1. News
  2. Kombitainment
  3. 100 Lagu Indonesia Terbaik 2025

100 Lagu Indonesia Terbaik 2025

100-lagu-indonesia-terbaik-2025
100 Lagu Indonesia Terbaik 2025

Tidak ada standar khusus bagaimana melakukan penilaian terhadap lagu untuk dicanangkan terbaik karena musik dalam hal ini sangat subjektif—apa yang “terbaik” bagi seseorang, akan mungkin biasa saja di telinga orang lain. Namun, lagu tetap memiliki kriteria umum yang sering dipakai untuk menilai kualitas, baik dari sisi pendengar biasa maupun musisi/produser profesional.

Kriteria umum yang dimaksud meliputi komposisi dan struktur lagu, lirik, eksekusi vokal dan performa, produksi dan aransemen, dampak emosional, originalitas, relevansi dan konteks budaya, serta konsistensi dan timelessness. 

Di halaman Kaleidospop yang kami terbitkan setiap menyambut tahun baru ini, lagu terbaik mengacu tidak ke semua kriteria tersebut melainkan untuk memberikan informasi kepada pembaca dan apresiasi terhadap karya para musisi sebagai tujuan utamanya.

Berikut 100 lagu Indonesia terbaik pilihan Pophariini yang rilis di sepanjang 2025. Simak langsung:

Pohan

Gelap Yang Terang – Panji Sakti

Pertama kali mendengarkan lagu ini acak di platform musik. Rasanya seperti tengah menyelam di lautan, butuh konsentrasi untuk bertahan tidak mati. Dalam kenyataan yang tak selalu baik-baik saja, musik selalu mungkin menjadi peneman tanpa syarat begitu dan begini. Meski tidak revolusioner secara produksi, lagu ini tetap terasa personal dan berpotensi timeless. Semoga karier Panji Sakti panjang umurnya.

Suara Dalam Kepala – NOAH, Ramengvrl

Bukan fans Peterpan maupun NOAH, tetapi single yang membawa kampanye #STOPOVT ini menyita perhatian karena memberikan suguhan segar dengan memadukan pop-rock matang ala NOAH dengan rap edgy Ramengvrl. Struktur lagunya dinamis dan tidak monoton. Liriknya reflektif dan menggugah, ditambah keseimbangan elemen elektronik dan rock yang mulus terdengar.

semua lagu cinta terdengar sama – Hindia

Di album Sal Priadi MARKERS AND SUCH PENS FLASHDISKS, tadinya hanya sering mendengarkan “Foto kita blur”. Begitu Hindia bikin mixtape Doves, ‘25 on Blank Canvas, yang menampilkan lagu ini jadi sering memutar “Semua lagu cinta”, dan suka kedua versi. Memadukan indie-pop dan spoken storytelling, “semua lagu cinta terdengar sama” seperti membaca buku harian terbuka.

Dynamite – Nartok 

Lagu “Dynamite” rilis sebagai single awal 2025, yang 6 bulan kemudian masuk daftar album penuh berjudul sama. Punya hook kuat dan struktur yang fokus kepada build-up dan drop. Pemiliknya Nartok kelahiran Medan 1996 yang mengawali karier tahun 2023 lewat perilisan “Mungkin Aku”. Tak hanya kerja sama dengan Sun Eater, mulai 2025 ini sang rapper juga kolaborasi bareng Greedy Dust.

Sesungguhnya – Jebung

Jessica Bungauli Silaban atau dikenal dengan nama panggung Jebung menyanyikan “Sesungguhnya” tentang kejujuran dan kerentanan. Meski R&B sering disebut terdengar begitu-begitu saja karena punya ketukan yang mirip atau sebatas cinta, patah hati, dan gairah temanya, namun kualitas vokal Jebung atau sederet penyanyi R&B Indonesia jauh dari biasa yang selalu bisa menjadi keunggulan genre ini. 

Looking for Love in Wrong Places – Assia Keva

Lagu bernuansa R&B/Soul ini ditulis Assia Keva bersama produsernya Pamungkas, yang juga menjadi babak baru perjalanan sang penyanyi gabung di label Maspam Company Ltd. Terdengar tenang namun penuh kontrol, vokal Keva penuh warna dan aransemen musik yang disuguhkan memberikan kesan fresh dari materi Keva yang sebelumnya, meskipun terasa sangat Pam. 

Aturan Cinta – Matter Mos

Jumlah pendengar lagu ini belum mengalahkan “Jam Makan Siang” (Hindia) di platform musik. Padahal Matter Mos sudah melakukan cara berpromosi yang umum dan memang sempat gentayangan di media sosial. Tapi momen pentingnya mungkin bukan soal angka jutaan, melainkan ia menuliskan lagu bersama tambatan hati, yang kini sudah resmi menjadi istrinya.

Love In The City – Mister Nobody, Manutized

Rapper Mister Nobody melakukan kolaborasi dengan Manutized pertama kali di single “Pesta Di Barat” tahun 2020 dan berlanjut ke “DIA” (2021). Empat tahun kemudian, mereka bertemu kembali dalam “Love In The City”, lagu tentang kesepian dan pencarian cinta di tengah hiruk-pikuk kota. Rap dan beat hip-hop yang ditawarkan Mister Nobody pun makin sempurna dengan vokal R&B Manu yang melodius.

Pikiran Yang Matang – Perunggu

Album penuh perdana Perunggu, Memorandum dapat dipastikan menjadi favorit teman-teman kantor. Mulai dari trek 1 hingga 11 mendapat giliran untuk dinyanyikan bersama di tahun itu, kecuali saya yang hanya sekilas mendengarkan. Namun tidak untuk “Pikiran Yang Matang” yang mereka rilis tahun ini. Keinginan saya menyanyikannya jauh lebih kencang dari teman-teman. 

Close to You/Jauh – Reality Club

Entah kenapa kurang tertarik mendengarkan Reality Club lagi setelah album Never Get Better. Tapi “Close to You/Jauh” dari album Who Knows Where Life Will Take You? memikat hati. Mereka menyuguhkan aransemen musik sederhana dengan karakter suara Fathia Izzati yang tanpa effort, membuat lagu ini terasa apa adanya. Mempertanyakan kebenaran atau kesalahan yang fatal dalam hidup? 

