Banyak alasan mengapa album IV: Anastasis unit rock oktan tinggi kawakan ini perlu diantisipasi. Pertama, melewati proses penggarapan dengan rentang waktu terlama sepanjang karier Seringai, sekitar 7 tahun 10 bulan setelah Seperti Api (2018). Kedua, sejak mereka merilis singel-singel pembuka seperti “Pulang”, “Sejati”, dan “Senarai Feses”, terlihat bahwa vokalis Arian 13 tidak turun langsung dalam pengerjaan artwork sampul album seperti yang sudah-sudah. Ketiga, IV: Anastasis adalah karya peninggalan sang gitaris, Ricky ‘Chainsaw’ Siahaan.
Sedikit menengok ke belakang, sang Riffmeister berpulang 19 April 2025 saat bandnya melangsungkan tur Wolves of East Asia Tour 2025. Dalam rangkaian tur ini, Seringai berkesempatan tampil di tiga panggung di Taiwan dan dua panggung di Tokyo.
Sebagaimana yang sudah diketahui, Ricky meninggal dunia usai menyelesaikan set di panggung terakhir Seringai dalam Wolves of East Asia Tour 2025 acara Gekiko Fest di Wild Side, Tokyo. Banyak pihak yang merasa kehilangan, namun kepergiannya terasa puitis. Ricky mengembuskan napas terakhir saat melakukan kegiatan yang sepanjang hidupnya ia lakukan dengan penuh dedikasi, yaitu musik.
Berbicara sekarang, Seringai akhirnya merilis album keempat IV: Anastasis. Seperti maknanya, Seringai memilih bangkit lewat format trio, dengan bantuan Angga Kusuma (Taring, Billfold, Collapse, Leipzig) yang berperan mengisi part gitar di album ini. Untuk format live, band juga sudah menyiapkan formasi khusus yang terdiri dari tiga personel inti Seringai ditambah Angga dan Darma Respati (Negatifa, Stride) pada gitar.
Menerima banyak informasi Seringai via internet, kami berkesempatan bincang lebih lanjut dengan menemui Arian, Khemod, dan Sammy dalam acara listening session album IV: Anastasis (09/04) di Ruang Cincin Api, Menara Kompas. Setelah mengatur waktu dengan Wendi Putranto selaku manajer band, Pophariini membahas album, life after Ricky, dan lainnya.
![]()
Listening session IV: Anastasis / Dok. Anggik Yoga Prayuda
Sebelum listening session dimulai, saya ingat beberapa rekan media yang diundang hari itu membahas betapa kami tidak menyangka bahwa Seringai bakal merilis IV: Anastasis secepat ini, setelah berbagai peristiwa yang menimpa band. Untuk itu, saya tergerak untuk bertanya apa momen krusial yang membuat Seringai mengambil keputusan melepas karya terakhir mereka bersama mendiang sahabat mereka tersebut di tahun ini.
“Kenapa cepat rekamannya, mungkin in a way lebih mudah lah gitu untuk kami masuk ke proses rekaman sampai finishing, karena memang materi demo-nya udah lumayan matang, jadi itu sangat nge-cut proses (rekaman). Kecuali kami harus bikin lagi 10 sampai 12 lagu dari nol, gak mungkin secepat ini,” kata Sammy yang di album ini mengambil peran sebagai produser.
![]()
Sammy berperan jadi produser di IV: Anastasis / Dok. Anggik Yoga Prayuda
Disebutkan memang sebelum Ricky berpulang, mereka sudah menyelesaikan materi demo sampai sekitar 80%, bahkan hampir semua lagu sudah punya guide vokal, yang berarti lagu-lagu untuk album memang hanya tinggal melalui proses rekaman di dalam studio.
Usai mendengar fakta tersebut, hasrat untuk membicarakan album IV: Anastasis semakin menggebu. Simak obrolan selengkapnya di bawah ini.
Seberapa sering pikiran “What Would Ricky Do?” hinggap di kepala kalian selama penggarapan IV: Anastasis?
Sammy: Gue selalu berpikir seperti itu karena gue gak banyak bekerja dengan musisi-musisi, misalkan produce atau ikut serta dalam kegiatan rekaman band lain. Yang pernah gue lakukan, yang berhubungan sama rekaman, ya itu cuma di Seringai, produser yang pernah gue lihat (caranya) bekerja, ya itu cuma Ricky, jadi referensi gue sangat sempit. Karena gue tidak dibekali dengan ilmu atau pengalaman yang cukup untuk handle sebuah rekaman, walaupun itu juga gak ditunjuk dari awal kalau, “Lo aja produsernya.” Gak gitu kan, jadi gue banyak sekali berpikir yang “What would Ricky do?”. Kayak, gue mencoba melakukan apa yang dia lakukan.
