Malam itu, Etihad Stadium tidak menggelar laga penting bagi Manchester City. Lawannya hanya klub kasta bawah Exeter City. Namun, fans City tetap datang bukan untuk sekadar menyaksikan tim kesayangannya. Mereka juga menunggu seorang rekrutan Pep Guardiola yang baru, yaitu Antoine Semenyo. Pemain asal Ghana ini pun memperkenalkan dirinya melalui permainan apiknya di laga debut.
Dengan kecepatannya, Semenyo cukup berkontribusi dalam permainan. Sejak awal, Semenyo yang baru datang beberapa hari sebelum pertandingan memang sudah diplot Pep untuk menjadi starter. Setelah unggul 4-0 di babak pertama, Semenyo beraksi dengan memberikan assist dari sisi kiri permainan bagi Rico Lewis pada menit ke-49.
Semenyo tidak berhenti. Sebuah umpan terobosan dari Rayan Cherki di sisi kiri permainan diterima oleh Semenyo. Tanpa gestur berlebihan, dia berlari ke arah gawang. Sejenak mengangkat kepalanya, gestur berpindah ke kiri, kemudian seketika tembakan dilepaskan dengan kaki kanannya. Pelan, presisi, dan bersih. Gol pertama di laga debutnya seperti pembuktian dari pria yang nyaris berhenti bermain sepakbola.
Semenyo tidak berhenti “memasak”. Beberapa hari kemudian, di hadapan pendukung Newcastle United, Semenyo kembali menjadi starter. Sepanjang babak pertama, Newcastle terus menekan. City seakan buntu. Setelah turun minum, City perlahan berbenah. Di menit ke-53, Jeremy Doku menggocek bola dan melepaskan umpan silang. Semenyo menyeruak di tengah rapatnya barisan pertahanan Newcastle dan kakinya berhasil mendorong bola masuk ke gawang. Gol. Kebuntuan City berhasil dibuka. City berhasil menang 2-0 dengan tambahan gol dari Cherki.
Semenyo langsung menjadi headline di media olahraga. Pembicaraan tentang dirinya segera membuncah. Ia bernama Antoine Semenyo, pria yang kini sedang menjadi buah bibir di Liga Inggris. Tanpa embel-embel wonderkid, Ia menjadi fenomena baru saat ini.
Baca juga: Hugo Ekitike dan Ruang Bertumbuhnya
Hampir berhenti dari sepakbola

Antoine Semenyo tidak lahir dari lorong akademi berkarpet merah. Ia datang dari lingkungan yang mengajarinya untuk bertahan hidup, bukan menikmatinya. Pada masa remaja, Semenyo beberapa kali menjalani serangkaian trial di klub Inggris, mulai dari Arsenal, Tottenham Hotspur, Fulham, dan Millwall. Puncaknya adalah Crystal Palace yang membuat Semenyo muda memutuskan untuk menyudahi mimpi menjadi pemain sepakbola.
“Saya ingat setelah masuk ke mobil, saya menangis dan berkata kepada ayah, ‘kenapa ini terus terjadi pada saya?’” saat bercerita kepada Skysports.
Keinginan untuk menjadi pemain sepakbola membuatnya harus melakukan trial. Hidupnya hanya sekolah, tempat latihan. Itu saja rutinitasnya. Untuk melupakan kegagalannya, Semenyo sempat setahun bermain basket, sebelum akhirnya kesempatan dari Bishop’s Strotford datang.
“Saya lelah tidak pernah berhasil diterima setelah melakukan banyak sekali trial dan Crystal Palace adalah breaking point. Saya seperti memutuskan, seperti kamu tahu, biarkan saya menjadi anak-anak lagi, bermain dengan teman, pergi ke sekolah, menjadi normal,” ujarnya.
Adalah sang paman yang mendengar ada open trial yang diadakan oleh mantan pemain Swindon Town dan Manager Leeds United David Hockaday di klub non-league Bishop’s Stortford. Pamannya mendorongnya untuk ikut. Namun, Semenyo yang cenderung sudah patah arang enggan bersemangat ikut. Dia merasa tidak fit dan sudah kelebihan berat badan karena setahun tidak bermain sepakbola. Walaupun demikian, dia pun mencoba.
Baca juga : Pencarian Kiper Timnas Inggris Berkelas Dunia
Tempaan yang menguatkan
Di Bristol City, pria yang juga dikenal religius ini terus menghadapi tantangan. Ada masa dia harus bersabar duduk di bangku cadangan langsung dipinjamkan ke beberapa klub yang tidak dikenal. Dari Bath City, Newport County, dan sempat ke Sunderland, Semenyo justru ditempa secara mental dan fisik.
Bermain sebagai winger, dia memahami bahwa kecepatan bukan segalanya. Dia belajar tentang keberanian berduel, ketepatan mencari momen, hingga kerja keras tanpa menyerah. Saat dia kembali ke Bristol City dari peminjaman, Semenyo menjadi lebih kuat dan mental yang lebih matang. Ini kemudian membawanya berhasil menembus tim inti Bristol City.

