1. News
  2. Berita
  3. Review Film Abadi Nan Jaya, Mimpi Hidup Abadi yang Menjadi Tragedi

Review Film Abadi Nan Jaya, Mimpi Hidup Abadi yang Menjadi Tragedi

review-film-abadi-nan-jaya,-mimpi-hidup-abadi-yang-menjadi-tragedi
Review Film Abadi Nan Jaya, Mimpi Hidup Abadi yang Menjadi Tragedi

SUMMARY

Keinginan Dimin untuk menjadi muda kembali justru melahirkan tragedi. Lewat jamu yang diproduksinya, bukan kebaikan yang didapatkan, malah bencana dan kehancuran keluarga. Kenes dan Bambang serta Karina harus berjuang menjaga keluarganya dari makhluk yang mungkin tidak pernah terpikir sebelumnya. 

Jenis Film Horror, Zombie
Produser Edwin Nazir, Kimo Stamboel
Sutradara Kimo Stamboel
Skenario Agasyah Karim, Kimo Stamboel, Khalid Kashogi
Pemeran Mikha Tambayong, Eva Celia, Donny Damara, Marthino Lio, Dimas Anggara
Rilisan Netflix
  • 23 Oktober 2025
  • 1 Jam 56 Menit
  • TV-MA

poster Abadi Nan Jaya

Kalau film zombie internasional kebanyakan wabah dimulai dari perkotaan, film Abadi Nan Jaya karya Kimo Stamboel memberikan perspektif lain. Setidaknya, akhirnya Indonesia punya film zombie yang proper

Siapa yang kepikiran kalau wabah zombie bisa dimulai dari uji coba minuman jamu? Terus melihat (spoiler alert) Donny Damara, Dimas Anggara, dan Kiki Narendra justru jadi zombie. 

Adalah Dimin (Donny Damara), pemilik perusahaan jamu Wani Waras, yang terus berupaya menyelamatkan perusahaan jamunya dengan melakukan inovasi produk. Namun, karena terus mengalami penurunan, dia hendak menjual perusahaannya. Menantunya Rudi (Dimas Anggara) ingin membantu penjualannya ke pihak lain karena didesak oleh Kenes (Mikha Tambayong), anak dari Dimin. 

Kenes menginginkan penjualan karena ingin bercerai dari Rudi, yang ketahuan berselingkuh. Sementara itu, Kenes juga berseteru dengan sahabat dekatnya Karina (Eva Celia), karena menikahi Dimin. Kenes marah karena Karina dianggap hanya ingin mengincar warisannya. 

Sedangkan, Bambang (Marthino Lio), anak pertama Dimin tak peduli dengan apapun yang terjadi. Dia hanya peduli dengan game dan kesenangan lainnya. Namun, pada akhirnya Bambang menjadi memainkan peran penting dalam film ini.

Awal yang tidak biasa

Jika kebanyakan film zombie tidak memberitahukan penyebabnya, atau setidaknya tidak langsung di awal, Abadi Nan Jaya justru tidak memberitahu di awal. Namun, beberapa film Kimo Stamboel memang membuat penonton menerka. Lugas, gore, dan langsung gas  di awal. Contohnya Headshot, The Night Comes from Us, dan kali ini Abadi Nan Jaya. Film ini juga dibuka dengan nonlinear. Menarik.

Kimo membungkus film zombie ini dengan aroma lokal, yaitu jamu, tradisi keluarga Jawa, dan sudut pandang orang desa. Ada yang ditampilkan secara tersirat, tapi ada juga yang tidak. Secara tidak sadar, Abadi Nan Jaya sebenarnya punya ide yang segar sekaligus dekat dengan keseharian kita sebagai rakyat Indonesia.

Jika berkaca pada beberapa film, tentu saja Kimo memberikan perspektif yang berbeda. Train to Busan misalnya, wabah zombie muncul karena kebocoran radiasi dari pabrik biokimia. Sedangkan, 28 Days Later karena eksperimen virus pada simpanse. World War Z bahkan tidak diberitahu apa penyebabnya, begitu juga film seri zombie legendaris The Walking Dead.

