Perkenalan saya dengan Kelelawar Malam terjadi sekitar 2018 lewat teman yang merekomendasikan album Jalan Gelap, setahun usai perilisannya. “Lo suka Misfits kan? Nih dengerin yang versi lokalnya,” katanya seingat saya yang seraya menyodorkan CD album tersebut.
Lagu pertama Kelelawar Malam yang menarik perhatian saya jelas “Horror Metal Punk” karena judulnya yang striking dalam sekali baca. Sejak itu, lagu-lagu dari unit punk bertema horor dan sains fiksi satu ini selalu saya putar dalam berbagai kesempatan sampai sekarang.
Tahun ini jadi tahun penting bagi Kelelawar Malam. Setelah 9 tahun absen merilis album, sang penguasa jalan gelap akhirnya bangkit dari kubur untuk album penuh anyar bertajuk Kesurupan (30/03). Tercatat 8 lagu yang dihadirkan album ketiga mereka ini, dibalut dengan artwork sampul ciamik dari gitaris mereka, Beringas.
Setelah mengatur janji temu dengan para personel akhirnya kami berkesempatan menyambangi mereka di lantai 3 Rossi Musik, Fatmawati (08/04). Dalam pertemuan ini hadir Sayiba ‘Von Mencekam’ (gitar, vokal), Deta ‘Beringas’ (gitar, vokal), Uri ‘Pembantai Dari Mongol’ (bas), dan Hafidh ‘Buto’ (drum). Kami berbincang seputar album Kesurupan selama hampir 50 menit. Sayangnya, karena alasan pekerjaan, Fahri ‘Al Maut’ (gitar) belum bisa bergabung untuk menceritakan album Kesurupan hari itu.
![]()
Sesi wawancara Pophariini bersama Kelelawar Malam di Rossi Musik, Fatmawati / Dok. Anggik Yoga Prayuda
Mencekam mengaku banyak yang terjadi di internal Kelelawar Malam baik dari sisi pribadi maupun kolektif selama 9 tahun, yang membuat latar belakang perjalanan album Kesurupan ini sangat panjang.
Di sisi lain, Pembantai Dari Mongol atau yang biasa disingkat Mongol mengungkapkan kondisi mereka sudah jauh berbeda dibanding saat mengerjakan Jalan Gelap. Salah satu yang dimaksud adalah intensitas para personel untuk berkumpul, nongkrong, dan membuat lagu.
![]()
Uri ‘Pembantai Dari Mongol’ / Dok. Anggik Yoga Prayuda
“Makanya kelihatan Jalan Gelap itu lebih musikal sebenarnya, eksplorasinya lebih jelas di situ. Pas kami masuk ke era Kesurupan udah banyak perubahan. Ada yang nikah, kerjaan lebih serius, banyak deh. Kesurupan itu secara eksplorasi musikalnya emang gak seintens waktu Jalan Gelap, perubahannya yang paling masuk akal sebenernya eksplorasi vokal,” kata Mongol.
Saat Mongol hendak menjelaskan soal eksplorasi vokal, kami langsung menyetopnya karena ini topik yang menarik dari album Kesurupan untuk dibahas nanti termasuk keterlibatan Tanya Ditaputri (eks-Fleur, Rattles, Rad Rat) sebagai pengarahnya.
Obrolan bersama Kelelawar Malam berlanjut ke pembahasan yang lebih dalam soal album Kesurupan, identitas sebagai band horor, sampai perubahan-perubahan yang terjadi di internal mereka. Simak langsung di bawah ini.
Kelelawar Malam selalu membawa identitas “Horror Metal Punk”, atau jargon “Pecvt” yang cukup khas. Seiring berjalannya waktu, makna horor itu mengalami pergeseran atau tidak buat kalian?
Mencekam: Horor pasti makin ke sini makin jelas. Sebenarnya banyak yang lebih menakutkan daripada hantu ya [tertawa].
Buto: Kayak pemerintah [tertawa].