Sinarnya terpantau oleh Bournemouth. Dia datang bukan sebagai bintang, tetapi pekerja. Dia hanya berusaha menunjukkan permainan terbaiknya dan membawa Bournemouth sekadar bertahan di liga. Ia tak kenal lelah mengejar bola, mengganggu bek lawan, sampai tak kenal lelah membuka ruang. Bournemouth pun sempat menjadi buah bibir dengan mengganggu papan atas Liga Inggris.
Satu demi satu, gol dihasilkan Semenyo. Dari 101 penampilan bersama Bournemouth, pemain bertinggi 185 cm ini mencetak 30 gol dan 10 assist. Para pemandu bakat klub besar pun bergerak memantau. Catatan demi catatan dikumpulkan. Kecepatan, keberanian berduel, dan pressing tanpa lelah menjadi sedikit hal yang menonjol darinya. Namun, satu hal yang menjadi catatan khusus, yaitu kecedasan Semenyo membaca ruang. Ini adalah kemampuan yang tidak selalu dimiliki pemain sepakbola.
Setelah terus dihubungkan dengan Liverpool, Semenyo justru berlabuh ke Etihad Stadium. The Citizens mengaktifkan klausul pelepasan sebesar 65 juta poundsterling yang ada di kontraknya. Pep bergerak cepat dalam diam dan berhasil memboyong Semenyo setelah manajemen setuju mendatangkannya.
“Semua orang tahu kualitasnya. Dia bermain luar biasa di Bournemouth dan bisa bermain di dua sisi. Setelah banyak klub yang menginginkannya, dia memutuskan untuk bergabung dengan kami. Saya hanya bisa mengucapkan terima kasih kepadanya. Dia sedang di umur yang tepat dan tahun terbaiknya akan datang,” ujar Pep.
Baca juga: Kisah Blackburns Rovers: Kota Kecil Perusak Dominasi
Pribadi yang menarik
Semenyo dikenal juga sebagai Kristen yang taat. Dia menempatkan keyakinannya sebagai hal terpenting dalam hidup. Dia juga kerap terlibat dan aktif belajar tentang Alkitab bersama dengan keluarganya, salah satunya adalah Jai yang kini bermain di klub Perancis Lorient. Dia bahkan menyebut Jai bukan sekadar sepupunya tetapi juga motivator.
Kekuatan kedua kaki Semenyo ternyata sudah tumbuh sejak kecil. Karena ayahnya yang juga pemain sepakbola Ghana sering mengajarinya menendang apapun dengan kedua kakinya. Mulai dari kertas, kaleng, hingga bola. Awalnya semua bertujuan demi keseimbangan tubuh Antoine.

Tumbuh dalam keluarga yang hangat dan suportif membuat pria 26 tahun ini menjadi pribadi yang menarik dan bisa dikatakan santun. Ini terlihat bagaimana setelah dia menuntaskan transfernya ke City dari Bournemouth. Tidak seperti kebanyakan pemain lain yang sekadar berpamitan di media sosial, Semenyo melakukan hal yang sangat jarang terjadi di sepakbola modern manapun.
Dia membeli iklan full page di koran lokal Bournemouth Echo untuk mengucapkan terima kasih kepada fans atas dukungannya selama tiga tahun. Inisiatif ini jelas mendapatkan banyak dukungan.
Pada iklan itu, dia menuliskan “To all the fans at AFC Bournemouth, thank you for all the memories. I wish you all the best.”
Jelas ini bukan sekadar ucapan, tetapi juga rasa hormat dan hubungan emosional Antoine kepada fans Bournemouth yang telah ikut membesarkan namanya.
Tentu saja langkahnya ke depan tidak mudah. Semenyo harus siap bersaing dengan nama besar dan bintang potensial lainnya di City. Namun, pengalamannya jelas tidak akan membuat goyah. Sebab, dalam sepakbola, kerja yang konsisten sering kali menjadi sebuah bentuk ekspresi paling jujur. Dan itu sudah ditunjukkannya dan membuat orang mengatakan, “Ia bernama Antoine Semenyo”.