Dadline resmi melepas album mini perdana bertajuk Dadline & Deadlines (12/12), yang menjadi potret jujur tentang kehidupan dewasa, tekanan, kegelisahan, dan upaya bertahan di tengah berbagai peran yang dijalani secara bersamaan.
Album Dadline & Deadlines bukan sekadar materi, melainkan ruang cerita yang lahir dari pengalaman personal para personelnya. Di mana Dadline sebagai band sendiri memang terbentuk dari keresahan mereka saat memasuki usia kepala tiga.
Dadline awalnya pelarian untuk sekadar bernapas dari rutinitas dan tuntutan sehari-hari di tengah peran sebagai pekerja, ayah, sekaligus bagian dari sandwich generation. Seiring berjalannya waktu, ruang pelarian itu berkembang menjadi proyek serius yang memberi tempat bagi para personel untuk berkarya dan mengekspresikan diri tanpa pretensi.
“Kami ngide aja ngasih genre sendiri, Dadcore Punk,” kata Fauzan dalam siaran pers soal penamaan genre yang mereka mainkan.
Pendekatan ini menghadirkan warna punk yang lebih dewasa dan reflektif, berangkat dari realitas hidup yang dekat dan membumi. Pengaruh Japanese Punk juga kuat, terutama dalam penggunaan melodi yang emosional dan narasi yang lugas. Perpaduan keduanya menghasilkan musik yang tetap bertenaga, namun sarat makna dan kedalaman cerita.
Album mini Dadline & Deadlines berisi tiga lagu yang masing-masing merepresentasikan fase kegelisahan dan dinamika emosi dalam kehidupan dewasa. Trek pembuka “Late Night Overdrive” karya Tryas Lazuardy, tentang kegaduhan pikiran menjelang tengah malam. Lagu ini menangkap perasaan bersalah, hal-hal yang tertahan, serta kebutuhan untuk mengungkapkan semuanya hingga akhirnya bermuara pada penerimaan.
“Menceritakan tentang gangguan dalam pikiran menjelang tengah malam yang membuat waktu istirahat menjadi terganggu,” jelas Tryas.
Trek yang kedua, “When The Sky Stopped Being Blue” hadir sebagai refleksi atas pilihan hidup. Lagu ini mempertanyakan apakah jalan yang dipilih benar-benar yang terbaik dari sekian banyak kemungkinan.
Sementara itu, “First Day of The End” karya Fauzan Romadhon mengangkat pertanyaan-pertanyaan eksistensial yang kerap menghantui manusia sepanjang hidupnya. Lagu ini menyinggung tentang alasan kelahiran, makna kehilangan, serta kemungkinan untuk kembali bertemu orang-orang tersayang di kehidupan berikutnya. Sebuah pernyataan singkat, namun sarat dengan perenungan mendalam.
Proses produksi album berlangsung selama tiga bulan dan dikerjakan di sela kesibukan utama para personel. Berbagai tantangan, baik teknis maupun non-teknis, menjadi bagian dari perjalanan mereka. Dengan semangat mengejar deadline, yang juga menjadi inspirasi nama band, album mini ini akhirnya selesai diproduseri oleh Pemil Kabahtullah dan direkam di Benji Studio.
Dari sisi visual, artwork album menggunakan foto yang diambil di sebuah pasar ikan di Washington DC. Visual dipilih karena dianggap merepresentasikan perjuangan Dadline sendiri, tentang upaya untuk terus berjalan, tetap jujur dan kuat meski berada di tengah situasi yang keras dan penuh tekanan.
Band berharap karya mereka dapat menjadi teman perjalanan bagi siapa pun yang sedang berada di fase hidup yang berat. Baik sebagai ruang pelarian, media penyaluran emosi, maupun pengingat bahwa ketidakpastian hidup bukanlah sesuatu yang harus dihadapi sendirian.
Menyongsong 2026, Dadline berencana untuk terus produktif dengan merilis single baru dan memperluas eksplorasi Dadcore Punk yang semakin matang, dengan sentuhan Japanese Punk yang kian terasa.