Hampir saban hari, sekitar waktu makan siang, teman saya yang seorang CEO tampak tegang menatap jam tangannya. Ia merasa gusar karena hampir tiap hari ada saja karyawan di organisasinya yang belum kembali dari makan siang walaupun waktu istirahat sudah lewat.
Ia kerap menghela napas panjang dan bergumam pelan, “Ini jelas korupsi waktu.” Dalam benaknya, jam kerja adalah milik perusahaan dan makan siang panjang di luar kantor sama saja dengan mencuri waktu produktif.
Ironisnya, ia sendiri kerap mengirim pesan, baik secara pribadi maupun di grup karyawan hingga larut malam, atau meminta laporan di luar jam kerja tanpa memikirkan bahwa karyawan pun memiliki kehidupan pribadi.
Ia lupa bahwa “korupsi waktu” tak hanya berjalan satu arah. Karyawan yang tidak disiplin terhadap waktu dilihat sebagai korupsi, sementara perusahaan pun kerap mencuri waktu karyawannya dengan alasan loyalitas dan tanggung jawab.
Oleh karena itu, tak heran bila muncul gesekan-gesekan ketika makan siang dua jam dianggap pemborosan dan menyiapkan laporan hingga malam dianggap dedikasi. Di sini, siapa sebenarnya yang mencuri waktu?
Disiplin waktu sudah berubah wajah
Tanpa disadari, perusahaan pun sering mencuri waktu karyawannya melalui permintaan lembur tanpa bayaran, pelatihan di luar jam kerja, atau ekspektasi untuk selalu “siaga” bisa dihubungi pada akhir pekan ataupun ketika sedang cuti.
Korbannya sering kali kelompok minoritas, seperti karyawan baru atau perempuan yang merasa harus bekerja dua kali lebih keras agar dapat diakui, sementara mereka juga mengemban peran ganda di rumah tangga.
Seorang penulis buku-buku leadership, Dr Nika White, mengingatkan, mendorong orang terus bekerja tanpa batas bukan lagi bentuk efisiensi, melainkan kesalahan manajerial yang mahal. Ia menulis, “Dengan memaksa para pekerja lebih keras, manajemen justru mendapatkan hasil yang lebih sedikit.” Karyawan yang kehilangan batas antara bekerja dan hidup pribadi akan kelelahan, kehilangan makna, dan akhirnya melihat bekerja sebagai sekadar kebutuhan untuk bertahan hidup, bukan untuk berkembang.
Liz Ryan, mantan eksekutif HR yang juga penulis kolom “Human Workplace”, menyebut istilah theft of time sebagai “old, crusty idea that had its roots in the factory era” bahwa pada masa lalu orang yang bekerja tampak sibuk bergerak, melakukan beragam pekerjaan yang berhubungan langsung dengan mesin-mesin produksi serta pendukungnya. Akibatnya, karyawan yang tidak terlihat sibuk dianggap sedang mencuri waktu yang seharusnya diberikan untuk perusahaan.
Padahal, dalam dunia kerja modern, berpikir, merenung, dan mencari inspirasi juga bagian dari produktivitas. Inovasi yang merupakan salah satu kompetensi kritis saat ini, bisa berasal dari hasil ngobrol tanpa arah dengan rekan dari berbeda bidang kerjanya hingga menghasilkan ide out of the box.
Selain menyediakan program meditasi, LG Energy Solution mendirikan “Entral Park” yang mencakup fasilitas pusat kebugaran, kafe, dan ruang tidur siang atau querencia tempat karyawan dapat beristirahat dan memulihkan energi. Mereka memahami pentingnya kesehatan mental bagi produktivitas.
Akar psikologis “korupsi waktu”
Fenomena “korupsi waktu” sesungguhnya adalah benturan nilai antara dua generasi: yang satu memegang waktu seperti jam mekanik, yang lain memperlakukan waktu seperti energi yang perlu dikelola.
Pemimpin gaya lama melihat produktivitas dari jam kehadiran. Sementara itu, pekerja modern yang hidup dalam dunia digital melihatnya dari sisi hasil karena mereka bisa melakukan pekerjaan di mana saja, kapan saja. Bagi mereka, jam kerja tidak lagi berarti “berada di kantor”, tetapi “berkontribusi sesuai target”.
CEO yang gelisah melihat karyawan makan siang lebih dari waktu yang seharusnya merasa waktu itu “hilang”. Padahal, mungkin melalui makan siang itu, mereka menemukan ide ataupun kesempatan baru yang bermanfaat bagi perusahaan.
Pada era hibrida, ketika kantor dan rumah menyatu, batas waktu kerja pun semakin kabur. Di satu sisi karena tidak perlu lagi berangkat dan pulang ke kantor. Waktu untuk rapat dan menyelesaikan pekerjaan, sedikit demi sedikit menjadi lebih panjang sebagai kompensasi waktu perjalanan yang tak lagi dibutuhkan.
Namun, di sisi lain, tak jarang pekerja “menyambi” tugas domestik di tengah jam kerja. Di sinilah muncul kecurigaan, siapa yang benar-benar bekerja sehingga muncul berbagai aplikasi pelacak layar, absensi otomatis, dan dashboard kehadiran digital. “Musuh dalam selimut” yang tumbuh diam-diam di sini adalah munculnya rasa tidak percaya. Padahal, kepercayaan, bukan pengawasanlah yang membangun tanggung jawab.
Perusahaan seperti Costco dan The Container Store membuktikan, memberi upah tinggi dan fleksibilitas justru meningkatkan kejujuran dan loyalitas karyawan mereka. Sebab, karyawan merasa dipercaya untuk memegang kendali atas waktu mereka sendiri.
David DeSteno, guru besar Harvard, menemukan bahwa rasa syukur juga menurunkan kecenderungan berperilaku tidak etis. “Menanamkan budaya rasa syukur meningkatkan kejujuran,” tulisnya. Karyawan yang merasa dihargai tidak memiliki alasan lagi untuk mencuri waktu karena mereka merasa sudah memiliki tempat adil yang memberikan haknya.
Dari disiplin ke keseimbangan
Kita memang harus berupaya agar tidak terjebak dalam ekstrem “bebas-sebebasnya” atau “disiplin seterikatnya”. Organisasi perlu menata ulang pandangan tentang waktu kerja. Disiplin waktu penting, tetapi bukan menjadi tujuan akhir.
Yang lebih penting adalah melihat “nilai” dari waktu yang digunakan, apakah memang memiliki kualitas seperti yang diharapkan. Apakah rapat satu jam benar-benar menghasilkan keputusan? Apakah jam lembur membawa kemajuan, atau sekadar mengulang pekerjaan yang belum selesai?
Mungkin menyepakati blok waktu produktif yang realistis lebih tepat dari sekadar menjaga jam kerja formal. Sisanya, berikan ruang bagi para karyawan untuk menata ritme dan memiliki kendali atas waktunya sendiri.
Pemimpin sebaiknya juga bertanya, “Apakah saya sendiri menghormati waktu orang lain?” Di dalam organisasi yang sehat, rasa syukur menjadi pelumas produktivitas. Ketika orang merasa dihargai, mereka tak perlu pura-pura sibuk mengisi waktu. Mereka akan memberi waktu terbaiknya secara sukarela.
HR CONSULTANT/KONSULTAN SDM

Eileen Rachman & Emilia Jakob
Character Building Assessment & Training EXPERD
EXPERD (EXecutive PERformance Development) merupakan konsultan pengembangan sumber daya manusia (SDM) terkemuka di Indonesia.