BACK 2 YOU – Rahmania Astrini

Sepantasnya penyanyi R&B tidak lagi menjadi seperti hanya pelengkap di festival musik. Terbukti Rahmania Astrini menunjukkan keberadaannya dengan suatu momen besar saat ia menjadi pembuka konser Coldplay tahun 2023, walau ada campur tangan label. Sejak muncul dengan 8 tahun lalu, kualitasnya sebagai musisi bagi saya selalu pantas untuk mendapatkan tempat yang lebih stabil.

Alamak – Rizky Febian, Adrian Khalif

Kolaborasi Rizky Febian dan Adrian Khalif di lagu ini terasa cair sejak bait awal. Strukturnya rapi dengan alur pop-soul yang mudah diikuti, groove ringan dan progresi akor yang hangat. Liriknya sederhana, membicarakan kekaguman yang spontan dan dieksekusi dengan chemistry vokal yang saling melengkapi—Rizky dengan artikulasi bersih dan Adrian dengan warna R&B yang santai.

lupa – Mark Natama

Lagu “lupa” hadir dengan pendekatan yang minimalis memberikan ruang besar untuk vokal Mark Natama. Komposisinya tidak banyak dinamika, tetapi mengandalkan repetisi dan kesenyapan sebagai kekuatan. Liriknya jujur dan intim, seperti percakapan dengan diri sendiri, sementara eksekusi vokalnya terdengar rapuh namun terkontrol, memperkuat nuansa kehilangan yang tidak dramatis berlebihan.

Balada Ibukota – Gavendri

Jika bisa direkam ulang, sepertinya seru kalau Gavendri berduet dengan penyanyi era 90-an, Denada yang kemungkinan besar menjadi inspirasi lagu ini. Cosmicburp sebagai produser juga berhasil mempresentasikan isi kepala sang penyanyi tanpa harus mengejar keren. Lirik lagu yang apa adanya, membuat lagu ini terdengar jujur dan dekat dengan realitas keseharian. 

Kacamata – Afgan

Kekuatan utama lagu “Kacamata” terletak pada vokal Afgan yang stabil dan ekspresif karena ia mampu menjaga sisi emosional lagu agar tetap konsisten dari awal hingga akhir dengan lirik metaforis dan mudah dicerna. Ada keterlibatan Mohammed Kamga, Petra Sihombing, dan Iqbal Siregar di lagu ini, yang menurut saya mereka sebagai penulis lagu/produser, karyanya luar biasa.

Sore Itu (Menari) – Asildo

Asildo tampak belum punya banyak materi lagu di platform musik. Ia menawarkan suguhan musik dengan tempo sedang dan aransemen yang hangat seperti cahaya sore yang perlahan berlalu di lagu “Sore Itu – Menari”. Liriknya puitis, dan vokal Asildo terdengar lembut untuk mengajak pendengar larut dalam suasana tanpa dipaksa mengerti. Struktur lagu yang mengalir justru menjadi pesonanya.

Get By – SAILORMONEY

Nadya Syarifa Mirandhany atau dikenal dengan nama panggung SAILORMONEY tercatat muncul pertama kali di platform musik saat ia menjadi kolaborator Muztang untuk single “Thinking Bout You” (2018). Tahun 2025, Nadya begitu produktif hingga “Get By” rilis awal Desember lalu. Liriknya reflektif soal bertahan dan melangkah, yang dieksekusi dengan vokal effortless, memperkuat kesan laid-back khas SAILORMONEY.

Awan Di Kaki – Laze

Laze kembali menunjukkan keunggulan storytelling rap dengan struktur verse yang padat di lagu ini. Liriknya reflektif dan kuat secara naratif. Flow-nya stabil dan artikulatif, dipadu produksi yang minimalis namun atmosferik. Liriknya introspektif, penuh refleksi tentang diri dan perjalanan hidup. Laze menyanyikan lagu dengan artikulasi yang jelas, hingga setiap bar terasa esensial dan mudah ditangkap.

Dreams of Delight – Le Starlet 

Le Starlet adalah proyek musik Upi Maajid, personel Ranu Pani. Nuansa dreamy yang disuguhkan menjadi kekuatan utama lagu ini. Komposisi synth-pop yang berlapis membangun atmosfer melayang, dengan struktur yang perlahan berkembang. Liriknya abstrak sekaligus emosional. Sementara vokal Upi terdengar konsisten, menyatu dengan aransemen tanpa mendominasi.

Kalah Lagi – Biru Baru

Biru Baru menghadirkan struktur pop alternatif yang sederhana dan tidak bertele-tele di lagu “Kalah Lagi”. Aransemen yang tenang memberikan ruang kepada barisan liriknya tentang penerimaan tanpa drama berlebihan. Vokal yang terdengar jujur, seolah menyampaikan rasa kalah yang sudah terlalu sering dialami, membuat lagu ini terasa dekat dan manusiawi.

Teach Me How To Love – Galdive

Galdive menyuarakan lirik yang intim di lagu ini. Vokal Tisha yang lembut berpadu baik dengan produksi yang clean dan sedikit jazzy. Harmoni dan layering vokalnya juga menjadi kekuatan untuk menciptakan suasana kontemplatif. Tak heran duo ini akan mengawali tahun 2026 dengan rangkaian tur di Amerika Serikat karena tanpa penjelasan orang bisa menyangka mereka asal luar Indonesia.

80 km/h – Petra Sihombing 

Lagu “80 km/h” terdengar seperti ajakan untuk tidak tergesa. Petra Sihombing menyusunnya dengan struktur pop yang rapi dan aransemen yang lapang untuk membiarkan lirik berjalan perlahan tanpa perlu dorongan emosi berlebih. Vokal Petra juga terdengar matang dan jujur, seolah berbicara sambil menyetir, memikirkan arah tanpa harus segera sampai.

Bentang Jarak Asmara – Man Osman, Traffic Jam 

Di lagu ini, jarak tidak diposisikan sebagai konflik besar, melainkan kondisi yang harus dijalani. Struktur “Bentang Jarak Asmara” mengalir stabil dari awal hingga akhir, dengan aransemen Traffic Jam yang bernuansa nostalgik namun tidak berlebihan. Liriknya lugas dan vokal Man Osman terdengar tenang penuh empati, seakan lagi menceritakan pengalaman yang sudah diterima, bukan lagi dipertanyakan.

