1. News
  2. Kombitainment
  3. Rekomendasi Musisi Kulon Progo: Sebuah Catatan Arsip Zaman

Rekomendasi Musisi Kulon Progo: Sebuah Catatan Arsip Zaman

rekomendasi-musisi-kulon-progo:-sebuah-catatan-arsip-zaman
Rekomendasi Musisi Kulon Progo: Sebuah Catatan Arsip Zaman

Berkaca dari apa yang termaktub dalam artikel “Menengok Gegap Gempita Ekosistem Musik ‘Pinggiran’ di Kulon Progo”, Kulon Progo tak pernah berhenti melahirkan musisi-musisi beragam genre. Namun, persoalan konsistensi selalu menghantui. Banyak musisi yang hanya seumur jagung dan akhirnya vakum. Ada yang melanjutkan berkarya, tetapi ada pula yang kemudian hilang ditelan waktu.

Berangkat dari kisah-kisah tersebut, tulisan ini adalah upaya pecatatan generasi. Catatan tentang musik, band, musisi Kulon Progo yang sampai hari ini masih produktif melahirkan karya-karya. Kelak, beberapa tahun mendatang, mungkin catatan ini akan dibaca sebagai arsip, mungkin juga musisi yang tertulis di bawah ini sudah tak lagi aktif.

Meski begitu, musisi yang dicatat di bawah tetap sifatnya subjektif. Ditambah lagi, keterbatasan radar jangkauan dan posisinya sebagai rekomendasi—bukan sensus. Akan tetapi, paling tidak, ini bisa menjadi catatan zaman yang akan diingat dan dibaca untuk membuka kemungkinan-kemungkinan lain.   

Capellen

Dok. Indra Setiawan

Band dusun asal Kedundang, Temon ini memberi sentuhan fresh bagi ekosistem musik di Kulon Progo sejak 2021. Capellen adalah wujud dari Sex Pitols, Black Flag, dan Ramones yang menghabiskan malam bermain kartu di pos ronda. Persona vokalisnya pun, menjelma Johnny Rotten dan Iggy Pop dengan logat medok khas Jawa.

Capellen telah mengukir prasastinya dengan EP Sabung dan satu single berjudul “Franky”. Tema-tema yang mereka angkat dalam karyanya tak jauh-jauh dari kehidupan pekerja dan pemuda kabupaten pinggiran. Dengarkanlah, kelak kalian akan merasakan punk dengan sentuhan ndeso.

Enjoy Drink

Dok. Aryo Seto

Enjoy Drink mewarnai skena midwest emo yang sedang moncer belakangan di Indonesia. Terbentuk sejak 2014, kumpulan pemuda Kulon Progo ini telah menelurkan 9 single dan 1 EP. Sempat hiatus sejak 2019, mereka kembali lagi pada 2023 yang menandai pergeseran musik Enjoy Drink, dari pop punk menjadi emotive pop punk.

Perubahan itu terlihat dari EP mereka berjudul Rachel. Enjoy Drink merubuhkan batas-batas pop punk dengan padu padan warna musik post-hardcore, modern emo, dan sedikit sentuhan teatrikal. Dalam EP tersebut, terdapat pula kolaborasi dengan band asal Iowa, Amerika Serikat bernama Bouquet di trek “Favorite jacket”. Awal tahun ini, Enjoy Drink juga mencatatkan eksistensinya di panggung ibu kota, dengan menjadi salah satu band pembuka State Champ, April lalu.

Kasedan

Dok. Kasedan

Kasedan adalah grup Javanese Black Metal yang terbentuk sejak 2012 di Kulon Progo. Sempat lama vakum, mereka kembali di tahun 2023 dengan album perdana bertajuk Serigala Menoreh. Di album pertamanya, band mengubah genre menjadi black death metal, namun tetap ada sentuhan unsur-unsur Javanese.

Album Serigala Menoreh menceritakan tentang peperangan era Kerajaan Mataram. Tema itu diambil, sebab Kasedan memiliki kedekatan lokalitas dengan Kerajaan Mataram. Daerah di mana mereka lahir, Temon, Kulon Progo adalah bekas wilayah Kerajaan Mataram (Adikarto).

Tahun ini mereka merilis single bertajuk “Elang Mataram”. Single yang menjadi gerbang pembuka untuk album mereka selanjutnya, Setara Raja Neraka. Mendengarkan Kasedan, seperti dibawa di arena peperangan yang penuh darah dan kebrutalan.

SMLHD

Dok. @dwiajiavi

Unit hip-hop ndugal (subgenre hip-hop) ini sudah mencetuskan 50 juta pendengar di Spotify dengan treknya “Rutinitas Radong”. Dibentuk di rumah salah satu anggotanya di Sentolo, Kulon Progo, SMLHD lahir sejak 2016. SMLHD adalah singkatan dari SOMELOHOOD yang berasal dari nama tongkrongan mereka.

Dengan lirik, musik, dan logat yang mempresentasikan identitas kelokalan, membuat mereka menjadi salah satu grup yang memperkaya warna scene hip-hop Indonesia. Jika mendengarkan karya-karya SMLHD, akan ada perasaan ingin bergoyang dan warna musiknya yang membuat kita senyum-senyum sendiri.

Sigger

Dok. Sigger

Bedroom Musicians. Itulah sebutan yang disematkan pada Sigger. Seperti Adhitia Sofyan, ia memproduksi karya-karyanya dari studio kecil di rumah. Karya pertamanya muncul tahun 2021 bertajuk “Sederhana”. Sigger adalah musisi yang produktif, sampai tahun ini, ia sudah menelurkan puluhan single dan 6 album.

Sejak berkarya dari 2021, Sigger mengeksplorasi genre yang ia mainkan. Mulai dari indie pop, dream pop, bedroom pop, hingga soft R&B. Musiknya yang mellow membuat pasar pendengarnya banyak. Single–nya “Moon” sudah didengarkan oleh 11 juta pendengar di Spotify.

Karna Mereka

Dok. Karnamereka

Karnamereka, unit pop punk yang sudah lahir sejak lima belas tahun lalu. Band ini terbentuk saat para personelnya masih duduk di bangku sekolah. Dikarenakan ter-influence dengan Blink 182, Green Day, dan SUM 41, serta Endank Soekamti, mereka membentuk band dengan uang pas-pasan ala pelajar.

Selain karena biaya, keterbatasan jarak untuk menjangkau studio juga menjadi hambatan Karnamereka di awal-awal mereka terbentuk. Namun, itu semua justru menjadi pelecut semangat untuk tetap bisa menghasilkan karya—dengan cara memproduksinya secara mandiri.

Sejak debutnya, Karnamereka sudah merilis beberapa album dan single penting. Let’s Start Here menjadi pondasi awal langkah mereka, yang kemudian diikuti Holahope berisi 21 trek dan 73 yang memuat 7 trek. Karya-karyanya seperti “Ayah Ibu”, “Titik Nadi”, dan “Mati Rasa” menjadi salah tiga yang paling populer. Di tahun ini, Karnamereka kembali merilis album keempat, Fortune. Dengan 16 trek, Fortune meneguhkan bahwa Karnamereka belum selesai.

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Rekomendasi Musisi Kulon Progo: Sebuah Catatan Arsip Zaman
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us