Langit Banjarmasin pada Jumat, 27 Februari 2026, terasa berbeda. Bukan hanya karena Ramadhan menghadirkan suasana yang lebih teduh, tetapi karena ribuan anak yatim berkumpul dalam satu ruang harapan—menerima pelukan hangat yang diwujudkan dalam bentuk 3.000 sarung. Di momen penuh keberkahan itu, sebuah rekor dari Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) resmi tercipta, menandai aksi sosial yang tak sekadar monumental, tetapi juga menyentuh hati.
Ribuan pasang mata berbinar ketika nama mereka dipanggil. Tangan-tangan kecil menggenggam sarung dengan penuh suka cita, seolah memeluk perhatian yang selama ini dirindukan. Kehadiran dua tokoh dakwah nasional, Opick dan Zacky Mirza, semakin menguatkan suasana. Lantunan doa, tausiyah yang menyejukkan, serta shalawat yang bergema menjadikan acara ini lebih dari sekadar seremoni—ia berubah menjadi perayaan cinta, empati, dan kebersamaan.
Penggagas kegiatan ini, dr Ayu Widyaningrum, menyampaikan bahwa inisiatif tersebut lahir dari niat sederhana: menghadirkan kebahagiaan dan rasa dihargai bagi anak-anak yatim di bulan yang penuh ampunan. Baginya, sarung bukan hanya perlengkapan ibadah, melainkan simbol kehangatan, perhatian, dan doa yang diselipkan dalam setiap lipatannya. Kalimat yang disampaikannya dengan mata berkaca-kaca menjadi pengingat bahwa kebaikan selalu bermula dari hati yang tulus.
Piagam penghargaan yang diserahkan langsung oleh perwakilan Museum Rekor-Dunia Indonesia menjadi penanda sejarah. Namun sesungguhnya, yang lebih abadi dari sekadar catatan rekor adalah senyum 3.000 anak yang hari itu merasa dilihat, dihargai, dan dicintai. Angka hanyalah angka—maknanya terletak pada dampak yang ditinggalkan.
Ramadhan memang selalu mengajarkan tentang berbagi. Tetapi di Banjarmasin, berbagi naik satu tingkat lebih tinggi: menjadi gerakan kolektif yang menyatukan doa, harapan, dan aksi nyata. Dari kota seribu sungai, pesan itu mengalir jauh—bahwa kepedulian, sekecil apa pun, mampu menjadi cahaya bagi banyak jiwa.