1. News
  2. Kombitainment
  3. Akbar Mardiansyah Inisiator Kolektif Musik Blanket: Kami Mau Powerviolence Tetap Hidup

Akbar Mardiansyah Inisiator Kolektif Musik Blanket: Kami Mau Powerviolence Tetap Hidup

akbar-mardiansyah-inisiator-kolektif-musik-blanket:-kami-mau-powerviolence-tetap-hidup
Akbar Mardiansyah Inisiator Kolektif Musik Blanket: Kami Mau Powerviolence Tetap Hidup

Selama tahun 2025 banyak fenomena yang terjadi di permusikan Indonesia, mulai dari ranah populer sampai bawah tanah. Salah satu movement yang cukup menggeliat adalah kolektif/event organizer untuk band-band dalam lingkup genre powerviolence, grindcore, hardcore, dan sludge/doom metal bernama Blanket.

Berbicara powerviolence, genre ini muncul pertama kali akhir tahun 80-an di Amerika Serikat melalui kelahiran band-band seperti Siege dan Infest. Sajian musiknya singkat, cepat, keras, tanpa kompromi, dan terus berkembang hingga 1990 dan 2000-an, terutama band-band yang bernaung di label-label seperti Slap-a-Ham Records, 625 Thrashcore, dan lainnya.

Menurut saya pribadi, Blanket bak angin segar di tengah kehausan akan acara musik lokal yang secara serius menyorot powerviolence dan spektrum sekitarnya. Setelah bertahun-tahun menikmati genre ini lewat band-band mancanegara yang terasa jauh dan nyaris tak tergapai, Blanket hadir sebagai ruang yang memungkinkan pengalaman serupa terjadi di ranah lokal melalui band-band yang membawa napas, semangat, dan intensitas yang sejalan dengan apa yang selama ini hanya bisa saya simak di internet.

Blanket adalah kolektif DIY yang lahir dari kebutuhan paling dasar di kancah musik ekstrem, ruang. Kami sempat berbincang dengan insiatornya, Akbar Mardiansyah sekaligus gitaris dan vokalis band Basted. Ia mengatakan Blanket sejak awal tidak pernah membayangkan entitas besar atau punya jangkauan yang luas. Bahkan Akbar menggagasnya untuk menjadi sebuah media yang ternyata lambat laun berkembang menjadi organisator acara.

Peran Blanket sebagai pengorganisir gigs pun muncul bukan dari perencanaan matang, melainkan situasi yang memaksa. Saat Basted menjalani tur pertama, Akbar menyadari satu hal krusial tentang bagaimana bandnya tersebut memang tidak punya banyak pendengar.

“Band saya (Basted) sedang melaksanakan tur untuk pertama kalinya, dan kesadaran diri (bahwa) band saya peminatnya hanya sedikit, jadi saya mengagas untuk organize show band saya sendiri di Jakarta,” kata Akbar kepada Pophariini (05/01).

Basted / Dok. Getuk

Lebih dari sekadar gigs, Akbar dan teman-teman Blanket ingin mengejar pengalaman kolektif itu sendiri. “Sekarang fokus Blanket adalah organize show teman-teman luar kota yang ingin main di Jakarta. Saya senang ketika teman-teman lintas kota, lintas genre berkumpul dalam suatu ruang tanpa ada gap apa pun,” ujarnya.

Di tengah intensitas musik yang keras dan ruang gigs yang sering diasosiasikan dengan suasana hingar bingar, isu keamanan justru tidak dipandang sebagai hambatan besar oleh Blanket. Ketika ditanya soal tantangan menjaga ruang gigs yang tetap aman bagi semua orang, Akbar menjawab dengan sederhana.

Blanket menyediakan ruang aman di setiap acara / Dok. Getuk

“Tantangan terbesar sejauh ini gak ada, karena teman-teman juga sudah sangat siap untuk menjaga ruang tetap aman untuk semuanya,” jelasnya.

Pernyataan ini menegaskan bahwa Akbar dan teman-teman Blanket menganggap keamanan bukan dibangun lewat aturan yang kaku, melainkan butuh kesadaran kolektif dan rasa saling menjaga di dalam ruang itu sendiri.

