yang terlanjur main di hari pertama pun memberikan pernyataan di media sosial masing-masing tentang bagaimana mereka tidak mengetahui kehadiran perusahaan tersebut sebagai sponsor. Tidak sedikit juga dari band yang batal main dan terlanjur main yang menyampaikan kekecewaannya pada festival ini.

Meski sudah ada permintaan maaf dari Kiki Ucup di video unggahan Pestapora, namun banyak yang memilih tetap batal tampil karena merasa sejak awal keputusan Pestapora untuk bekerjasama dengan perusahaan tersebut sudah sangat salah.

Bukti paling nyata dari kekecewaan ini terjadi pada kolektif Paguyuban Crowd Surf yang mengambil sikap untuk menutup area tersebut selama 2 hari sisa Pestapora. PCS Stage pun beralih fungsi jadi tempat istirahat dan ngadem para penonton.

PCS Stage ditutup di Pestapora hari ke-2 dan ke-3 / Dok. Gerald Manuel

Saat para penonton mengira Pestapora akan jadi ruang aman untuk berekspresi setelah diterpa berbagai berita tidak mengenakan sepekan ke belakang, ternyata masih harus dihadapkan dengan kenyataan bahwa keputusan menghadirkan perusahaan tersebut ternyata berdampak sangat buruk bagi festival ini.

Ada yang memutuskan batal, namun ada juga beberapa musisi yang memutuskan untuk tetap tampil di hari kedua. Beberapa di antaranya adalah MORFEM, Lomba Sihir, Yacko, Sal Priadi, dan masih banyak lagi.

Yacko bahkan jadi musisi pertama yang menyatakan kalau ia tetap akan tampil di Pestapora. Ia merasa bahwa panggung akan selalu menjadi platform-nya, maka akan digunakannya untuk menyuarakan aspirasinya terhadap isu-isu yang kerap diangkatnya, termasuk isu sponsor Pestapora ini.

Yacko memilih untuk tetap manggung di Pestapora 2025 / Dok. Pohan

“Gue mendonasikan 100% fee yang gue terima bersih itu ke WALHI (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia). Karena biar digunakan aja untuk melawan isu lingkungan yang terjadi,” ucap Yacko saat ditemui beberapa saat sebelum tampil.

Meski begitu, ia mengaku ini bukan keputusan mudah baginya. Bahkan Yacko mengaku sempat tidak bisa tidur sebelum mengambil keputusan tetap tampil tersebut. Sang musisi hip hop ini pun sempat memberikan pendapatnya untuk para penggelar festival, agar hal serupa tidak terjadi lagi ke depannya.

“Dari awal sudah ada batasan-batasan. Harus melihat juga isu-isu apa yang masih terus marak terjadi dan belum terselesaikan. Melihat kami musisi di Indonesia, banyak sekali ya isu-isu yang disuarakan. Kembali lagi, musik adalah medium berekspresi dan bersuara, jadi sudah sepatutnya penyelenggara itu juga memperhatikan isu-isu yang terjadi,” tegasnya.

Momen yang bisa dibilang jadi semacam puncak acara hari kedua adalah di Boss Stage, pukul 18:50, waktu dan tempat di mana harusnya ada penampilan The Adams x FSTVLST. Saat sedang menantikan mereka naik panggung kami malah mendapati di tengah-tengah penonton ada set gitar akustik dan drum set sederhana.

Saat dilihat lebih jelas, di bagian tengah penonton tersebut sudah ada para personel The Adams dan FSTVLST. Alih-alih tampil di panggung, kedua band ini memutuskan untuk tetap tampil dengan set akustik, namun sebelum itu menggelar ruang diskusi terhadap isu Pestapora.

Suasana diskusi The Adams x FSTVLST / Dok. Gerald Manuel

Sesi tersebut dibuka oleh Saleh Husein yang menyampaikan bahwa keputusan ini mereka ambil setelah berdiskusi panjang dengan beberapa musisi bersama Pestapora dan Boss Creator. Saat itu turut hadir juga beberapa musisi seperti Dochi Sadega, Kunto Aji, Ugoran Prasad, Vincent Rompies, sampai Kiki Ucup sendiri.