Kita Jalin – TADI

TADI membawakan lagu ini seperti percakapan yang tidak sedang mengejar klimaks. Lagu disusun dengan dinamika yang konstan, mengandalkan kedekatan emosional ketimbang ledakan aransemen. Liriknya berbicara tentang proses menjalin hubungan, bukan hasil akhirnya. Vokal yang sederhana namun hangat membuat lagu ini nyaman didengarkan berulang.

crimson lullaby – dilasarah

Melalui lagu ini, dilasarah tidak menawarkan resolusi yang jelas. Lagu “crimson lullaby” justru hadir sebagai ruang hening—sebuah jeda untuk berhenti sejenak dan meresapi perasaan yang belum sepenuhnya selesai. Pendekatan ini mempertegas identitas musikalnya, sekaligus menunjukkan keberanian untuk membiarkan lagu berjalan tanpa perlu tergesa menuju kesimpulan.

Tamasya di Angkasa – Harra. 

Melalui “Tamasya di Angkasa”, Harra. tidak menawarkan jawaban atau tujuan akhir. Lagu ini lebih menyerupai ruang singgah—tempat pendengar diajak melayang sejenak, sebelum kembali dengan pertanyaan yang mungkin belum selesai. Sebuah pendekatan yang konsisten dengan kecenderungan Harra. untuk membiarkan musik bekerja tanpa perlu banyak penjelasan.

Ends With Holding You – Rifan Kalbuadi

Lewat lagu ini, Rifan Kalbuadi seakan mengungkapkan tidak semua cerita cinta harus berakhir dengan pertanyaan. “Ends With Holding You” hadir sebagai penegasan sikap tentang memilih untuk tetap tinggal dan menemukan ketenangan di akhir proses. Sebuah pernyataan yang disampaikan jelas arahnya. Tidak memiliki aransemen yang inovatif, tetapi sangat kuat secara rasa dan cocok buat penikmat pop ballad.

Sekian, Terima Kasih – Lealona, The Jeblogs

Melalui “Sekian, Terima Kasih”, Lealona dan The Jeblogs tidak menawarkan resolusi besar. Lagu ini lebih menyerupai penutup percakapan yang dilakukan dengan sopan yaitu selesai tanpa perlu penjelasan panjang. Sebuah pernyataan yang sederhana dan jelas tentang memilih berhenti dengan kepala dingin. Kolaborasi ini menunjukkan komposisi pop alternatif yang memiliki struktur lugas.

Kau Hanya Belum Mengerti – Hursa

Hursa menyampaikan lirik introspektif, lugas, dan tidak berusaha menyamarkan emosi di lagu ini. Kalimat-kalimat yang dipilih terdengar seperti pernyataan yang sudah terlalu lama disimpan, kini dilepaskan sekaligus. Ada nada frustrasi, ada keinginan untuk dipahami, namun disampaikan tanpa berbelit. Inilah bagian yang membuat sang lagu terasa dekat—mudah dinyanyikan, mudah diingat, dan mudah dirasakan.

Sambung – Pamungkas, Dipha Barus

Secara lirik, “Sambung” berbicara tentang kelanjutan dan keberanian agar tetap terhubung, meski kondisinya tidak selalu ideal. Narasinya reflektif dan tidak berusaha memberi jawaban mutlak. Pamungkas menyanyikan lagu dengan artikulasi yang konsisten, hingga membuat pesannya mudah ditangkap. Kolaborasi ini menunjukkan bagaimana dua identitas musik berbeda bisa bertemu dalam satu arah yang jelas.

Awan Abu – Jo Soegono

Liriknya bergerak di wilayah refleksi, menggambarkan perasaan muram tanpa harus menjelaskannya secara eksplisit. Jo Soegono menyampaikannya dengan emosi yang tertahan melalui vokal lembutnya. Pendekatan ini membuat “Awan Abu” terasa seperti ruang hening—lagu yang tidak meminta perhatian, tetapi mengundang pendengar untuk bisa diam sejenak.

Pergi/Pulang – Pleasure Seekers, Skandal

Pleasure Seekers dan Skandal menyusun “Pergi/Pulang” dengan pendekatan yang komunikatif. Struktur lagunya jelas, dengan alur yang mudah diikuti dan hook yang kuat. Aransemen rock-pop yang dihadirkan tidak berusaha menjadi kompleks. Mereka membangun energi bersama secara efektif dengan tema lirik yang justru menghasilkan renungan hidup.

Be My Love – I Talk Too Much When I’m Drunk

I Talk Too Much When I’m Drunk memilih jalur yang sederhana di “Be My Love”. Struktur lagu mereka ini stabil, dengan fokus pada melodi dan suasana. Aransemen yang minimal memberi ruang bagi vokal untuk menjadi pusat perhatian, tanpa perlu lapisan produksi yang rumit. Kesimpulannya, “Be My Love” hadir sebagai lagu yang tidak berisik dalam menyampaikan rasa.

the one – no na

Grup vokal perempuan asuhan 88rising, no na beranggotakan Christy Gardena, Esther Geraldine, Baila Fauri, dan Shazfa Adesya. Sejak merilis single perdana “shoot” Mei 2025, mereka terbukti produktif di tahun awal karier. Lagu terbaru “the one” patut mendapat perhatian. Menekankan repetisi elegan dan nuansa yang sensual, menunjukkan estetika modern hingga vibe yang berpotensi timeless dalam ranah slow R&B.

Kenapa? – Jakarta Soul System, Bryan Renaldo, Jay Yen 

Sosok di balik Jakarta Soul System adalah Nutyas Surya Gumilang (NSG). Lama tak mengeluarkan karya atas nama proyek ini, akhirnya ia kembali dengan dua materi baru sekaligus di 2025, “On My Mind” April dan “kenapa?” November 2025. Vokal Bryan Renaldo dan Jay Yen sebagai kolaborator berpadu mulus, didukung aransemen Jakarta Soul System yang hangat dan groovy.

Geger

Lintasan – Pelteras

Saya selalu terkesima dengan drumer yang bisa memainkan pattern drum repetitif namun penuh rasa, seperti yang bisa terdengar di “Lintasan”. Pemilihan lagu ini untuk jadi trek pertama album mini Krisan membuat saya sulit beranjak ke trek-trek selanjutnya karena sibuk menikmati pukulan drum Achmad Raditya yang pernah saya sebut mudah dicerna, groovy, dan unik dalam sebuah ulasan.

