“No more, no more.
In my world of enemies, I walk alone.”
– No Heroes by Converge
Nama aku Dika, masuk ke industri clothing sejak 2006. Literally hidup aku dibayar dari kaus, hoodie, jaket, sablon, foto produk dan segala drama di baliknya. Aku mengalami masa angkut-angkut karung buat distribusi artikel terbaru sampai menghancurkan mobil bos aku (Almarhum Mas Dany) ketika keluar garasi menuju tempat kargo. Dan aku mengalami masa memotret produk pakai lampu belajar yang lehernya bisa ditekuk-tekuk itu. Tripod? Enggak ada. Pakai balok kayu atau pakai tumpukan buku. Model? Teman sendiri. Kadang lagi bete, kadang baru putus, tapi tetap disuruh pose. Upload, doa, berharap ada yang beli via SMS. Dari dulu sampai sekarang, kerjaan aku intinya sama, harus tetap kreatif, relevan, kalau bisa tetap “ngikutin tren”. Tapi di saat yang sama, aku juga harus adaptif. Karena kalau enggak adaptif, ya wasalam. Jadi aku enggak omong dari luar. Aku di dalam, main di lumpur yang sama.
Dan sekarang aku capek.
Kamu pernah scroll Instagram atau TikTok terus mikir, “Lah, kok kayak udah lihat ini 20 kali ya hari ini?” Ya karena memang sama. Cuma beda muka doang.
Aku muak sama gadget aku sendiri. Aku muak buka X, TikTok, Instagram. Kebetulan Threads sudah uninstall dari lama.
Dan hari ini enggak ada lagi yang boleh dinikmati secara tolol dan polos. Kadang aku mikir, bisa enggak sih orang main skateboard cuma karena pengin jatuh dan lecet, bukan karena endorsement sepatu?
Ditambah lagi, sebagai pedagang baju, marketplace kayak Shopee makin hari makin rakus. Potongannya makin gede, aturannya makin ribet. Brand dipaksa main game mereka. Harus ikut campaign, harus bakar diskon, harus subsidi ongkir, harus iklan. Kamu jual produk beda segmen pun, begitu masuk platform yang sama, rasanya kayak ditaruh di rak yang sama. Harga diseret turun. Konsumen diajarin ‘yang murah itu yang benar’. Bajingan, bajingan, bajingan.
Terus kita masuk ke masalah global, perang. Perang itu langsung nyentuh harga kain, tinta, plastik, kertas, logistik, BBM. Jalur distribusi terganggu, ongkos kirim naik, bahan baku naik, produksi naik. Tapi harga jual? Enggak bisa naik banyak, karena pasar udah kebiasaan murah. Akhirnya siapa yang menanggung? Brand kecil, kreator kecil, pekerja kecil.
Dan negara ini gudangnya salah kaprah, masalahnya dobel. Pajak ribet, enggak transparan, berubah-ubah. Regulasi enggak jelas. UMKM disuruh formal, tapi sistemnya bikin mumet.
Subsidi enggak tepat sasaran. Ekonomi carut, tapi yang disuruh adaptasi selalu rakyat kecil. Yang gede aman, yang kecil disuruh “kreatif”.
Kreatif pala lo. Kamu disuruh survive di sistem yang enggak adil.
Aku capek.
Di titik ini, aku mulai mikir secara nihilistik. Mungkin memang enggak ada “makna besar” di fashion. Mungkin enggak ada “tujuan suci”. Mungkin ini semua cuma kain, benang, ego dan caption. Tapi justru karena enggak ada makna absolut, kita sebenarnya bebas.
Aku suka Om Dendy, aku suka Arif Maskom di Ouval, Om Helvi di Airplane, Aku suka Vidi Nurhadi, aku suka Mas Dany (rest in peace!), Ginar, Fahmi, Mario, aku suka Azer, Jodi, aku suka Trunojoyo, Dewi Sartika, Dalem Kaum, Dago 207, Riotic 181. Sekarang aku masih di sini karena mereka. Masih kerja. Masih bikin sesuatu. Masih adaptasi. Masih belajar algoritma. Masih posting. Masih jualan. Tapi lagi, buat aku, bukan soal anti-respek atau sok sinis, kalau kamu dengar lagu “No Heroes” dari Converge, pesannya keras: jangan cari penyelamat. Jangan menunggu figur suci. Jangan berharap ada manusia yang bakal konsisten jadi “panutan sempurna”. Karena faktanya semua manusia cacat. Idol kamu bisa salah, hero kamu bisa jual prinsip dan role model kamu bisa kejebak ego, duit atau kekuasaan.
Kalau enggak ada “pahlawan besar” yang bisa menyelamatkan dunia, berarti, ya sudah. Dunia memang kacau. Sistem memang rusak. Industri memang sering busuk. Terus? Terus kamu tetap jalan.
Buat aku, di zaman sekarang, “No Heroes” itu bentuk paling waras dari idealisme. Tapi aku pengin ingat satu hal, enggak semua harus menang. Mungkin fashion sekarang nihil. Kosong. Atau mungkin, mungkin kita harus kurang “update”, biar lebih hidup.