Mencekam: Manusia sendiri perilakunya bisa lebih horor dari setan mana pun. Jadi ya itu sih secara natural pasti kami kan makin tua, makin ngerti lah soal itu.
Mongol: Berkembang. Kan album pertama masih dari film kebanyakan, cerita-cerita horor mistik. Nah pas di Jalan Gelap mulai berkembang. Jadi horor itu gak hanya yang ada di film makanya jadi lirik “Merapi”, kayak gitu-gitu.
Mencekam: Kayak “Khundang” kan gue ngambil sisi horor yang lebih nyata, kayak selama ini kan mungkin kalau punk kan lebih kayak pemberontakan anak-anak. Nah itu gue balik di “Khundang”, orang tua juga bisa bisa hancurin lo juga loh, protesnya dengan mengutuk lo gitu. Lebih ke situ sih, gue banyak ambil point of view itu.
![]()
Sayiba ‘Von Mencekam’ menjelaskan tentang makna horror yang diadaptasi Kelelawar Malam / Dok. Anggik Yoga Prayuda
Banyak band horor mengacu ke referensi musik barat, tapi Kelelawar Malam sangat lokal. Gimana cara kalian memandang sosok-sosok setan lokal, apakah sebagai mitologi, simbol, atau mungkin lebih personal?
Beringas: Sebenarnya lebih ke nostalgia. Kayak apa yang kami lihat pas masa kecil, nonton Suzzanna misalnya. Apa sih yang pertama kali bikin kami takut, mungkin kalau buat gue pribadi kayak lebih sering liat horor-horor lokal, jadi keluarnya itu. Mungkin kurang relevan sama barat karena ya lebih seram (setan) lokal.
Mencekam: Walaupun sebetulnya kami gak meninggalkan banget horor-horor barat ya, kayak “Suzannakenstein” kan kami campurin tuh Frankenstein dan Suzzanna.
Mongol: Ada juga kayak “Kengerian” yang emang (cerita tentang) U.F.O. kan gak Indonesia banget.
Mencekam: Mix aja sih, bukannya kami kayak, “Kita mau lokal doang.”
Masih nyambung soal identitas. Tahun lalu Kelelawar-kelelawarnya Malam jadi salah satu band pertama yang menyatakan sikap batal main di Pestapora terkait isu Freeport. Seberapa penting tindakan ini bagi kalian sebagai band?
Mongol: Kalau sebagai band sebenarnya kami percaya ada perusahaan yang gak boleh didukung. Misalnya salah satunya Freeport, atau yang paling baru kayak Spotify, itu juga alasan kami gak pasang (rilisan) di Spotify. Jadi memang netral tuh bukan jawaban, harus ada action-nya. Jadi kalau misalnya kami melihat ada sesuatu yang tidak baik-baik saja dalam bentuk usaha atau apa pun itu dan menyebabkan (situasi) “horor” gitu, ya udah kalau menurut kami mending cut aja.
Mencekam: Dan mungkin juga kadang-kadang (dalam konteks) melakukan perlawanan itu, kalau ada kesempatan kami bisa melakukan sebuah pernyataan itu, sangat sayang kalau dilewatkan. Ini bukan cuma soal masalah si Freeport, kalau ada kesempatan nih kita bersuara ramai-ramai, protes tentang sesuatu, sayang kalau gak diambil. Solidaritas, bareng-bareng, sama-sama kami nih musisi, semua anak-anak yang lain ada kesempatan untuk bersuara, itu sayang kalau gak diambil juga sebetulnya. Jadi ya itu lebih ke situ juga, untuk menunjukkan bahwa kami juga bisa nih, kalau ada kesempatan yang tepat untuk melakukan sesuatu bersama.
Apa yang ingin kalian sampaikan lewat album Kesurupan secara garis besar dibanding rilisan sebelumnya?