Displaced – Morgensoll

Lagu ini bersama nomor bertajuk “Idled” karya terakhir Morgensoll yang memutuskan bubar tahun 2025. Selesai berkelana post-hardcore di album COLORS, band memutuskan untuk mengucapkan salam perpisahan dengan kembali ke akar musik mereka, post-metal. Tak banyak yang bisa saya bahas soal lagu ini, karena secara kualitas sound dan aransemen “Displaced” punya kualitas yang sudah bisa diharapkan. Saya lebih melihatnya sebagai penutup buku yang manis dari perjalanan Morgensoll.

Di Atas Atap – PORIS, BHANZ, Vhanz, abim

Tak bisa dipungkiri lagu ini diputar di mana-mana dalam radar saya selama pertengahan sampai akhir tahun 2025. Meski seringkali saat memutar lagu ini saya melewatkan dua menit pertama dan langsung ke bagian Abim, namun bagian lagu tersebut sempat hinggap di kepala untuk waktu yang cukup lama.

YAAYO – Hindia

Jika boleh jujur, saat pertama kali mendengar mixtape Doves ‘25 on Blank Canvas lagu ini tak terlalu saya simak karena terlalu tenggelam dengan nomor-nomor lainnya seperti “everything you are” dan “betty”. Namun saat menyaksikan video YouTube bertajuk Kamga Mo, Lafa Pratomo, dan Emir Mahendra Cerita “Dapur” di Balik Mixtape Hindia, saya jadi tertarik mendengarkan “YAAYO” usai mendengarkan penjelasan sang produser lagu, Emir tentang sample-sample yang digunakan untuk lagu tersebut. Saat ini “YAAYO” selalu jadi nomor wajib yang saya putar di berbagai kesempatan.

Kau Tidak Konyol Namun Lebih Ke Kont*l – Negatifa

Judul provokatif macam ini tak mungkin tak memicu orang untuk memutarnya. Dari 11 nomor yang ada di album perdana Negatifa, rasanya lagu ini yang hampir selalu saya putar tahun 2025. Terlepas dari ramuan aransemen musik dengan unsur sludge dan powerviolence yang ciamik, makna lirik sang lagu juga cukup menarik. Silakan baca dan pahami sendiri “Kau Tidak Konyol Namun Lebih Ke Kont*l”.

Andai Saja – Lomba Sihir

Dengan lagu ini, Lomba Sihir berhasil membuat saya yang hampir tidak pernah menyetel lagu mereka menjadikan “Andai Saja” salah satu penyumbang jumlah stream banyak. Dari sekian banyak sesi dengar, jujur saja saya beberapa kali meneteskan air mata karena dipicu nada vokal bagian chorus-nya yang sangat indah. Terima kasih sudah menciptakan lagu ini, Lomba Sihir.

lies – gravepile

Kemunculan mereka lewat album perdana April 2025 langsung menarik perhatian saya. Lewat format ‘drum & bass’, gravepile membawakan musik powerviolence yang mentah, kasar, dengan memasukkan unsur noise yang mengingatkan saya dengan band seperti Cthulhu Youth. Bisa dibilang saya suka dengan empat lagu di album perdana mereka. Namun jika bisa memilih satu, rasanya “lies” dengan durasi paling panjang dibanding nomor lain cukup representatif untuk gravepile.

Human Explosive – WAFAQ

Saat menghadiri sebuah konferensi pers, saya direkomendasikan teman untuk mendengarkan band hardcore punk asal Sumatra Barat ini. Kesan pertamanya materi visual mereka, yang mengingatkan saya dengan band HC punk asal New York, Haram. Di lagu “Human Explosive”, WAFAQ memainkan musik bertegangan tinggi dengan variasi riff gitar yang penuh twist. Sangat menarik untuk disimak.

Echoes of a Dying Horizon – Infect

Cukup kaget bisa menemukan band chaotic hardcore asal Medan. Trek pembuka “Echoes of a Dying Horizon” dari album perdana bertajuk Intifadah ini menjadi gerbang perkenalan yang memuaskan dengan Infect. Usai menyimak karya-karya lainnya, saya menantikan waktu untuk menyaksikan mereka secara live. Semoga, suatu hari nanti.

Uang Dimana Mana – Komunal

Pertama kali mendengarkan lagu ini, agak tergelitik sama lirik pembukanya. Saya bergumam, “Kayak pernah denger di mana ya?”. Setelah menyimak lebih jelas, ternyata Komunal menggubah ulang lirik lagu “Jatuh Bangun” dari Meggy Z pada dua bait pertamanya. Di era derasnya jumlah materi musik yang rilis saat ini, Komunal sebagai band rock sepuh berhasil membuat hook yang cerdas untuk membuat orang mendengarkan lagu mereka.

Refuse – DPMBXSM

Album kolaborasi band hardcore dan grup hip hop asal Jogja ini mengingatkan saya ke era soundtrack film Judgement Night yang juga mempertemukan band-band distorsi dengan musisi-musisi hip hop. Mungkin kolaborasi mereka tak terlalu banyak terdengar, namun kami rasa salah satu lagu “Refuse” di album ini layak untuk direkomendasikan.

Jenar – Rassuk

Sebagai pecinta band seperti Converge, sulit untuk tidak suka dengan karya-karya Rassuk. Dinamika lagu “Jenar” menjadi poin yang menarik. Band dengan cermat memainkan emosi pendengar lewat penempatan bagan yang diawali dengan intens di menit-menit awal, di mana semakin ke belakang semakin tenang dan mencekam, lalu dihabisi dengan tancap gas lagi di akhir lagu.

Empati Tamako (Remedy’s Demo 2011) – The Trees & The Wild

Menurut saya titik tertinggi sebuah lagu adalah jika sudah berhasil membuat orang penasaran dengan demo-nya. Itulah yang terjadi pada saya dengan lagu “Empati Tamako” yang demo-nya dirilis beberapa bulan sebelum TTATW tampil di Synchronize Fest 2025. Meskipun agak aneh mendengar lagu ini tanpa lirik ikonik “Terang yang kau dambakan. Hilanglah semua yang kau tanya.” Bagaimanapun ini adalah versi demonya, paling tidak kita semua jadi tau bagaimana perkembangan “Empati Tamako” saat awal ditulis sampai hasil jadinya yang dirilis tahun 2016 lalu.

