
BERAS menjadi komoditas yang paling banyak dibeli masyarakat selama pelaksanaan Gerakan Pangan Murah (GPM) di Kabupaten Kuningan.
Sejak 23 Februari 2026, Pemerintah Kabupaten Kuningan melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Diskatan) menggelar GPM berturut-turut di 15 titik yang berbeda hingga 11 Maret 2026.
Dari 3 GPM yang telah digelar, yakni di Desa Seda (Kecamatan Mandirancan), Desa Haurkuning (Kecamatan Nusaherang), dan Desa Kasturi (Kecamatan Kuningan), beras, telur ayam dan minyak goreng menjadi komoditas yang paling banyak dibeli oleh masyarakat.
“Beras, minyak goreng dan telur ayam menjadi komoditas yang paling banyak dibeli masyarakat,” tutur Kepala Diskatan Kabupaten Kuningan, Wahyu Hidayah, Kamis (26/2).
Selain ketiga komoditas yang paling banyak dibeli, GPM juga menyediakan produk pangan berupa, gula pasir, daging ayam, daging sapi serta bawang merah dan bawang putih.
“Selama tiga kali pelaksanaan GPM di bulan Ramadan ini, rata-rata distribusi per lokasi berkisar antara 6 hingga 7 ton komoditas yang terserap. Totalnya ada sekitar 20 ton,” lanjut Wahyu.
Sebagian besar produk terserap dalam waktu relatif singkat karena tingginya kebutuhan masyarakat selama Ramadan.
Dalam setiap pelaksanaan, pemerintah menyiapkan stok beras hingga 3 ton per lokasi, minyak goreng sekitar 300 liter, telur ayam 250 kilogram, daging sapi 250 kilogram, gula pasir 200 kilogram, serta berbagai komoditas hortikultura seperti cabai dan sayuran.
“Selisih harga dengan harga pasar cukup signifikan,” tambahnya.
Bantu warga
Wahyu mencontohkan untuk beras premium, di GPM dijual hanya Rp12 ribu per kilogram yang dibeli dalam kemasan 5 kilogram. Sementara harga beras premium di pasar kini sudah mencapai Rp14.900 per kilogram.
Untuk daging sapi di GPM hanya dijual Rp120 ribu per kilogram padahal di pasar harganya sudah mencapai Rp140 ribu hingga Rp145 ribu per kilogram.
Perbedaan harga yang cukup signifikan ini dikarenakan Diskatan membeli langsung dari tangan pertama produk yang dijual di GPM. “Untuk beras premium, kita beli di gapoktan. Kita subsidi Rp 2 ribu. Begitu pula dengan daging sapi,” papar Wahyu.
Dia nengakur bersyukur karena respon masyarakat sangat positif karena selisih harga yang diberikan cukup kompetitif dibandingkan harga pasar. “Sejak pagi hari warga sudah memadati lokasi kegiatan, dan sejumlah komoditas habis sebelum kegiatan berakhir.”
Sementara itu seorang warga Desa Kasturi, Inah, mengaku sangat terbantu dengan adanya GPM. Perbedaan harga yang cukup terasa membantu menghemat pengeluaran rumah tangga selama Ramadan.
“Sangat membantu sekali, apalagi di bulan puasa seperti sekarang. Harga di sini lebih murah dibanding pasar, jadi belanja bisa lebih hemat. Semoga kegiatan seperti ini terus ada,” tandasnya.