Tidak hanya bicara satu arah, para musisi ini juga memberikan kesempatan bicara dari beberapa penonton sebagai perwakilan. 2 orang pun mengangkat tangan dan berkesempatan menyampaikan kekecewaan mereka, namun di saat yang sama juga menyampaikan penghargaan mereka kepada The Adams x FSTVLST yang mau mengadakan ruang dialog ini.

Penonton pertama yang maju bernama Bayu, ia mengaku datang jauh-jauh dari Palembang untuk perhelatan Pestapora. Setelah mengungkapkan kekecewaannya, Bayu mengatakan bahwa lewat isu ini, ia jadi lebih paham dengan apa yang terjadi di Papua Barat–wilayah di mana perusahaan besar kontroversial itu melakukan tindakan eksploitasi.

Penonton lainnya yang bersuara adalah Mariam. Selain mengapresiasi adanya ruang dan kesempatan ini, ia juga menyimpulkan bahwa segala hal yang terjadi di Pestapora ini merupakan konflik horizontal.

Sesi itu pun ditutup dengan Kiki Ucup yang memohon maaf kepada semua penonton secara langsung, sembari memegang selebaran bertuliskan “Papua Bukan Tanah Kosong”. Sesi tersebut berakhir dengan para musisi yang memeluk sang Festival Director.

Hari Ketiga Pestapora 2025: Penutup dari Perjalanan Penuh Dinamika

Tidak banyak yang saya saksikan di hari ketiga, namun banyak kejadian menarik yang terjadi di hari ketiga Pestapora. Momen pertama adalah penampilan MALIQ & D’Essentials, yang hari itu main 2 kali di 2 panggung berbeda.

Jika dihitung dari hari pertama, MALIQ total bermain di panggung Pestapora sebanyak 3 kali. Di hari ketiga, selain tampil di Boss Stage di pukul 10:30 WIB, mereka juga memberikan penampilan kejutan di Standupindo Stage pukul 16:50 WIB. Momen ini tentu jadi aksi yang manis untuk mengobati suasana tidak enak yang dialami semua pihak di beberapa hari sebelumnya.

Di peristiwa itu, MALIQ yang tampil hampir spontan turut mengajak Sal Priadi, Reza Chandika, Enzy Storia, Rendha Rais, dan beberapa komika untuk ikut bersenang-senang di panggung.

Saat malam datang, kami juga berkesempatan singgah di panggung 24 Jamming untuk menonton aksi Goodnight Electric. Band yang sudah lama tidak tampil di panggung-panggung musik ini ramai disaksikan penonton yang rindu dengan penampilan mereka.

Band terakhir yang kami saksikan di Pestapora adalah Gledeg dan Teenage Death Star. Kedua band tersebut sama-sama menutup gelaran Pestapora 2025 di Klab Klub Stage.

Banyak pelajaran yang bisa diambil dari perhelatan Pestapora tahun ini, baik dari sisi penonton, band yang tampil, sampai pihak penyelenggara. Terlepas dari banyaknya masalah, namun Pestapora tetap membuktikan bahwa mereka tetap terbuka dengan banyaknya masukan dari banyak pihak yang terlibat, untuk keberlangsungan festival.

Dalam perjalanan menuju pintu keluar, kami melihat bahwa visual di setiap panggung menampilkan tulisan, “Maaf & Terima Kasih.” yang membuktikan ketulusan permintaan maaf dari pihak Pestapora.

Ucapan Maaf & Terima Kasih di akhir acara / Dok. Gerald Manuel

Di akhir tulisan ini, saya banyak berpikir tentang semua kejadian yang terjadi di Pestapora 2025. Izinkan saya memberikan pandangan ‘bagaimana jika’ saya menjadi band yang berkesempatan tampil di Pestapora.

Jika kondisinya memang band yang saya jalani belum punya barisan pendengar sebanyak band-band yang memutuskan tampil di Pestapora, mungkin saya pribadi juga punya pikiran untuk mundur dari festival, karena merasa impact suara band yang saya geluti tidak punya pengaruh sebesar itu. Namun, harapan agar hal serupa tidak terjadi tentu sangat besar.

Semoga lebih baik ke depannya. Sampai jumpa di Pestapora tahun depan.

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Pestapora 2025 Berakhir dengan Maaf dan Terima Kasih
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us