Sal Priadi kembali menggelar Memomemoria 2025 tanggal 24-26 Oktober lalu di PFN Heritage, Jakarta Timur. Lewat berbagai peristiwa yang dihadirkan acara tersebut, saya pribadi merasa seperti masuk ke dalam kepala sang musisi yang cukup kompleks.
Hadir di Memomemoria hari pertama, kami langsung diarahkan untuk memasuki area bernama Sarmal. Area yang kami curiga merupakan kepanjangan dari ‘Pasar Malam’ tersebut dihiasi dengan berbagai pemandangan tak lazim di acara musik, mulai dari komedi putar, area foto yang agak menyeramkan, sampai warga-warga Sarmal yang memakai beragam pakaian aneh. Tak heran kami dan para penonton lain disarankan untuk memakai pakaian hitam polos tanpa grafik apa pun, supaya para warga Sarmal itu tetap mencuat kehadirannya.
![]()
Para penonton Memomemoria memakai pakaian hitam polos / Dok. @andigondi
Jika boleh berkata jujur, pengalaman hadir di Memomemoria rasanya seperti mimpi demam, karena setiap kepala ini menoleh ke arah mana pun selalu ada peristiwa unik yang bisa disaksikan. Sebagian besar dari peristiwa di sana adalah sajian teater yang terkesan spontan namun tetap membuat penasaran.
![]()
Suasana area Sarmal / Dok. @andigondi
Sajian teater yang sempat kami saksikan di hari pertama merupakan persembahan dari kolektif teater seperti Teater Pandora dan I Act Monday Community. Satu peristiwa menarik yang beruntung bisa kami saksikan adalah pertunjukan drama boneka dari Flying Ballon Puppets di area bernama Fantasiana, karena pertunjukan semacam ini sangat jarang di sebuah acara musik.
Di hari pertama Memomemoria hujan turun tanpa kenal lelah. Meski cukup mengganggu, namun para penonton nampak ikhlas menikmati jalannya acara sambil diguyur hujan pelan namun konstan, sehingga membuat rintik hujan yang turun seakan-akan bagian dari konsep acara.
Hal menarik lainnya di Memomemoria pertama adalah kehadiran sosok penyelenggara, tak lain adalah Sal Priadi di tengah-tengah penonton. Jika pengunjung awas, maka cukup mudah mengenali sang musisi yang saat itu memakai topi dan buff untuk menutupi wajahnya. Di saat lumrahnya para musisi mempersiapkan diri di area belakang panggung, Sal secara langsung merasakan apa yang dirasakan para penonton di area Sarmal, membuat Memomemoria jadi acara musik yang punya pembeda dari acara musik lain. Poin plus lainnya adalah bagaimana para penonton menghargai konsep yang diusung Sal dengan tidak langsung berinteraksi.
Selain banyaknya peristiwa yang disaksikan, area Sarmal juga dimeriahkan dengan penampilan berbagai nama musisi yang bergantian tampil setiap harinya di panggung Bunyi-Bunyi antara lain, Otta Tarega, Nadin Amizah, Dissa Kamjaya, Sokhi, In. Inertia, Hagai Batara, Atlesta, Klasikhaus, Bottlesmoker, Matter Halo, Reruntuh x Gulf of Meru, Sri Hanuraga, dan Song Brothers.
Akhirnya tiba juga saatnya untuk menyaksikan puncak acara Memomemoria yang diberi tajuk Pertunjukan Berhati. Para penonton yang antusiasnya memuncak akhirnya mengantre dengan rapi menuju Memomemoria Hall, tempat diadakannya Pertunjukan Berhati. Kesan pertama yang kami dapatkan saat masuk ke area ini adalah ingar-bingar musik elektronik oleh Xin Lie. Meski awalnya cukup membuat tak nyaman, namun lama kelamaan kepala ini serasa dituntun untuk mengangguk menikmati aransemennya.
Perlu diingat, bahwa hampir semua yang masuk ke Pertunjukan Berhati tidak diperkenankan untuk merekam jalannya pelaksanaan, sehingga acara benar-benar bisa masuk ke pikiran penonton dengan lebih khusyuk.
Terdapat 2 panggung yang ada di Memomemoria Hall untuk Pertunjukan Berhati, di mana satu panggung untuk para pemain teater beradegan, dan satu panggung lagi untuk para musisi seperti Sal Priadi, Samo Rafael, dan Gardika Gigih tampil. Format ini membuat posisi depan-belakang rasanya tak relevan, karena bisa menyaksikan jalannya acara dari sisi mana pun.
![]()
Pertunjukan Berhati di Memomemoria Hall / Dok. @andigondi
Tak banyak yang bisa kami ceritakan secara detil tentang apa saja yang menjadi suguhan Sal Priadi dan tim di Pertunjukan Berhati, yang jelas apa yang mereka sajikan cukup meneguhkan bahwa Memomemoria secara keseluruhan merupakan pertunjukan multi-disiplin yang harus dialami semua orang minimal satu kali dalam hidup. Kasarnya, tak perlu menjadi pendengar Sal Priadi untuk bisa menikmati Memomemoria. Jika kalian memang pendengar musik, pengalaman datang ke Memomemoria bisa jadi pengalaman yang mengubah hidup.
![]()
Hadir di Memomemoria mengubah hidup / Dok. @andigondi
Kehadiran Memomemoria yang merupakan hasil dari pikiran liar seorang Sal Priadi tentu menjadi penyegar di tengah format acara musik yang relatif begitu-begitu saja. Meski begitu, saya pribadi tak punya harapan untuk musisi lain tergerak membuat acara dengan konsep serupa, karena pikiran-pikiran liar adalah yang membuat Sal menjadi Sal.
Di akhir tulisan ini saya ingin memastikan bahwa Memomemoria tahun ini tidak akan menjadi yang terakhir. Sangat besar rasa penasaran saya untuk menjadi saksi bagaimana Memomemoria tahun depan bisa terus menjadi kejutan di spektrum acara musik. Sampai ketemu tahun depan, Memomemoria!