Percik Kecil – Bernadya & JKT48

Kesan pertama saya tentang kolaborasi ini adalah kalimat, “Kolaborasi yang tak pernah kita sadari kita butuhkan”. Yang menarik dari lagu bagaimana musik ceria bisa mengiringi nyanyian lirik tentang berakhirnya sesuatu yang memercik telah redup. Saya juga suka aransemen pada menit 2:39, yaitu keputusan menyambung part piano only ke drum band yang mengiringi nyanyian Bernadya. Ini menjadi yang cukup mengagetkan.

Requiem – Feral Wound

Band asal Tangerang ini rasanya punya dua poin yang bagi saya menjadi jaminan untuk menyukai band. Pertama, mereka memainkan musik death metal purba (baca: old school death metal) dengan sound berat nan busuk yang terarah. Kedua, format three-piece dengan vokal, gitar, dan drum. Saya selalu merasa band keras yang berekspresi lewat format tersebut cukup berani mengambil risiko menghilangkan frekuensi low, karena berarti mereka harus punya effort lebih dalam hal pencarian sound yang penuh dalam materi dan penampilan live.

Gila – Tamaak

Tenggat waktu penulisan artikel ini semakin dekat, saya malah menemukan lagu dan band ini dalam prosesnya. Penempatan intro bas bernafas funk yang diteruskan dengan intensitas hardcore adalah alasan kenapa “Gila” saya paksa masuk daftar. Di tengah menjamurnya band-band HC, keputusan Tamaak menaruh trek ini dengan intro yang tadi saya jelaskan, lumayan jadi hook yang berhasil membuat diri ingin memutar nomor-nomor lain dari band.

Dry – Pure Saturday feat. Rekti Yoewono

Trek lama yang disimpan Pure Saturday sejak tahun 2018 ini akhirnya resmi dilepas tahun 2025. Nuansa pop romantis 90-an sangat kental terasa dalam lagu. Belum lagi hadirnya Rekti sebagai kolaborator vokal menambah kesan emosional di part chorus.

Demi Keluarga – Tarrkam feat. Doddy Hamson

Ternyata musik punk kartun macam Tarrkam bisa cocok dengan suara berat nan parau Doddy Hamson. Sebagai band yang lebih muda, Tarrkam juga memberikan ruang bagi Doddy untuk mengekspresikan musik yang identik dengan dirinya. Dapat disimak saat band menurunkan tempo di pertengahan lagu, praktis membawa vibes musik Komunal. Pemilihan tema lirik juga sangat identik dengan yang biasa Doddy tulis yaitu perjuangan dalam kehidupan insan kelas pekerja.

Penikam – Total Jerks

Tak ada materi sejak album Life Is Hate (2023), salah satu pahlawan punk dari Depok akhirnya kembali mengeluarkan yang baru di tahun 2025. Di lagu “Penikam” dari sisi musik Total Jerks tak terlalu banyak perkembangan. Tapi saya rasa dengan karya baru ini, mereka sudah cukup menunjukkan eksistensi sampai hari ini. 

Drakilla (Bergentayangan Di Malam Hari) – Teenage Death Star feat. Henry Foundation

Dari sekian banyak versi lagu di album THUNDER BOARDING SCHOOL, versi Henry Foundation yang paling beresonansi kepada saya. Kita tau bahwa album TDS berdurasi lebih dari 34 menit tersebut menampilkan konsep musik yang bagannya sama di setiap lagu, dengan interpretasi vokal dan lirik berbeda. Namun Henry Foundation yang saya rasa memuat lirik yang cukup menggelitik dan sangat dekat dengan masyarakat urban di era ini.

Parancah – Jaydawn & Wukir Suryadi feat. Morgue Vanguard

Dalam artikel 100 lagu dua tahun terakhir saya pasti selalu memasukkan lagu-lagu yang menghadirkan Morgue Vanguard sebagai kolaborator. Mungkin ini terlalu subjektif, tapi cara MV menulis dan membawakan lirik bagi saya cukup menjadi jaminan bahwa lagu tersebut pasti akan bagus. Contohnya lagu ini, bagi saya di tengah ‘kacau’-nya musik Jaydawn dan Wukir, MV berhasil membuat sang lagu lebih bisa dicerna lewat caranya merapalkan lirik.

Behind Closed Doors – Sunlotus

Saya selalu terkesan dengan band yang bisa menemukan sound gitar berat dan kencang, tapi tetap empuk dan tak memekakkan telinga. Poin itu lah yang membuat lagu Sunlotus ini wajib masuk daftar 100 lagu. Jika kalian belum mendengarkan, mari luangkan waktu untuk menikmati pengalaman sonik yang mumpuni dari Sunlotus.

Aku Bisa – Namoy Budaya feat. weaken amore

Jika versi aslinya punya nuansa melankolis total, versi Namoy Budaya hadir dengan nuansa pasrah yang lebih santai. Beberapa kali menyaksikan Namoy membawakan lagu ini di panggung, reaksi penonton cukup beragam, ada yang tetap berjoget menikmati alunan ‘cengcet’, tak sedikit juga yang pernah saya lihat melamun menahan kesedihan.

“THE_MORE,the_less” (Enola ver.) – eleventwelfth & Enola

Versi asli lagu ini sempat masuk daftar 100 lagu beberapa tahun lalu. Saat eleventwelfth memutuskan untuk mengajak teman-teman membawakan lagu-lagu mereka, jelas saya langsung penasaran bagaimana interpretasi Enola terhadap lagu ini. Seperti yang sudah saya harapkan, mereka berhasil membuat “THE_MORE,the_less” terasa jauh lebih sendu dan gelap. Bagian lirik part terakhir yang anthemic pun maknanya jadi lebih dalam.

Harut Marut – Kelelawar Malam

Selain kaget melihat Kevin Julio berperan di video musiknya, saya juga terkejut dengan bagaimana perkembangan Kelelawar Malam di lagu “Harut Marut”. Distorsi yang terdengar lebih tipis dari karya-karya mereka sebelumnya cukup memberikan kenyamanan saat saya menyetel sang lagu. Single ini tentu juga memantik rasa penasaran terhadap apa yang akan dirilis Kelelawar Malam ke depannya.


