Musim panas 2022, Paris Saint-Germain (PSG) seperti biasa sedang sibuk melakukan rekrutan. Nama-nama seperti Vitinha dari Porto, Fabian Ruiz dari Napoli, dan Carlos Soler dari Valencia datang dengan nilai yang besar. Namun, di tengah para rekrutan itu, ada nama muda yang ikut terseret ke permukaan, yaitu Hugo Ekitike.
Kala itu, Ekitike baru berusia 20 tahun. Striker ini bertubuh jangkung dan didatangkan dari klub kecil Reims. Newcastle United sebenarnya datang dengan pendekatan serius, tetapi PSG masuk dan mengubah arah cerita. Ekitike lebih memilih PSG. Walaupun saat itu statusnya hanya pinjaman yang disertai dengan klausul pembelian.
Hugo melewati musim pertamanya di PSG tanpa menit bermain sekalipun. Parc des Princes tak pernah sama sekali memanggungkan dirinya. Namun, baginya musim pertama di PSG merupakan fase pembelajaran, bukan kesalahan yang harus ditutup rapat.
“Saya tidak pernah bilang semua berjalan mulus di Paris. Namun, itu adalah fase pembelajaran dalam karier saya. Saya percaya pada diri sendiri, tidak ada kebencian terhadap apa yang terjadi, itu pengalaman belajar dan saya tidak menyesalinya,” ujarnya kepada Le 10 Sport.

Pembelian tanpa rencana
Walaupun tanpa penampilan, PSG tetap mengaktifkan pembelian Ekitike. Namun, justru ini membuat posisinya menjadi rapuh di PSG. Tanpa status bintang, Ekitike harus berjuang di tengah himpitan nama-nama mentereng, sebut saja Lionel Messi, Neymar, dan Kylian Mbappe. Dia bukan direkrut sebagai bagian penting dari rencana taktis jangka panjang PSG.
Walaupun demikian, Ekitike justru memanfaatkan kesempatan ini untuk belajar. Ekitike mengaku dia mencoba untuk meniru visi permainan Messi, skill dan trik Neymar, dan gerakan tanpa bola Mbappe.
“Saya tidak mengatakan, saya melakukan hal yang sama persis. Saya hanya mencoba mengambil sedikit dari mereka semua,” ujarnya kepada Goal.
Namun realitasnya lebih keras. Perekrutan Ekitike bukan sebuah cerminan dari perencanaan taktis dan melihat performa dari Ekitike. PSG seperti melakukan sebuah perencanaan administratif, struktur kontrak, dan kebutuhan klub untuk mempertahankan aset berharganya. Apalagi saat itu PSG sedang menghadapi ketidakpastian masa depan Mbappe.
Ekitike di PSG akhirnya hanya sekadar menjadi aset tanpa visi jelas. Di musim pertamanya di PSG, Ekitike bermain 32 kali di berbagai ajang klub, dengan menyumbang 4 gol. Sementara di musim keduanya, dia hanya bermain satu kali.
Diselamatkan Frankfurt
Di sebuah ruangan, Dino Toppmöller bersama skuadnya sedang berpikir untuk memilih amunisi baru. Toppmöller lebih menyukai pemain depan yang efektif. Kepergian Randal Kolo Muani membuat Toppmöller memutuskan untuk membeli Ekitike.
Ekitike tidak serta merta langsung dibeli. Eintracht Frankfurt membelinya dengan skema peminjaman terlebih dulu. Pada periode Februari- Juni 2024, Ekitike diberikan kepercayaan untuk bermain 16 penampilan dan mencetak 4 gol. Toppmöller menyukai gaya bermain Ekitike sehingga memutuskan untuk mengaktifkan pembeliannya.
Hasilnya cukup membahagiakan Toppmöller. Selama satu musim, Ekitike bermain 48 kali di berbagai ajang klub dan mencetak 22 gol. Bersama Omar Marmoush, Ekitike menjadi ujung tombak andalan klub.
Permainan Ekitike yang membaik ini bisa jadi karena tidak ada beban. Toppmöller hanya menginginkan dia tampil konsisten. Toppmöller mengeluarkan potensi terbaik Ekitike karena menempatkannya dalam peran yang lebih jelas, yakni rajin bergerak dan menekan lawan.

