1. News
  2. Berita
  3. Etiket Kerja Gen Z

Etiket Kerja Gen Z

etiket-kerja-gen-z
Etiket Kerja Gen Z

Pembahasan tentang gen Z sudah banyak dilakukan. Mereka kerap mendapatkan label bahwa mereka adalah generasi stroberi yang rapuh, tidak sabaran, dan sering kali kurang paham sopan santun. Berbeda dengan para seniornya yang merasa lebih bijak dan tahu aturan. Namun, bukankah setiap generasi memang berbeda sebagai dampak dari situasi yang memengaruhi kehadiran mereka saat itu?

Ketika seseorang  masuk ke sebuah sistem yang sudah lama berdiri, dengan aturan yang jarang dijelaskan secara eksplisit, mau tidak mau akan timbul rasa kikuk. Dunia kerja penuh dengan unwritten rules, aturan yang tidak tertulis, tetapi sangat menentukan bagaimana seseorang dipersepsikan dan dipercaya. Banyak hal tidak pernah diajarkan secara formal, tetapi “tertangkap” melalui kebiasaan sehari-hari, seperti cara berbicara di rapat, cara menyampaikan kritik, bahkan cara duduk dan mendengarkan, more was caught than taught.

Generasi sebelumnya mempelajarinya secara alami. Mereka melihat, meniru, dan menangkap banyak hal dari pengalaman langsung. Sementara itu, banyak gen Z tidak mendapatkan proses tersebut. Pandemi memutus momen penting di awal karier. Kesempatan untuk belajar dari kedekatan dengan senior, dari obrolan spontan di kantor, dari mengamati dinamika tim secara langsung menjadi terbatas. Tidak heran jika kemudian muncul apa yang disebut sebagai etiquette gap. Bukan karena tidak punya niat baik, melainkan minimnya pembelajaran yang didapatkan.

The future is always young

Suka atau tidak, dunia kerja sedang bergerak ke arah gen Z. Mereka dan generasi-generasi selanjutnyalah pemilik masa depan ini. Untungnya dengan berbagai tantangan yang mereka hadapi, satu hal tumbuh menjadi kekuatan gen Z. Mereka adalah purpose-driven generation. Mereka tidak hanya ingin bekerja, tetapi ingin memahami makna di balik pekerjaannya. Apa dampaknya? Siapa yang terbantu? Apa kontribusi saya di sini?

Dalam organisasi yang masih berjalan dengan cara lama, fokus pada hasil, target, dan struktur banyak yang tidak siap menjawab pertanyaan ini. Di sinilah sering muncul jarak yang membuat semakin tidak nyaman.

Kemampuan membaca konteks memang sangat penting karena dunia kerja tidak hanya berjalan dengan logika, tetapi juga dengan dinamika manusia. Seseorang bisa memiliki ide yang sangat baik, tetapi jika disampaikan tanpa memahami situasi, malah bisa ditolak. Di sinilah muncul konsep yang perlu dikuasai oleh para gen Z: speak up with elegance. Bersuara tetap penting, tetapi cara penyampaian akan menentukan apakah suara itu akan didengar atau diabaikan. Kejujuran tetap dibutuhkan, tetapi tanpa kepekaan, kejujuran bisa terasa seperti serangan.

Ketidakpastian ekonomi, perubahan yang sangat cepat, dan berbagai krisis global membuat gen Z tumbuh dengan perasaan bahwa dunia tidak selalu stabil, tidak selalu adil, dan tidak selalu dapat dipercaya. Beberapa prinsip sederhana ini dapat membantu proses adaptasi gen Z berjalan lebih mulus tanpa harus mengorbankan jati diri.

Pertama, observe before you express. Dunia digital mengajarkan respons cepat; komentar, reaksi, dan opini yang langsung dibagikan. Namun di organisasi, tidak semua hal terlihat di permukaan. Siapa yang sebenarnya memegang pengaruh, bagaimana keputusan diambil, dan bagaimana orang menyampaikan ketidaksetujuan, semua itu perlu diamati.