Menariknya, keterikatan Blanket dengan powerviolence, grindcore, dan hardcore ekstrem bukanlah keputusan kuratorial sejak awal. “Awalnya tidak ada fokus apa pun terkait genre, pure organik,” tegas Akbar.

Arah musik yang kini melekat pada Blanket terbentuk dari lingkar pertemanan, latar belakang band-band yang terlibat, serta posisi Basted sendiri sebagai band powerviolence. Faktor kondisi scene juga ambil peran, di mana Akbar merasa geliat musik PV saat itu hampir mati di Jakarta, sehingga keterikatan dengan genre-genre ekstrem tersebut terasa semakin natural dan tak terelakkan.

Proses organik inilah yang kemudian membuat Blanket terus “terikat” dengan genre PV, grindcore, hardcore, dan sludge/doom. Dengan kata lain, Blanket bukan kolektif yang dibangun lewat batasan genre, melainkan lewat relasi, kebutuhan, dan situasi scene yang terus bergerak.

Berangkat dari latar belakang tersebut, kami mewawancarai Akbar untuk menggali bagaimana Blanket memaknai perannya hari ini, bagaimana mereka melihat kondisi musik ekstrem di Indonesia, serta posisi kolektif seperti Blanket di tengah dinamika scene yang terus berubah. Simak wawancara eksklusif Kaleidospop 2025 di bawah ini.


Bagaimana lo melihat peran kolektif musik tidak hanya genre powerviolence untuk musisi Indonesia?

Peran kolektif musik masih sangat penting. Menyediakan ruang bagi musisi tanpa berorientasi kepada materi, yang mungkin bisa membuat para musisi fokus dan maksimal dalam memamerkan karyanya.

Apa benang merah yang kalian lihat dari band-band yang sering muncul di ekosistem Blanket?

Saat ini tidak ada benang merah apa pun karena biasanya band yang akan main di gigs Blanket itu sudah ter-list dari 3-4 bulan sebelum hari H. Tapi rata-rata Blanket berfungsi sebagai ruang bagi teman-teman luar kota yang berkoneksi dengan Blanket. Paling untuk musiknya pasti kami kurasi, mana yang cocok dengan band yang sudah fix masuk daftar, kami pilih. Tentunya yang kami suka juga musiknya. Oh iya, attitude juga penting. Kalau attitude bandmu buruk, sudah pasti tidak akan ada lagi ruang di Blanket. Attitude mencakup semua yang kami yakini, anti-fascist, anti-rascist. Blanket juga merupakan ruang aman untuk semuanya. Jadi kalau ada yang melanggar (prinsip) itu, blacklist.

Jika menuliskan ide terbaik demi menjaga konsistensi genre powerviolence dan sekitarnya di Indonesia. Apa rencana besar Blanket di 2026?

A Festival? Ini baru wacana, tapi memang sudah (direncanakan) dari tahun kemarin, mungkin kami baru bisa spill sedikit karena memang takut belum kesampaian. Konsep festivalnya belum bisa di-spill, tapi nantinya kami akan menampilkan band powerviolence, grindcore, mincecore, dan sebagainya dari dalam dan luar kota.

Berbicara powerviolence/grindcore/hardcore punk itu lebih soal genre musik atau sikap dan cara bergerak di scene?

Menurut kami, ketiga itu merupakan genre musik yang bisa memengaruhi bagaimana cara kalian memandang sesuatu, cara mengekspresikan, hingga cara melihat mana yang benar dan mana yang salah. 

Pendapat lo tentang musik PV/GC/HC punk di Indonesia saat ini?

Saya buat simple. Powerviolence, mati suri. Grindcore, in grind we trust. HC punk, freedom, never die.

Terakhir, apa hal yang pengin terus dijaga mati-matian oleh Blanket ke depan?

Hmm, mungkin (genre) powerviolence kali ya. Kami mau powerviolence tetap hidup. Dan Blanket akan terus menjaga peaceful di dalam scene, no gap, no bullshit. Karena menurut kami bukan lagi saatnya iri dengki antar band/genre. Berbeda pendapat/ideologi itu sudah pasti, tapi ketika di dalam Blanket, kami ingin semuanya menghargai satu sama lain.

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Akbar Mardiansyah Inisiator Kolektif Musik Blanket: Kami Mau Powerviolence Tetap Hidup
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us