Mencekam: Sebetulnya masih ada benang merah sama yang sebelumnya. Memang lirik kami kan temanya pasti horor, mungkin ada beberapa yang horornya secara pikiran, secara dunia nyata juga ada. Misalnya, “Misteri” gue terinspirasi sama Kamisan, itu kan misteri buat seorang Ibu yang berusaha terus mencari jawaban tentang anaknya, tapi ya sampai sekarang kita tau kayaknya agak susah. Emang kami suka tuh yang pesimis-pesimis, kalau orang mungkin (berpikir) optimis, “Ayo lawan.” Gue tuh selalu ngambil kalau bisa sisi pesimisnya. Sisanya sih kayak “Harut Marut” itu cerita berdasarkan Kitab Suci. Maksudnya agak unik sih, kayak ada malaikat yang dikirim untuk menyebarkan sihir, kan itu kayak, “Wow.” Artinya kita emang dites, sebagai manusia emang hidup kita tuh diuji coba. Itu menyeramkan kan. Karena kalau lo gagal, sihir kan salah satu dosa terbesar. Kalau kita gagal, selesai dah ibaratnya. Itu sih sebetulnya temanya, tetap sama kayak album pertama dan kedua, benang merahnya adalah cerita-cerita menyeramkan, bisa secara eksplisit, bisa juga secara psikologi, dan lain-lain.
Selama gue mendengar Kesurupan, lagu “Khundang” yang paling menarik secara lirik, karena ceritanya sebenarnya gak horor secara eksplisit. Ini pertama kalinya gak sih kalian mengadaptasi cerita rakyat jadi lirik lagu?
Mongol: Kami ambil sisi horornya.
Mencekam: Mungkin gini, sekarang gue udah jadi orang tua nih ya, mengutuk anak tuh gila loh. Kalau kita dengar sebagai anak mungkin kayak “Wow, jadi batu.” Tapi kalau udah jadi orang tua, lo mengutuk anak tuh udah level berbeda, karena anak adalah sesuatu yang sangat. Apa ya? Feeling-nya tuh beda, gue gak pernah tuh menemukan feeling seperti itu. Saat anak gue lahir, gue ada perasaan yang, “Anjir, gue punya anak.” Nah, tiba-tiba ada sebuah cerita seorang Ibu mengutuk anak, gila sih menurut gue, dari sudut pandang orang tua ya. Dan itu juga gue melihat kayak counter. Kayak oke ternyata orang tua juga bisa melawan loh, anak yang ngocol bisa dihajar juga. Selama ini kan perlawanan anak ke orang tua, sekarang gue lihat dari kacamata orang tua, itu sih.
Itu kan tadi dari sisi lirik, kalau secara musikal gimana?
Mongol: Perubahan paling signifikan mungkin ya, kita bahas dari era Jalan Gelap dulu sedikit. Itu emang masih latihan nonstop, nongkrong nonstop, semuanya tuh masih bawa referensi masing-masing. Nah itu tuh ternyata ya sekarang baru sadar emang efeknya tuh dengan kami latihan, ngobrol, dan bawa referensi apa segala macem itu efek ke musikalitasnya emang bagus ternyata. Pas di era Kesurupan itu udah berkurang, ya mungkin gak berkurang hampir 100%, tapi udah 60% mungkin udah hilang lah. Jadi latihan tuh ya emang kalau ada manggung, ada apa segala macem, akhirnya di album ini sedikit kerasa. Makanya kalau misalnya dulu di Jalan Gelap ada “Babylon” sama “Merapi”, di album ini gak ada tuh (lagu) kayak gitu. Secara musikalnya agak menurun, tapi gimana caranya kualitasnya kami gak turun. Akhirnya xplore lewat vokal, makanya kami hire si siapa, kita hire si Tanya (Ditaputri) untuk nutupin musikalnya yang (sisi) eksplorasinya berkurang.
Mencekam: Pengaruh musik di album ini sebetulnya adalah alam bawah sadar gue yang dulu mendengarkan lagu-lagu punk dan metal 90-an. Emang di album ini gue gak mau dengar atau cari-cari referensi. Gue benar-benar kayak pengin tumpahin apa yang ada di pikiran gue. Akhirnya keluar yang benar-benar, mungkin 80% itu terdengar kayak Social Distortion, Bad Religion, bahkan bisa ada Buzzcock-nya juga. Jadi band punk yang gue dengar pas tahun 90-an atau era mana aja, akhirnya yang keluar di album ini.
