Synchronize Fest 2025 hari pertama sukses berlangsung tanggal 3 Oktober 2025 di Gambir Expo, Kemayoran, Jakarta Pusat. Pengunjung sudah dibombardir dengan banyak penampilan spesial sejak awal gate dibuka.
Mulai dari aksi Jatiwangi Art Factory yang membuka perhelatan Synchronize secara keseluruhan dengan berkeliling sekitar area festival sampai Komunal pukul 15.45 WIB yang memanaskan XYZ Stage dengan suguhan musik rock petir khas mereka.
Di antara banyak penampil, kami terpaku dengan White Shoes & The Couples Company. Tak biasa, band yang baru saja merilis ulang piringan hitam album Vakansi ini membawakan nomor-nomor dari album legendaris tersebut. Band diiringi brass section untuk lagu-lagu pembuka. Saat membawakan “Vakansi” dan “Kisah Dari Selatan Jakarta”, mereka mengajak gitaris jazz legendaris Oele Pattiselanno menjadi kolaborator. Karya sang legenda diakui Saleh Husein (gitaris WSATTC) adalah soundtrack masa-masa pencarian jati dirinya dan para personel WSATCC.
Perhelatan Synchronize Fest tahun ini sekaligus momen perayaan hari jadi demajors dan ruangrupa yang sama-sama menginjak usia 25 tahun. Sebagai band yang juga jadi bagian dari dua institusi tersebut, WSATCC tentu memberikan ucapan selamat.
“Selamat ulang tahun demajors dan ruangrupa. Tetap berkarya hingga tua,” seru Aprilia Apsari di akhir set WSATCC.
Mengejar momen ini, kami lanjut menemui David Karto selaku founder demajors untuk meminta keterangan terkait perayaan 25 tahun demajors dan ruangrupa di Synchronize Fest 2025.
Menurut David, kedekatan antara demajors dan ruangrupa terjalin sangat erat karena pertemanan mereka memang sudah terbilang lama.
“Sejak 20 tahun lalu kami sudah ngobrol, diskusi, dan bergerak dengan caranya masing-masing. Ternyata tahun 2025 kami merayakan hal yang sama,” ungkap David.
David menambahkan kalau selain hari jadi demajors dan ruangrupa, tahun ini juga tanda syukur Synchronize Fest yang sudah memasuki usia ke-10. Di mana tema “Saling Silang” yang diusung secara tidak sengaja mewakili perayaan-perayaan di dalamnya.
“Kami udah mikir lama mengenai konsep itu, dan situasionalnya ternyata semuanya pas gitu. Mudah-mudahan semua yang kami kerjakan berdampak baik bagi semua,” ujarnya.
Setelah menemui David, Pophariini berkesempatan menyaksikan konferensi pers Whisnu Santika, Dipha Barus, dan Ramengvrl di area media room.
Ketiga musisi yang baru saja merilis single kolaborasi bertajuk “IYAIYA” bulan Agustus lalu ini menceritakan mengapa kolaborasi mereka menemukan kecocokan. Ramen mengawali perbincangan dengan pujian, ia mengungkapkan Dipha dan Whisnu adalah sosok musisi yang cukup detail soal karya.
Menurut Ramen, hal tersebut jadi membuat kolaborasi terasa mudah karena ia jadi tak perlu melakukan banyak hal. Tentu ungkapan tersebut disampaikan dengan nada penuh canda.
Di sisi lain, Whisnu mengatakan kalau kolaborasi dengan rekan sesama DJ, Dipha Barus berawal dari keresahan mereka bersama tentang banyaknya orang yang masih membanding-bandingkan musik berdasarkan selera.
“Aku sama Dipha berinisiasi ‘Kolaborasi aja yuk’, biar ngasih pandangan ke orang-orang kalau lebih baik stop competition, start collaboration,” tegas Whisnu.
Hari pertama Synchronize Fest dihabiskan dengan menyaksikan The Kuda di area Ruru Panggung Layar Tancep. Tak hanya membawakan berbagai nomor favorit penggemar dari banyak album mereka, band juga menjadi bagian dari pameran di area Rumah Ruru.
Pameran The Kuda ini sebenarnya sudah pernah dilakukan ruangrupa di Australia sekitar 13 tahun lalu. Pengalaman menyaksikan The Kuda di Synchronize Fest 2025 tambah menyenangkan karena bisa sambil menikmati karya bukan hanya didengar namun dilihat.
Masih banyak penampilan menarik lainnya di hari kedua Synchronize Fest, yang tentu segera kami tuliskan segera. Sampai jumpa!