Yalla Habibi – Whisnu Santika

Entah kenapa perpaduan musik elektronik dan nuansa Arab selalu berhasil menarik perhatian saya. Saat pertama kali mendengarkan lagu, saya tak bisa membendung senyum di wajah merespons bahu yang bergerak tipis tanpa sengaja. Sepertinya menyaksikan Whisnu membawakan lagu ini di panggung harus segera menjadi nyata. 

Echelon – ZIP feat. Mario Panji Prasetya

Satu kata, intens. Padahal jika memungkinkan, ingin rasanya memasukkan semua lagu di album MODEL CITIZEN dalam daftar ini. Namun, saya rasa nomor yang menampilkan Mario ‘Leipzig’ jadi lagu yang paling jadi favorit.

salah display – Dongker & Jason Ranti

Cek cek kebudayaan cek.” Siapa yang tidak tertarik untuk lanjut mendengarkan sebuah lagu yang diawali dengan kalimat tersebut. Mungkin secara popularitas lagu “disarankan di bandung” lebih banyak terpapar kepada pendengar saat ini, namun “salah display” saya pilih karena yang mengawali perjalanan kolaborasi Jason Ranti dan Dongker. Mereka tahun ini juga cukup rajin mengisi panggung bersama di berbagai acara musik.

ZZUF – P.S I’m Fine

Maksud saya memasukkan lagu ini dalam daftar sekaligus ingin menyampaikan pesan kepada ZZUF untuk kembali aktif tampil di berbagai panggung, karena jujur saya belum pernah dapat kesempatan nonton kalian. Tahun depan harapan ini harus kesampaian!

Penarabadan – KUNTARI

Menurut saya, aransemen bagan lagu ini lebih bisa dicerna dengan masih membawa nuansa album LARYNX. Itulah kelebihan Tesla Manaf di proyek KUNTARI. Ia bisa menyusun bunyi-bunyian absurd sehingga meskipun membawakan musik dengan pendekatan eksperimental, tiap bagian lagu buatannya bisa menempel dengan baik dalam ingatan karena bagannya tersusun rapi.

Hot Stuff – Hot Mess Morning Club

Dance punk? Genre apa pula ini?” Itulah isi pikiran saya saat menerima siaran pers dari band Tangerang Selatan, Hot Mess Morning Club. Masa di mana sebuah band bebas menyebutkan apa genre mereka, band ini cukup tepat menggambarkannya. Lagu “Hot Stuff” memaksa badan untuk bergoyang lewat alunan musiknya yang slebor. Semoga sebelum tahun ini berakhir, saya berjodoh untuk nonton aksi mereka.

Cacti Traveler – BABON

Saat pertama kali melihat sampul album Tropical Desert BABON, saya langsung teringat album The Bees Made Honey In the Lion’s Skull milik Earth. Alasan saya memilih karena nomor ini kerap menemani saya dalam mengerjakan pekerjaan. Memang belum sempat menyimak lagu-lagu yang lain, namun tak menutup kemungkinan terjadi di masa datang.

Ke Pasar Bareng Emak – Sukses Lancar Rejeki

Kesuksesan lagu “Maling” sepertinya sudah banyak dibahas di mana-mana. Maka dari itu saya memilih “Ke Pasar Bareng Emak” yang liriknya memang pernah saya alami di masa kecil sebagai anak dari keluarga menengah yang harus tau prioritas saat berkunjung ke pasar swalayan. Mungkin kemampuan membangkitkan inner child para pendengar jadi alasan Sukses Lancar Rejeki bisa mencapai titik ini.

prototype 1 – Falaci

Gebrakan terbaru dari Bogor. Meski menampilkan wajah-wajah lama, Falaci hadir dengan musik yang segar. Materi yang sebenarnya masih berformat demo ini rasanya sudah cukup mumpuni sebagai lagu layak dengar. Untuk Falaci, saya sangat menantikan materi-materi lain dari kalian.

I’LL BE YOUR PAIN – XANDEGA

Jarang mengikuti party di sejumlah area gaul ibukota tak menjadi penghalang saya untuk menikmati lagu-lagu XANDEGA. Sang musisi berhasil membawa imaji ke suasana yang jarang saya alami langsung saat mendengarkan lagu-lagunya. “I’LL BE YOUR PAIN” karya XANDEGA yang sering saya putar untuk merasakan suasana tersebut di tahun ini.

Anta

Space & Time – Bleu Clair, Jevin Julian

Kolaborasi dua produser ini jadi salah satu momen yang menarik dari skena elektronik Indonesia di tahun 2025. Bleu Clair yang dikenal dengan pendekatan house bertemu Jevin Julian dengan sentuhan yang lebih eksperimental. Hasilnya adalah sebuah trek dancefloor yang padat. Jika harus memilih satu nomor yang paling menggambarkan kekuatan musik sebagai lagu dansa, “Space & Time” adalah kandidat yang solid.

Sakura Abadi – Diskoria, Laleilmanino, Neida

Lagu ini terasa seperti potongan memori dari era pop klasik Indonesia yang diberi kemasan modern dan rapi. Vokal Neida sangat menempel seperti mendengarkan cerita cinta sederhana. Videoklipnya juga membekas di kepala saya karena mengingatkan era VHS tahun 1990-an. Secara keseluruhan, lagu berhasil membawa saya kembali ke waktu di mana saya belum lahir. 

Doa – K3bi

Saya terbiasa mendengarkan lagu-lagu K3bi yang energik dengan beat yang terinspirasi dari musik-musik grime UK. Berbeda saat mendengarkan “Doa”, lagu ini berhasil membawakan suara yang lebih tenang dan liriknya melekat di kepala. Teringat pula lagu “Allo” yang menjadi perkenalan, hingga memilih lagu yang rilis tahun ini menjadi favorit saya.

shoot – no na

Sebagai girl band pendatang baru, no na langsung menampilkan aura bintang. Hadirnya mereka mengingatkan saya ke zaman di mana girl band seperti Cherrybelle dan Blink populer. Untuk materi perdana, “shoot” juga menekankan keberadaannya sebagai salah satu lagu yang tidak bisa dihindari telinga, terutama saat menelusuri media sosial pasti muncul lagu ini.

