Mantis atau Belalang Sembah, Serangga yang Rela Mati Demi Cinta
Mantis atau belalang sentadu, atau juga dikenal belalang sembah termasuk dalam ordo Mantodea. Terdapat lebih dari 2.400 spesies yang tersebar di seluruh dunia.
Nama ilmiah untuk salah satu spesies yang umum dijumpai di Eropa adalah Mantisreligiosa, disebut “religiosa” karena kerap terlihat seperti sedang berdoa.
Mengapa Disebut Belalang “Sembah”?
Sebutan “belalang sembah” atau “praying mantis” dalam bahasa Inggris berasal dari posisi kaki depannya yang khas. Kaki depan belalang ini dilengkapi dengan duri-duri tajam dan sering kali dilipat dan diangkat, menyerupai sikap seseorang yang sedang bersembahyang atau berdoa.
Namun, jangan tertipu oleh penampilannya yang tenang dan religius ini. Posisi tersebut sebenarnya adalah sikap siaga seorang pemburu yang siap menerkam mangsa dengan kecepatan dan ketepatan yang luar biasa.
Kata “mantis” sendiri berasal dari bahasa Yunani, mantikos, yang berarti “peramal” atau “nabi”, sekali lagi merujuk pada postur tubuhnya yang khas tersebut. Secara taksonomi, belalang sembah diklasifikasikan sebagai berikut:
- Kingdom: Animalia
- Filum: Arthropoda
- Kelas: Insecta
- Ordo: Mantodea
Mereka sering kali dikaitkan dengan kecoa (ordo Blattodea) dan rayap (ordo Isoptera) karena memiliki hubungan kekerabatan yang dekat dalam kelompok superordo Dictyoptera.
Kepala Mantis Berputar 180 derajat
Belalang sembah memiliki sejumlah ciri fisik dan perilaku yang membuatnya sangat istimewa di dunia serangga. Kepala belalang sembah berbentuk segitiga dan gampang digerakkan. Mereka adalah salah satu dari sedikit serangga yang dapat memutar kepalanya hampir 180 derajat.
Kemampuan ini memberikan mereka bidang pandang yang sangat luas untuk melacak mangsa tanpa harus menggerakkan tubuhnya, sehingga tidak mengganggu kamuflasenya.
Mereka memiliki sepasang mata majemuk yang besar dan tiga mata sederhana (oseli) di antaranya. Mata majemuk mereka memungkinkan penglihatan binokular yang sangat baik untuk memperkirakan jarak dengan akurat, sebuah keharusan bagi predator penyergap.
Banyak spesies belalang sembah adalah master penyamaran. Mereka berevolusi untuk menyerupai dengan sempurna lingkungan sekitarnya, seperti daun hijau atau coklat, bunga anggrek, bahkan lumut dan ranting kering.
Kemampuan kriptis ini berfungsi ganda: untuk menghindari pemangsa seperti burung dan katak, serta untuk menyergap mangsa yang tidak waspada. Beberapa spesies, seperti Hymenopuscoronatus (orchid mantis), bahkan dapat mengubah warna tubuhnya secara perlahan untuk menyesuaikan dengan bunga tempatnya berdiam.
Belalang sembah adalah karnivora sejati (pemakan daging). Mereka adalah predator penyergap yang bersabar, menunggu diam-diam hingga mangsa yang tidak curiga berada dalam jangkauan.
Begitu mangsanya cukup dekat, mereka akan melontarkan kedua kaki depannya yang seperti pedang dengan kecepatan yang hampir tak terlihat oleh mata manusia (hanya membutuhkan waktu 50-70 milidetik). Duri-duri yang tajam pada kaki tersebut akan menjepit dan mengunci mangsa, membuatnya tidak mungkin melarikan diri sebelum dilumpuhkan dengan gigitan.
Termasuk Karnivora, Apa Makanan Belalang Sembah?
Sebagai predator generalis, belalang sembah memangsa hampir semua serangga dan artropoda lain yang dapat mereka tangkap. Menu mereka sangat bervariasi, termasuk lalat, nyamuk, jangkrik, ngengat, dan kupu-kupu.
Spesies yang lebih besar bahkan diketahui mampu memburu mangsa yang lebih besar dari diri mereka sendiri, seperti kadal kecil, katak, burung kolibri, dan bahkan tikus, meskipun kasus tersebut relatif jarang. Peran mereka dalam ekosistem sangat penting sebagai pengendali populasi serangga lainnya.
Cinta Mati Belalang Sembah Jantan
Mungkin aspek paling terkenal dari kehidupan belalang sembah adalah perilaku kanibalisme seksualnya, di mana betina memakan jantan selama atau setelah proses perkawinan. Fenomena ini, meski terdengar mengerikan, memiliki dasar logis dalam strategi evolusi.
Penelitian, seperti yang dipublikasikan dalam jurnal Proceedings of the Royal Society B, menunjukkan bahwa tidak semua perkawinan berakhir dengan kanibalisme, tetapi frekuensinya cukup tinggi. Ada beberapa teori yang menjelaskan mengapa hal ini terjadi:
1. Manfaat Nutrisi bagi Betina: Dengan memakan sang jantan, betina mendapatkan nutrisi berkualitas tinggi yang langsung digunakan untuk perkembangan telur. Studi membuktikan bahwa betina yang melakukan kanibalisme menghasilkan lebih banyak telur dibandingkan yang tidak.
2. Peningkatan Kesuksesan Reproduksi Jantan: Secara mengejutkan, perilaku ini justru dapat menguntungkan sang jantan dari perspektif genetik. Jika sang jantan dimakan, tubuhnya memberikan sumber daya bagi betina untuk menghasilkan lebih banyak keturunannya. Selain itu, dalam beberapa kasus, kepala yang terputus justru menghilangkan hambatan saraf yang memungkinkan sang jantan untuk melakukan kopulasi yang lebih lama dan efektif, sehingga memastikan lebih banyak sperma tertransfer.
Perlu dicatat bahwa jantan tidak selalu pasrah. Mereka memiliki strategi untuk menghindari nasib ini, seperti mendekati betina dari belakang dengan sangat hati-hati atau melompat langsung ke punggung betina dengan cepat.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News