Dalam sebuah wawancara dengan sebuah media Perancis, Ekitike mengaku sudah memperbaiki kebiasaannya untuk terlalu sering turun ke lini tengah.
“Saya menyadari bisa melepaskan tembakan lebih sering dan menjadi lebih berbahaya. Saya ingin lebih langsung menghadap ke gawang. Saya merasa sebagai pemain yang menjanjikan, telah ada peningkatan signifikan, tapi jalan saya masih panjang,” ucapnya saat di wawancara.
Penampilannya tersebut bahkan mendapatkan apresiasi dari media Jerman dan legenda klub, Ralf Falkenmayer. Ekitike disebut memiliki pergerakan, kepintaran, kecepatan, dan kemauan untuk ikut membantu tim dan berjuang. Ini menandakan struktur yang dibangun Toppmöller berhasil membuatnya menjadi pemain yang lebih lengkap, bukan sekadar potensi.
Baca juga: Dari Pabrik ke Tribun Stadion: Asal-usul Boxing Day
Bersaing sehat
Menjelasng musim 2025/2026, Liverpool memilih untuk mengalihkan perhatiannya kepada Ekitike. Michael Edwards memberikan saran untuk mundur dari incaran utama Liverpool, yaitu Alexander Isak, karena blokir transfer dari Newcastle United.
Isak yang dianggap sebagai pemain lebih matang dan terbukti, ternyata tidak menjadi alasan bagi Liverpool untuk membeli Ekitike. Liverpool harus bersaing dengan Asenal untuk bisa mendapatkannya.

Pada akhirnya, pembelian terjadi dengan nilai transfer sekitar 79 juta pounsterling, Ekitike resmi menjadi pemain Liverpool. Nilai ini cukup besar tetapi Liverpool sangat membutuhkannya untuk menggantikan Darwin Nunez yang tidak tajam. Nilai Ekitike ini juga menjadi salah satu penyerang termahal klub sepanjang masa.
Ekitike mengatakan dalam sebuah wawancaranya saat diperkenalkan sebagai pemain Liverpool, kepindahannya ini adalah sebuah momen tepat untuk membuktikan kualitasnya di level tertinggi.
“Bermain di Liga Primer Inggris adalah sebuah impian besar yang ingin diwujudkan. Saya merasa sanggat bangga bisa bermain untuk Liverpool,” ujarnya.
Ekitike fokus untuk bermain. Dia pun membuka debutnya dengan sebuah gol dan assist melawan Bournemouth. Liverpool menang 4-2 melawan Bournemouth. Namun, kemudian sebelum bursa transfer ditutup, Isak datang sebagai pemecah rekor transfer di Liga Inggris.
Alih-alih mutung, Ekitike tenang dan realistis. Ia tidak marah. Ia juga tidak membangun narasi defensif, malah memberikan sudut pandang yang dewasa. “Ketika Anda bermain di klub besar, Anda pasti akan bersaing dengan pemain terbaik,” ujarnya saat diwawacara The Standard.
Sikapnya yang dewasa juga ditunjukkan saat mencetak gol melawan mantan klubnya Eintracht Frankfurt. Saat dia mencetak gol, dia memilih tidak merayakannya. Sebuah tanda hormat yang ditangkap kamera media.
“Saya punya banyak rasa hormat untuk mereka. Mereka membuat saya menjadi seperti ini,” ujarnya setelah pertandingan.
Baca juga: Kisah Blackburns Rovers: Kota Kecil Perusak Dominasi
Ruang yang tak sama
Di tengah gelombang naik turunnya Liverpool di musim ini, Ekitike tetap mengikuti perintah dari pelatih. Dia tetap bermain dengan hati setiap kali diturunkan. Dia harus berbagi penampilan dengan Isak. Namun, dia justru mendapatkan tempat di hati The Kop. Hingga hari ini, Ekitike sudah menyumbang 10 gol dari 23 penampilannya di berbagai ajang bersama Liverpool. Sementara Isak? Hanya 2 gol dari 15 penampilan.

Perekrutan Ekitike merupakan sebuah cerita bagaimana setiap manajer memberi ruang untuk pemain membentuk dirinya. Di Paris, ruang itu terlalu sempit dan dipenuhi suara lantang dari superstar. Sementara di Frankfurt, Ekitike diberikan peran jelas dan dibayar dengan konsistensi.
Kini, di Liverpool, Ekitike mendapatkan ruang di sistem yang lebih besar. Walau tak selalu mendapatkan tempat sebagai starter, Ekitike selalu siap diandalkan. Hugo Timothée Ekitike hanya berusaha menyesuaikan konteks ruang yang dia tempati.
Dia juga menjadi contoh dari perjalanan sepakbola modern dengan gaya konservatif, yaitu profesional. Pemain berdarah Kamerun ini seakan menunjukkan dan berteriak dengan lantang bahwa dia bukan sekadar produk dari konstelasi peluang, tetapi mampu menempatkan peran dan keputusan yang membuat terus relevan di level tertinggi.