Kalkulasi Berkat – Laze, Mardial, Kay Oscar

Laze berhasil membawakan hip-hop Indonesia ke akar hip-hop yang sesungguhnya, kritis, reflektif, dan groovy. Lagu ini kalau didalami akan terasa sangat relatable bagi banyak orang, menyuarakan perjuangan urban dan refleksi terhadap kondisi sosial-ekonomi. Kondisi kehidupan di tengah kesulitan, perbandingan dengan orang lain, dan upaya untuk tetap bersyukur atas berkat. Semuanya terasa hidup dalam satu napas “Kalkulasi Berkat”.

Kita Ke Masa Depan – Sliver 

Sliver adalah band jazz pop yang memiliki komposisi musik yang tidak terdengar seperti dipaksakan bagus. Lagu ini terdengar sangat ceria hingga kerap saya putar untuk menemani kegiatan bersih-bersih di rumah. Vokalnya hangat, bunyi saksofonnya sopan masuk telinga, dan membuat suasana menjadi adem dan positif.

BATARA – Dipha Barus, Jinan Laetitia

Sempat dibawakan saat ia manggung di DWP 2024, akhirnya Dipha Barus melepas lagu ini secara resmi awal 2025. Bagi saya sebagai penggemar musik elektronik, “BATARA” cukup asyik didengarkan. Tidak megah seperti musik EDM yang biasa dimainkan untuk festival, tapi menendang telinga untuk dinikmati. Unsur kultural lagu ini juga bisa dibilang kuat karena sang musisi terinspirasi dari perjalanannya ke Tanah Karo, Sumatera Utara.

All Is Gone – COLORCODE

Salah satu trek pop-punk favorit saya tahun ini adalah “All Is Gone”. Lagu ini berhasil membawa ingatan saya ke fase galau di masa SMP. Bisa dibilang, bukan cuma kencang gaya punk-nya, tetapi sukses mengungkapkan kekosongan dan kemarahan yang nyata. Memang benar, jika kata orang-orang lagu pop punk cocok untuk dijadikan lagu galau, trek ini sukses menjadi pelampiasan perasaan tersebut.

Maling – Sukses Lancar Rejeki

Bohong jika lagu “Maling” tidak menjadi salah satu lagu paling ikonik di tahun 2025. Saat awal menyadarinya, saya sempat berkata, “Lagu nya absurd banget sih.” Ternyata, mungkin lagu seperti inilah yang dibutuhkan pendengar untuk melewati hiruk-pikuk sepanjang tahun. Sesuatu yang ringan, bercanda, namun membawa keseruan dengan liriknya yang jenaka, serta atmosfer yang membuat kita menjadi seperti anak remaja lagi.

Ajari Sadari – Tinky Winky

Sebagai penggemar kartun jepang, saya merasa lagu ini punya tempat khusus di hati. Riff, lirik, dan suasana yang disuguhkan terasa seperti opening suatu tayangan anime. Mungkin beberapa orang merasa Tinky Winky kurang memiliki karakter vokal yang kuat, tapi justru dengan suasana instrumen yang ia bawakan menjadikan vokalnya “taburan garam” yang pas untuk lagu-lagunya.

Seratus – Lil Salmonela

Mungkin jika mendengar nama Lil Salmonela, orang-orang akan langsung teringat dengan lagu “Ratna Anjink” yang ia buat bersama Lil Kujang. Namun, saya yakin jika mereka mendengarkan lagu ini, ingatan tersebut akan buram sementara. Saat memutar “Seratus” miliknya, pandangan saya terhadap Lil Salmonela berubah dari seorang yang membuat lagu “seenaknya”, menjadi seseorang yang dapat menumpahkan perasaannya secara lebih dalam.

asing – Stereo wall

Setiap kali saya ulang, lagu ini terasa semakin personal. Bagaimana liriknya menggambarkan seseorang mulai mempertanyakan kenapa bertahan dalam relasi yang menyakitkan, lalu mengatasi absurditas itu dengan suara yang lugas tapi penuh emosi. Lewat nomor ini, Stereo Wall berhasil membuat perasaan rumit jadi terasa sah untuk dihadapi.

JARI KASAR – The Brandals, Sukatani

Lagu The Brandals “JARI KASAR” bisa dibilang bentuk perwakilan suara terhadap kondisi politik negeri ini. Terasa bagaimana pesan sosial yang disampaikan saat sering diputar. Kehadiran Sukatani sebagai kolaborator menambah lapisan intensitas musik sang lagu, dengan suara vokal tambahan dan gitar yang tajam juga menunjukkan bukan hanya bisa dinyanyikan, tapi lagu cocok untuk menggambarkan perjuangan.

^ANOTHER:night.a.w.y.o.m.m^ (Mardial ver.) – eleventwelfth, Mardial

Sebagai penggemar musik elektronik, bagi saya versi lagu ini lebih mudah diterima. Aransemen yang dibuat oleh Mardial membuat saya jatuh cinta, dengan sentuhan drum yang lebih up beat dan synthesizer yang mencerminkan EDM. Bagi saya, versi ini terasa lebih pas, tidak lebih, tidak kurang. Masih ada beberapa lagu dalam album DIFFERENT yang menjadi favorit, tapi jika saya dapat menjuarakan satu lagu, ini pilihannya.

Regret – Eastcape

Lagu ini menjadi teman setia untuk melamun di penghujung tahun saat musim hujan tiba. Eastcape memang selalu berhasil menciptakan lagu-lagu sebagai “teman” di saat seseorang memerlukan ruang untuk diri sendiri. Di bagian jeda instrumen, “Regret” mencapai titik puncak suara yang menjadi kawan di tengah kesendirian.

Bawa Daku Pergi – Soundwave

Sudah lama mengikuti Soundwave, tepatnya sejak mereka muncul pertama kali di ajang pencarian bakat The Remix (2015). Materi yang rilisa tahun ini menjadi salah satu materi yang saya unggulkan selama masa karier mereka. Saya rasa lagu yang sebelumnya dipopulerkan Ruth Sahanaya ini terasa lebih hidup dengan sentuhan elektronik Jevin Julian. Vokal RINNI juga tetap berakar pada lagu aslinya, dan membuat saya berjoget setiap mendengarkan.

Runner Up – Moneva

Jika boleh berpendapat, saya selalu merasa Moneva merupakan Alicia Keys yang lahir di Tangerang. Karakter vokal dan musik yang dibawakannya, selalu mengingatkan saya kepada pelantun “If I Ain’t Got You” tersebut. Di “Runner Up”, Moneva benar-benar mengesankan dengan pembawaan lirik yang catchy dan melodi yang terasa sangat lembut di kuping.