Berarti secara referensi influence band-bandnya agak berbeda dari album sebelumnya?
Mencekam: Iya, kalau album sebelumnya gue nyari referensi, “Oh, gue pengen kayak ini nih. Gue lagi dengerin ini nih.” Kalau di Kesurupan ini gue gak begitu mencari referensi. Tahun lalu tuh gue ibaratnya kayak gak dengar album baru apa pun gitu.
Beringas: Dari vokal dan backing vocal mungkin ya. Sebenarnya bantuan dari Tanya juga sih, kan diarahin jadi kayak gue gak tau juga ternyata bisa nyanyi kayak gitu. Apalagi kayaknya udah dua tahun gak ngerokok, kayaknya ada perubahan gitu di suara gue. Pas nyanyi di oktaf yang lebih tinggi, eh ternyata nyampe. Beda aja sih sama album sebelumnya.
![]()
Deta ‘Beringas’ mengaku terbantu dari sisi vokal dengan adanya Tanya Ditaputri / Dok. Anggik Yoga Prayuda
Kalau spesifik dari instrumentasinya gimana?
Beringas: Instrumentasinya ya gitu-gitu aja, sama-sama aja [tertawa].
Tapi jadi lebih gampang gak?
Mongol: Sama aja sih. Sebenarnya kalau instrumentasi si Kelelawar kalau gue melihatnya gini, Sayiba (Mencekam) bikin sesuatu, karena base-nya harus vokal dulu kan. Jadi dia bikin sesimpel mungkin, harusnya Fari (Al Maut) yang nebelin, biasanya antara gue sama Fari yang nebelin. Karena si Fari lagi sibuk, gue juga lagi sibuk, makanya tuh sebenernya ada sih sedikit yang baru kepikiran kayak, “Aduh, harusnya part ini si Fari mainnya begini, harusnya ini begitu.” Jadi seharusnya tuh yang nebelin warna yang dibuat Sayiba itu sebenarnya Fari. Tapi karena Fari lagi gak fokus banyak banget urusan, karena mau pindah. Makanya secara musikalnya lebih simpel, justru album ini lebih simpel. Tempo lebih pelan juga karena eksplorasi vokalnya, supaya lebih dapat dan lebih luas. Kalau (tempo) terlalu cepat kan susah juga nyanyinya.
Ngomongin tempo, katanya ini pertama kali Kelelawar Malam rekaman pakai metronome. Gimana rasanya untuk Buto?
Buto: Yang pasti beda banget dari album pertama sama kedua tuh kita rekaman live. Di Kesurupan ini, kami pakai metronome ya untuk itu tadi ya, eksplorasi vokal. Sulit sih ternyata [tertawa]. Mungkin kalau lagunya agak kencang, mungkin masih oke lah. Kami ada satu lagu yang judulnya “Kosong”, itu temponya agak lambat, tantangannya di situ sebenarnya. Ternyata lebih sulit buat stabil main di tempo seperti itu.
![]()
Hafidh ‘Buto’ perdana rekaman dengan metronome di album Kesurupan / Dok. Anggik Yoga Prayuda
Beberapa kali pernah ngobrol sama drumer, emang katanya lebih sulit main pakai metronome di lagu pelan ya?
Buto: Lebih sulit ternyata. Di album ini ada satu lagu yang temponya agak kencang, gue lupa lagi lagu apa, itu cuma sekali take, beres.
Mongol: “Harut Marut” itu.
Buto: Nah iya, itu gue cuma sekali take karena temponya masih lumayan lah.
Mongol: Tempo hafalan lo itu.
Buto: Iya, kalau tempo yang sepelan “Kosong” jadinya gue buset deh harus hati-hati banget take-nya. Lumayan jadi tantangan baru, makanya lebih fresh.