Dengan memahami pola tersebut, kita bisa tidak hanya hadir, tetapi juga relevan. Mengamati juga bagaimana mengekspresikan ide, menyesuaikan cara komunikasi, tanpa kehilangan jati diri. Apa yang kita katakan penting, tetapi bagaimana cara kita mengatakannya sering kali menjadi penentu.

Kedua, earn trust, build credibility before you challenge. Banyak gen Z datang dengan semangat perubahan. Itu adalah energi yang sangat berharga. Namun perubahan tidak dimulai dari ide, melainkan dari kepercayaan. Ketika seseorang sudah dipercaya, suaranya akan memiliki bobot yang berbeda. Tanpa kepercayaan, ide terbaik pun bisa dianggap sebagai gangguan. Reputasi tidak dibangun dari satu momen besar, tetapi dari tindakan kecil yang dilakukan berulang.

Menyelesaikan tugas dengan baik, menjaga komitmen, datang tepat waktu, dan menindaklanjuti pekerjaan adalah hal-hal sederhana yang sering dianggap sepele. Namun, justru di situlah kepercayaan dibangun. Di dunia kerja, kredibilitas sering kali lebih menentukan daripada kecerdasan.

Ketiga, membangun rasa kendali terhadap diri sendiri. Banyak gen Z merasa cemas karena ketidakpastian. Salah satu cara mengatasinya adalah aktif mencari kejelasan. Bertanya tentang ekspektasi, memahami definisi keberhasilan, dan meminta umpan balik secara berkala akan membantu kita merasa lebih terarah. Dengan begitu, kita tidak hanya mengikuti sistem, tetapi juga mengelola perjalanan kita sendiri.

Keempat, melihat tempat kerja sebagai ruang belajar. Ada istilah yang menarik, yaitu organisasi hari ini menjadi semacam post-secondary college, tempat belajar setelah pendidikan formal. Jika dilihat dari perspektif ini, setiap pengalaman menjadi berharga. Umpan balik bukan lagi kritik yang harus dihindari, melainkan bahan untuk berkembang. Kesalahan bukan kegagalan, melainkan bagian dari proses belajar.

Kelima, membangun jejaring koneksi. Generasi ini sering disebut sebagai yang paling terhubung secara digital, tetapi juga yang paling merasa kesepian. Di dunia kerja, hubungan tetap menjadi fondasi penting. Percakapan sederhana, kolaborasi kecil, dan interaksi sehari-hari membangun rasa memiliki yang tidak bisa digantikan oleh teknologi.

Pada akhirnya, perjalanan ini bukan tentang siapa yang benar, generasi lama atau generasi baru. Ini adalah proses saling memahami. Setiap generasi membawa cara pandang, nilai, dan pengalaman yang berbeda. Dan, justru dari perbedaan itulah muncul peluang untuk saling melengkapi.

Yang perlu diingat, gen Z bukanlah orang luar di dunia kerja. Mereka bukan sekadar generasi yang “harus menyesuaikan diri”. Mereka adalah bagian dari masa depan itu sendiri. Namun, masa depan tidak datang dengan sendirinya. Ia dibangun perlahan-lahan oleh mereka yang mampu memahami konteks, membangun kepercayaan, dan tetap memegang jati diri.

Barangkali, di situlah letak kekuatan gen Z yang sebenarnya, yaitu tidak hanya pada keberanian untuk berbeda, tetapi juga pada kemampuan untuk masuk, belajar, dan perlahan mengubah. Tanpa kehilangan siapa dirinya.

Baca juga: Menghidupkan Manajemen Kinerja

EXPERD

HR CONSULTANT/KONSULTAN SDM

Eileen Rachman & Linawaty Mustopoh

Character Building Assessment & Training EXPERD

EXPERD (EXecutive PERformance Development) merupakan konsultan pengembangan sumber daya manusia (SDM) terkemuka di Indonesia.

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Etiket Kerja Gen Z
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us