Namun, ada satu benang merahnya, yaitu semuanya hadir karena aktivitas di perkotaan. Setidaknya, ide segar zombie yang ada dan sukses memberikan perspektif berbeda adalah Kingdom yang mengambil plot di masa kerajaan.

Sementara, Abadi Nan Jaya memulainya dari desa dan jamu, sebuah gambaran lokal yang sangat dekat dengan orang Indonesia. Gambaran ini justru yang mengundang daya tarik sendiri, di samping banyak kontra dan kritik yang mendasari film ini.

Baca juga: Sinopsis Film Kabut Berduri, Narasi Antropologi yang Rumit

Kritik pada modernisasi

Menonton Abadi Nan Jaya, sebaiknya tidak hanya melihat kejar-kejarannya saja. Jika dilihat dari sisi lain, Kimo mungkin saja ingin menyampaikan antara kritik pada modernisasi. Kenikmatan modernisasi cenderung membuat orang serakah, seperti ingin hidup nyaman lebih lama.

Di sini, jamu disimbolisasi menjasi semacam minuman “penolak tua”. Hal ini yang kerap terjadi di masyarakat akan keinginan untuk terus muda dengan mengonsumsi beragam macam suplemen.

Manusia modern juga masih kerap mengubah tradisi demi mendapatkan keuntungan. Dimin memandang jamu bukan sebagai pengetahuan turun temurun, demi laku di pasar yang kian kompetitif. Dimin seakan ingin “abadi”, baik secara ekonomi maupun eksistensi. Namun, pada akhirnya keserakahan itulah yang merusak. Keserakahan itu pada akhirnya membusuk dan menelan korban.

Kimo seakan memotret realitas bahwa manusia modern itu sangat ambisius. Mulai dari Dimin yang ingin abadi, Kenes dan Bambang yang melawan orangtua, dan pandangan masyarakat tradisional yang tidak bisa menerima pernikahan dengan umur yang jauh.

Kimo memang tidak menggurui, tetapi dia membiarkan tragedi itu berbicara sendiri. Tubuh yang membusuk karena keserakahan itu melambangkan bagaimana tradisi diubah menjadi komoditas. Pada akhirnya, pertanyaannya adalah bukan virus atau wabah yang berbahaya, tetapi bisa jadi manusia yang serakah karena ingin abadi dan mulia.

Satu line script yang menarik adalah percakapan Bambang dan Rahman (Ardhit Erwandha) yang menyentil kondisi saat ini.

Rahman : “Ini mereka masih manusia atau udah bukan ya, mas? “
Bambang : “Ya, jelas bukanlah mas. Mereka diajak ngobrol aja udah enggak bisa. Maunya saling bunuh, saling makan.”
(Suara adzan) Rahman: “Lah itu masih mau shalat?”
Bambang: “Bukan itu mas, mereka itu masih tertarik sama suaranya aja.”

Baca juga:Sinopsis Film Warfare (2025), Perang Bukanlah Hiburan

Kebodohan, ketidaktahuan, atau potret sosial?

Kritik yang kerap dilontarkan pada film ini adalah karakternya sangat bodoh dan seperti terburu-buru digarap. Padahal Kimo sendiri menyebut, film ini berada di dunia yang lain. Maksudnya, jangan disamakan dengan film-film asing zombie yang sudah ada. Ya, itu benar adanya. Setiap film punya keterbatasan dan caranya sendiri-sendiri.

Setiap karakter seperti tidak tahu cara bertahan hidup, begitulah kata netizen. Namun, justru inilah respons manusia yang membutuhkan waktu itu mencerna semuanya saat kepanikan menyentuh level tertinggi kesadarannya. Sama seperti, kita hendak tertabrak atau melihat kecelakaan di depan mata. Kebanyakan pasti mematung dan butuh respons untuk mencerna. Apalagi jika melihat manusia makan manusia dengan buas di depan mata. Responsnya pasti hanya lari.

Dari situ, insting bertahan hidup muncul. Dan, level bertahan hidup setiap manusia itu berbeda-beda. Kalau melihat The Walking Dead, Carol adalah contohnya. Dari seorang yang bodoh, lemah, dan tidak bisa bertahan hidup tanpa bantuan. Justru menjadi karakter terpintar dan hidup lebih lama. Kimo tentunya ingin setiap karakter bisa berbicara sendiri.