Apa hal yang baru lo sadari rekaman pakai metronome setelah selama ini rekaman live terus?
Buto: Itu aja sih, sesulit itu. Dulu awalnya kayak, “Metronome paling ngikutin aja, yang penting metronome kencang di kuping.” Ternyata gak segampang itu.
Mencekam: Apa lagi ada beberapa lagu yang lo baru dengar kan?
Buto: Iya, ada beberapa lagu yang gue baru dengar.
Mencekam: Soalnya kan gue nulis lagu lebih ke kacamata gitar kan, tapi pas disampein, dia kayak, “Gak segampang itu.” [tertawa].
Buto: Kadang-kadang kalau vokalis sama gitaris kan gak tau, “Diginiin aja, nanti lo nge-roll di sini.” Gitu-gitu. Emang kalau cuma diomongin enak ya, gampang, tapi susah kalau mau dilakuin [tertawa].
Mongol: Ada tuh meme-nya, yang gitaris bikin drum part [tertawa].
Buto: Iya, ada tuh [tertawa].
Siapa yang suka ngasih saran yang rasanya mustahil buat lo?
Buto: Kalau kasih masukan mustahil sih, ya sebenarnya semua ngasih masukan sih. Kalau mustahil sih gue pasti teriak, “Ini mustahil sih.” Gitu aja. Iya dong, gue mending jujur aja sama kapabilitas gue. “Ah, kayaknya gak deh. Kalau diginiin gimana?” Kalau buat mereka oke, ya kami ambil. Kadang yang go with the flow gitu lebih natural aja sih.
![]()
Kelelawar Malam banyak coba hal baru di album Kesurupan / Dok. Anggik Yoga Prayuda
Tadi kalian udah cerita soal keterlibatan Tanya Ditaputri sebagai vocal director. Kenapa memutuskan untuk pakai peran tersebut dan kenapa Tanya yang terpilih?
Mencekam: Gue tau emang album ini pada akhirnya gue akan explore vokal. Kebetulan si Tanya sering nongkrong di Rossi, waktu itu pernah ada studio sama si Ecky (Banbaroesa). Ecky tuh engineer kami, dia pernah punya studio di sini waktu itu. Suatu hari si Tanya rekaman di sini, ngisi backing vocal. Gue dengar dia bisa buat layer (vokal), gokil juga. Kebetulan kami udah buat demo waktu itu, kurang lebih juga demo-nya tuh emang ada backing vocal ber-layer gitu. Jadi kayak cocok nih kalau si Tanya ngarahin kami, karena dia ya secara vokal gila banget sih. Akhirnya Tanya mau, ya udah hajar.
Memang cukup berasa, kayak gue gak pernah kebayang Kelelawar Malam ada bagian vokal yang riffing-riffing kayak di lagu “Budak Kelelawar”. Part vokal di lagu apa aja nih yang kalau gak ada Tanya, kalian gak akan kepikiran?
Mencekam: “Kosong” tuh banyak banget yang gak mungkin kami kepikiran sampai sejauh itu. “Khundang”, “Harut Marut”, hampir semuanya sih, karena emang dia benar-benar membuka banyak hal yang baru untuk gue sama Beringas. Emang ya ternyata level kami baru sampai sini nih, saat Tanya (hadir) tuh naik lah level kami. Menurut gue juga agak clash selera dia dan selera kami, agak nabrak sebetulnya. Menjadi lebih spesial karena ya si Tanya tuh masukinnya unsur pop banget kan, justru itu yang emang gue cari. Kalau kami dengar lagi demo sebelumnya, gila jauh banget. Emang kami ternyata cuma sampai situ tuh untuk vokal.
Berbicara artwork sampul yang dikerjain Beringas. Akhirnya Kelelawar Malam keluar dari sampul album bernuansa monokrom, vibes-nya agak-agak kayak poster bioskop Senen nih. Ceritain dong proses kreatifnya?