Semesta Asmara – Vintonic

Mendengarkan “Semesta Asmara” rasanya seperti berada di antara lampu-lampu dekorasi di sebuah ruangan. Ya, seperti mendengarkan cahaya, itulah cara paling pas untuk menggambarkan lagu ini. Bukan karena lirik “Sinarmu bagai kilau bintang-bintang,” melainkan karena karakter musik yang membawakan perpaduan city pop berkilau dan R&B soulful.

Ambang Rindu – The Lantis

Walaupun “Ambang Rindu” tercipta dalam waktu kurang dari satu jam, lagu ini paling memikat di album Cara Mencintai. Musik dan aransemennya terdengar membawa identitas retro pop khas The Lantis, dengan elemen musik rock pop Indonesia klasik, sekaligus atmosfer melankolis yang kuat di setiap bait liriknya.

Crush on You – Andezzz, Arif Irshadi

Akhirnya, salah satu musisi Indonesia memperkenalkan salah satu genre musik elektronik favorit saya, UK Garage. Menemukan lagu ini rasanya seperti menemukan harta karun di tengah laut yang luas. Hadirnya “Crush on You” memberikan harapan munculnya musisi-musisi baru untuk mengikuti jejak Andezzz, memperkenalkan genre-genre elektronik yang masih kurang umum di kalangan pendengar Indonesia.

DERAU – Jugo Djarot

Sebagai trek pembuka ALTAR, lagu ini merepresentasikan pergulatan batin dan gangguan emosional tak henti. Mendengarkannya bak kejutan dan nama Jugo Djarot sebenarnya terdengar asing di telinga, namun saat pertama kali mendengarkan karyanya, ini menjadi kesempatan untuk menyimak karya Jugo lebih dalam.

I’d Be Lost – Thee Marloes

Sangat bangga saat mendengar Thee Marloes melaksanakan tur ke Amerika Serikat dan “I’d Be Lost” pasti masuk daftar lagu di tur tersebut. Suara vokal Natassya Sianturi yang hangat dan aransemen yang soulful membuat lagu ini tidak hanya cocok untuk telinga, tetapi terasa sangat personal ketika didengarkan berulang.

Dia – Coldiac

Kalau ditanya hal apa saja yang membuat saya penasaran selama tahun 2025, lagu ini menjadi salah satu jawabannya. Bagaimana tidak, karya yang sempat dipopulerkan Vina Panduwinata, Sheila Majid, dan Reza Artamevia ini dibawakan ulang oleh salah satu band yang menurut saya “jago” membawakan ulang lagu-lagu klasik. Hasilnya adalah “Dia” yang terdengar sangat encer ditelinga.

Cipete Raya – Corral

Usai mendengarkan lagu ini secara penuh, saya sekejap langsung berpikir, “Ternyata begini yang selama ini gue rasain ya.” Teringat kehidupan seorang perantau kala balik ke kampung halaman di saat banyaknya perubahan, tetapi yang mengisi kota tersebut selalu sama. Bedroom pop yang dibawakan Corral terasa seperti terpisah sendiri. Bunyi riff basah layaknya ciri khas bedroom pop berpadu dengan karakter vokal unik Asta menjadi suatu hal yang saya rasa dibumbui dengan nikmat.

Attention – Atlesta

Entah mengapa saya selalu merasa terpikat dengan musik-musik dari Atlesta. Mungkin karena distorsi gitar dan hard-synth yang memberi ketegangan bunyi di sepanjang lagu. Atmosfer yang dinamis tidak berlebihan, vokal yang lembut tidak membosankan, menjadi pilihan tepat di saat ingin mendengarkan sebuah lagu tanpa mood tertentu. 

Gerimis Malam Kemarau – Silampukau 

Wow terpukau menjadi reaksi saya saat mendengar deskripsi dari album Stambul Arkipelagia milik Silampukau. Menciptakan sebuah lagu yang menjadi cerita fiksi tentang suatu distopia merupakan hal yang unik dan baru bagi saya. Menurut saya, “Gerimis Malam Kemarau” lagu yang paling bercerita dari seluruh album. Lirik yang dibawakan terasa seperti dongeng yang dijadikan sebuah serenada. 

Ingatlah Aku Di Sini – White Chorrus

Mendengarkan lagu ini rasanya menyenangkan sekali karena aransemen traps dan melodi yang sangat melankolis. Sebagai penggemar musik electro, saya sangat bersyukur dengan kehadiran White Chorrus yang selalu membawakan trek-treknya dengan nuansa electro-pop. Mungkin tidak semasif “Minggu”, tetapi “Ingatlah Aku Di Sini” merupakan hal yang tidak kalah enak untuk didengarkan. 

Mr. Sunflower (Noni’s Lullaby) – Mad Madmen

Meski band ini dikenal dengan energi yang lebih penuh dan maksimalis, lagu “Mr. Sunflower (Noni’s Lullaby)” justru mengambil pendekatan yang lebih minimalis dan intim. Tetapi hal yang membuat saya tertarik justru datang dari ide awal sang lagu tercipta sebagai karakter komik dan rekaman suara ide melodi dari Kalam. Pada akhirnya, lagu ini berkembang menjadi hadiah personal Kalam untuk pasangannya, Dionisia Felika, yang turut menulis sebagian liriknya.

SWITCH! – FN!, Basboi, Dominique Adhadiaz, CVX

SWITCH! bagi saya salah satu lagu paling berwarna tahun ini. Nilai plusnya berasal dari adanya pertemuan gaya yang berbeda, hip hop diwakili FN! dan Basboi, vokal pop yang nyaman Dominique Adhadiaz sampai elemen energi New Jersey beat yang dibawa CVX. Semuanya tersambung secara mulus dan menciptakan trek yang easy listening.

The Panturas – Knights of Jahannam

Saya patut mengacungkan jempol ke The Panturas yang identik dengan surf rock, mereka transisi ke arah yang lebih gelap dan filosofis di lagu ini. Lagu “Knights of Jahannam” terasa seperti ode apokaliptik yang diciptakan oleh band, namun semuanya tidak terasa aneh atau asing, seakan-akan hal ini memang sudah lama ada di dalam band tetapi tidak pernah muncul saja.

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
100 Lagu Indonesia Terbaik 2025
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us