Abadi Nan Jaya diciptakan sebagai dunia yang belum pernah tahu soal zombie. Namun, ini juga seakan memperlihatkan realitas sosial yang tersembunyi. Di dunia yang belum pernah ada yang tahu kata “zombie”, karakter yang ada bukan bodoh, karena mereka tidak punya rujukan budaya atau informasi ilmiah yang memahami fenomena itu. Dalam konteks masyarakat desa, seseorang bisa berubah agresif biasanya justru disebut kerasukan saja.

Maka, Bambang hanya menyebut “kerusuhan” daripada “kerasukan” karena levelnya merusak, bukan berguling sambil teriak. Di sini juga terlihat seperti ada ketimpangan pengetahuan yang justru menjadi refleksi bagaimana masyarakat pedesaaan kerap hanya berada di pinggir modernitas.

Saat bencana datang, seperti wabah, krisis moneter, dan perubahan sosial lain yang begitu cepat, reaksi mereka cenderung gagap. Mereka hanya bersandar pada emosi dan naluri saja, bukan strategi rasional. Mereka butuh waktu.

Kimo seperti mempertahankan realisme ini. Dalam ketakutan, karakter-karakter ini masih saling berdebat, beromantisme dengan yapping panjang, atau menyangkal. Maka, Abadi Nan Jaya sejatinya menyorot bagaimana manusia bereaksi ketika dunia tiba-tiba berubah menjadi sesuatu yang tidak bisa dijelaskan.

Menjanjikan, tapi butuh kedalaman

Secara peran, agaknya tidak bijak mengomentari jika kita belum pernah memainkan peran. Namun, saya melihatnya mereka sudah menjalankan peran sesuai dengan skrip dan visi Kimo.

Mikha yang pada akhirnya menutup perannya dengan visual layaknya Lara Croft, lalu pemain lain yang justru menjadi zombie, dan figuran lainnya yang membuat filmnya lengkap. Applause tentunya harus diberikan pada Eva Celia. Untuk memainkan peran ini, dia harus belajar RX King dan menyetir truk.

Bahwa yapping di akhir dan banyak yang tidak logis, agaknya itu menjadi bumbu sebuah film. Sebab, film tidak selalu harus dibuat sangat mirip dengan realitas. Lalu bagaimana proses pembuatan jamunya bagaimana dan lain sebagainya, biarkan itu menjadi ranah sutradara dan mungkin jadi efek ingin tahu yang memang disengaja.

Walaupun demikian, dengan latar yang tidak biasa dan visual zombie yang memukau, Abadi Nan Jaya tetap butuh pengembangan jika akan berlanjut. Jika zombie sudah masuk ke kota, karakternya tentu sudah harus lebih cerdas dalam bertahan hidup. Kimo juga harus lebih pas lagi memasukkan unsur humor.

Kimo sebaiknya menempatkan aparat keamanan dengan muka yang lebih pantas, walaupun kemampuannya juga lemah. Setidaknya, secara visual bagus, bukan muka-muka pelawak, kecuali Rahman.

Aksi bertahan hidup harus lebih banyak dimunculkan daripada aksi menghindari makhluk aneh tersebut. Setiap karakter juga sebaiknya sudah mulai dimunculkan kedalamannya, terutama Raihan dan Karina yang masih bertahan. Seperti layaknya film zombie lainnya, sisi dramanya tetap harus menonjol, daripada hanya sekadar aksi-aksi belaka.

Kimo Stamboel sebenarnya adalah jaminan sebuah film yang menarik. Pada akhirnya Abadi Nan Jaya bukan soal darah, ketakutan, atau survival, tetapi manusia yang tak pernah puas. Film ini seakan menyentil bahwa keinginan untuk menjadi abadi, bisa membawa kebinasaan, jika tidak ada kebijaksanaan.

Kadang yang paling menakutkan bukanlah yang di luar diri, melainkan ambisi pribadi yang tak mau mati.

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Review Film Abadi Nan Jaya, Mimpi Hidup Abadi yang Menjadi Tragedi
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us