Beringas: Kalau keluar dari monokrom sih karena bosan juga ya ngelihat satu warna gitu. Terus ini juga sebenernya kan gue gambarnya di kanvas, pake cat oil. Penginnya tuh emang kelihatan kayak pelukis yang gambar (poster) bioskop manual, kayak misalnya Back To The Future, tapi terus gambarnya orang sini. Jadi pengin efeknya kayak gitu. Atau gak kayak gambar-gambar di rumah hantu, pokoknya tempat-tempat kayak gitu, biar berasa “kampung”-nya.
Mencekam: Kalau istilah kami, “Pas kampungnya.” [tertawa].
Beringas: Emang merujuk ke inspirasinya Mencekam juga sih. Kan dia inspirasi yang musik-musik 90s gitu, 90s di gue ya ke poster-poster horor itu.
Apa artwork ini hadir karena keputusan Kelelawar Malam yang banyak bawa warna baru di album ini makanya lo hadir dengan penuh warna juga di sampul album Kesurupan?
Beringas: Emang udah diskusi sih. Dari awal memang kami penginnya berwarna.
Mongol: Kan bosan ya kalau dilanjutin dari Jalan Gelap udah hitam putih, terus masuk ke Kesurupan masa hitam putih lagi. Udah gitu proyek musik gue semuanya hitam putih. Akhirnya kami ngobrol, ya udah warna aja. Ya benar tadi, inspirasinya bioskop-bioskop Senen. Habis itu lempar ke Beringas, dieksekusi. Dapat, emang style-nya dia ke arah situ.
Mencekam: Emang udah niat di album ini arahnya sedikit pop. Walaupun emang akhirnya biar gak terlalu pop, gitarnya agak kami naikin.
Mongol: Oh, sama salah satu alasannya gak hitam putih supaya susah dibajak. Konteksnya merchandise. Ini jadi agak bahas proyek gue yang lain nih, si Masakre. Karena konsep band itu hitam putih, akhirnya kami sepakat cover album tuh gak boleh jadi merchandise kaus, karena gampang dibajak. Tapi kami juga sadar kalau (kaus gambar) cover album itu paling gampang dijual. Pas di Kelelawar Malam, memang penjualan paling besar itu kaus yang cover album Jalan Gelap. Nah, gimana caranya supaya orang susah ngebajak. Sedangkan nanti kalau ada vinyl, orang tinggal scan aja kan. Dari situ kepikiran itu lah, sampul album ini harus berwarna.
Beringas juga bikinin cover buat album pertama Kelelawar Malam, yang juga monokrom, ada gak penyesuaian dari lo pas mau bikin cover Kesurupan yang penuh warna?
Beringas: Gak sih sebenarnya.
Mongol: Justru style-nya dia berwarna sebenarnya.
Beringas: Sebenarnya apa aja bisa sih [tertawa]. Karena kan dulu kuliah di Seni Rupa, jadi dari A-Z diajarin basic-nya. Ya kebawa-bawa sampai Kelelawar Malam. Sekarang-sekarang ini kan lebih banyak gambar digital, pas harus kerjain Kelalawar Malam lagi pengin digital tapi pengin cobain yang gak gue kuasain deh, ya oil painting. Sebisanya aja dicoba. Emang gak pernah sih gambar cat oil, ini pertama kali ya yang sampai jadi.
Mongol: Ini lukisan yang kedua kan kalau gak salah?
Beringas: Iya.
Mongol: Yang pertama agak kayak, “Tolonglah.” [tertawa]. Yang kedua ini mendingan.
Mencekam: Ya sebenarnya gak bisa protes juga, yang bisa gambar dia doang.
Beringas: Pas gambreng gue yang kalah [tertawa].
Semua: [tertawa].
(Dalam obrolan tak terekam, Beringas mengatakan bahwa artwork final Kesurupan merupakan gabungan lukisan kedua dengan beberapa elemen dari lukisan pertama)
![]()
Beringas dengan lukisan sampul Kesurupan / Dok. Anggik Yoga Prayuda
Setelah melewati fase panjang hingga akhirnya Kesurupan rilis, kalian melihat posisi Kelelawar Malam sekarang seperti apa? Apakah album ini kelanjutan, evolusi, atau justru semacam kelahiran ulang?
