1. News
  2. Kombitainment
  3. Ulasan Album Laze dan Mardial Dreams Are Made In Pasar Minggu: Ketika Mimpi, Tongkrongan, dan Realitas Dirayakan

Ulasan Album Laze dan Mardial Dreams Are Made In Pasar Minggu: Ketika Mimpi, Tongkrongan, dan Realitas Dirayakan

ulasan-album-laze-dan-mardial-dreams-are-made-in-pasar-minggu:-ketika-mimpi,-tongkrongan,-dan-realitas-dirayakan
Ulasan Album Laze dan Mardial Dreams Are Made In Pasar Minggu: Ketika Mimpi, Tongkrongan, dan Realitas Dirayakan

Begitu nama Dreams Are Made In Pasar Minggu muncul, rasanya sudah kebayang arahnya ke mana. Ada aroma tongkrongan, obrolan ngalor ngidul, mimpi yang lahir dari ruang sempit tapi kepala tetap luas. Album kolaborasi Laze dan Mardial ini rasanya seperti surat cinta untuk sesuatu yang bukan cuma tempat, tapi sebagai fase hidup.

Dari dulu Laze dikenal dengan lirik yang detail dan reflektif, sering ngulik realita sosial dengan cara yang tenang tapi kena. Di sisi lain, Mardial punya gaya yang lebih cair, kadang nyeleneh, kadang satir, tapi selalu terasa personal kayak Album Terbaik Di Tata Surya.

Di album Dreams Are Made In Pasar Minggu, Laze dan Mardial enggak saling tabrak. Namun justru seperti dua kawan lama yang ngobrol panjang, saling sahut, saling lempar perspektif. Chemistry-nya terasa natural, enggak dipaksa.

Secara musik, album ini enggak ribet. Beat boom bap yang saya dengarkan enggak old school banget, malah cenderung modern bahkan mungkin hampir lepas dari kata boom bap itu sendiri saking modernnya.

Lirik-lirik yang mereka pakai di album ini juga gampang banget tertangkap di kepala, bisa dibilang kayak bahasa tongkrongan dijadikan sebuah lagu.

Yang bikin menarik, Laze dan Mardial enggak terjebak glorifikasi kerasnya hidup kota atau romantisasi masa lalu. Mereka mengomongkan mimpi, kegagalan, ambisi, bahkan rasa capek yang kadang enggak kelihatan. Tapi semua dibawakan dengan nada yang santai. Enggak sok berat, enggak menggurui, terasa jujur, kayak lagi curhat tapi tetap ada humornya.

Kolaborasi-kolaborasi di album juga saling melengkapi, hampir semuanya seperti komplementer. Misal, jika tidak ada Basboi di nomor “Anggap Michelin”, mungkin nyawa lagu tersebut tidak sama.

Satu hal yang membuat saya cukup bingung saat Mardial membawa persona Mamang Kesbornya di “Testimoni”. Padahal tidak ada yang terdengar berbeda secara signifikan selain aransemen di akhir lagu yang terdengar seperti bercanda layaknya lagu Mamang Kesbor, tetapi hanya sedikit. 

Pasar Minggu di sini terasa lebih dari sekadar lokasi. Ia menjadi simbol ruang tumbuh, tempat jatuh bangun, saksi merasakan pahit dan manis kejar sesuatu. Dari tempat yang mungkin dianggap “biasa aja”, justru lahir mimpi-mimpi yang enggak biasa. Ada kesan bahwa album ini adalah bentuk merayakan proses. Bahwa enggak semua mimpi lahir dari tempat glamor, tetapi kadang dari sudut kota yang sering kita anggap sepele.

Secara keseluruhan, Dreams Are Made In Pasar Minggu terasa solid dan matang. Bukan album yang berusaha terdengar besar atau ambisius berlebihan. Album kuat karena kejujurannya. Ini semacam jurnal Laze dan Mardial merekam tongkrongan, mimpi yang mungkin dulu cuma bahan obrolan, pelan-pelan mulai jadi kenyataan.

Dan itu poin penting, mimpi bisa lahir dari mana saja, termasuk Pasar Minggu.

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Ulasan Album Laze dan Mardial Dreams Are Made In Pasar Minggu: Ketika Mimpi, Tongkrongan, dan Realitas Dirayakan
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us