Mongol: Kalau gue melihatnya ini evolusi. Di umur kami sekarang yang udah 40-an, bisa ngeluarin album tuh ternyata lumayan privilege, di tengah kesibukan apa segala macam. Kayak misalnya Al Maut sibuk, akhirnya ngatasinnya dengan eksplorasi vokal. Album Kesurupan ini proses evolusi naturalnya Kelelawar Malam.
Mencekam: Evolusi kan proses penyesuaian karena pengaruh alam. Album ini kan kami buat dengan keadaan yang sekarang, ya kayak gini.
Mongol: Sekarang gue jadi ngerti kenapa banyak yang bilang band-band setelah album ketiga jadi jelek. Ya kan bertambahnya umur tanggung jawab, kesibukan, semua bertambah kan. Kami juga bukan musisi profesional yang hidup dari musik, jadinya memang ada yang kurang dan ada yang naik, dan itu natural. Maksudnya gak mungkin kan kami sekarang nongkrong di studio sampai jam 3 pagi kayak dulu. Bukan rebirth atau apa, justru kelanjutan paling jujur ya di sini.
![]()
Kesurupan jadi bukti evolusi Kelelawar Malam / Dok. Anggik Yoga Prayuda
Ini pertanyaan ringan ya. Kalau harus menganalogikan album Kesurupan dengan karakter setan lokal, kira-kira apa?
Buto: Kalau gue Pastor Jeruk Purut. Analoginya, dia Pastor kan, pasti dulunya dia baik kan? Ya kan?
Semua: [tertawa].
Buto: Terus dia mati, kepalanya terpenggal. Masih ada sisi bagusnya lah, maksud gue di album ini seseram-seramnya kami, di dalamnya tuh masih ada sisi bagusnya dengan kami masih mau explore dengan lagu-lagu yang lebih fresh lah. Kalau gue ya, di otak gue itu.
Mongol: Kalau gue Genderuwo karena makin besar dan makin kampung. Gak tau gue [tertawa].
Buto: Wow, suatu penjelasan sekali.
Mencekam: Gue dari luar aja deh, Vampir.
Mongol: Hidup segan, mati tak mau.
Mencekam: Dia mungkin jadi Vampir dari tahun berapa gitu, karena dia hidup selamanya sampai tahun 2000-an gitu misalnya, tapi mindset-nya tuh sebetulnya masih yang lama gitu. Kayak gitu kali ya?
Mongol: Itu paling bagus sih.
Beringas: Ini sih, Kuntilanak Merah. Katanya di Rossi ada Kuntilanak Merah, jadi pas gambar lukisan itu kayak kepikiran terus.
Untuk penutup, silakan bagikan rencana ke depan Kelelawar Malam untuk album Kesurupan!
Mongol: Ke depannya pasti rilisan fisik dulu ya. Kenapa agak telat juga, karena fisiknya Kesurupan diedarin di Indonesia sama Malaysia ya jadi emang deal-nya sama tiga label. Paling dekat kaset, dirilis Grieve Records sama Tampui Records. Tur mungkin belum, tapi showcase dulu paling di Jakarta, Bandung, mungkin juga ke Jogja, Surabaya. Habis itu ya baru mungkin vinyl sama CD barengan.
Mencekam: Yang pasti sih kami menyiapkan personel baru dulu.
Mongol: Lagi dicambuk dulu nih [tertawa].
Udah boleh spill nama sama monikernya mungkin?
Mencekam: Ada, namanya Fathan. Al El Dul [tertawa].
Buto: Dulu kan Fahri Al Maut, sekarang Fathan Al El Dul. Ah, anjing [tertawa].
![]()
Kelelawar Malam era Kesurupan. PECVT! / Dok. Anggik Yoga Prayuda