Khemod: Although, in some part juga sebenernya gak ada Ricky, ada liberating-nya. Bahwa ada hal-hal yang mungkin akan (memicu) overthinking dia, kayak mikir, “Ini gak bisa dimainin dengan satu gitar.” Kami agak gak peduli waktu itu, ya udah kalau emang bagus, sikat aja.
![]()
Khemod merasa perubahan yang terjadi di Seringai liberating / Dok. Anggik Yoga Prayuda
Arian: Kami suka mikir kalau rekaman, “Gak usah terlalu banyak dipoles, tapi kalau nambah satu/dua gini, gak apa-apa kali, Ky?” Nah, Ricky tuh yang, “Hmm, jangan deh, nanti live-nya gimana?”.
Sammy: Sebenarnya bukan dia punya hak veto, tapi lebih kami memercayai dia, dan kemudian musyawarahnya tetap di dia sebenarnya di terakhir.
Khemod: Gue soalnya ngerasa album ini tuh banyak banget yang kayak, double gitarnya di-explore. Apakah ini bisa dibawain live atau gak, kami gak terlalu mikirin.
Sammy: Ada kok satu lagu yang lead gitarnya kami punya tiga alternatif, yang ini kayak Iron Maiden, yang itu kayak apa gitu. Nah, itu gak pernah terjadi.
Khemod: Mungkin akan terdengar kayak gimana, tapi emang mungkin perubahan itu liberating.
Arian: Terus kayak gue rekam vokal beberapa pakai layer misalnya, terus jadi bagus. Setelah udah jadi, style vokal gue akan ngikutin kayak gitu. Jadi nanti kalau live akan diikuti seperti itu. Ricky tuh lebih overthinking-nya kayak, “Gak apa-apa Ky, kita belum pernah nyoba yang ini.” Nah dia mikirnya, “Hmm, gimana ya bagusnya?” Lama dan akhirnya gak jadi. Kalau (album) ini kayak, “Coba aja dulu.” Didengerin, kalau memang gak enak ya takeout.
Sammy: Kalau gak enak, ada buktinya kalau gak enak.
Khemod: Tapi kalau sama Ricky dulu seringnya adalah, di pikiran dia udah langsung merasa gak enak. Buat apa buang waktu untuk explore ke arah sana, contoh kasusnya kayak gitu. Cuma di sekarang mungkin motivasi buat kami, toh dari awal penulisan lagunya juga kami berusaha berubah. Jadi ketika segala eksplorasinya berbeda, gak apa-apa rasanya gitu. Toh emang kami berubah dari berempat jadi bertiga [tertawa]. Mau gak mau harus berubah, gak mungkin di-compare.
Apa yang jadi pertimbangan saat memutuskan Seringai akhirnya memakai format dua gitar?
Khemod: Kami gak mungkin membandingkan Ricky dengan gitaris lain, mungkin itu juga salah satu pertimbangan kami pakai dua gitaris.
Arian: Orang-orang kan bilang, “Wah, untuk menggantikan Ricky butuh dua gitar.” Sebetulnya ketika masih ada Ricky, kami pun pernah melempar ide itu. “Ky, lo tertarik gak nambah gitaris satu lagu, siapa tau kita bisa explore.” Ricky tuh hesitate…
Khemod: Tapi gak juga sih, sebenarnya waktu itu sempat mau.
Sammy: Cuma lagu “Pulang” doang bersama Osmar (Teknisi gitar Seringai). Tapi gue ingat kok si Arian pernah ngomong, “Gimana kalau kita emang ada dua gitar? Bukan personel, tapi emang ada dua gitar.” Say misalkan Absar (Lebeh) di The SIGIT, kan dia main terus kan, meskipun di belakang, tapi dia tampil. Mungkin sesuatu seperti itu, gue menangkapnya begitu ya ide lo waktu itu. Tapi Ricky kayak, “Ah, gak usah lah.” Akhirnya si Osmar doang (yang main) di lagu “Pulang”, karena lagu itu outro-nya panjang, ketika dia (Ricky) nge-lead terus gak ada rhythm-nya, (jadinya) kosong banget.
Arian: Kalau “Pulang” kan emang gitar A dan B-nya memang beda. Tapi kalau ini kayak tiba-tiba kemarin kami latihan, udah format berlima, itu tuh udah kayak aransemen baru lagi. Lagu lama, tapi, “Eh, bentar-bentar, nih coba Angga atau Darma duluan (masuk)”.
Sammy: Ada left/right.
Khemod: Kayak misalnya ada sebuah lead melodi, “Kenapa gak ambil rendah sama tinggi barengan ya? Jadi duals gitu, menarik ya”.
Sammy: Tapi bukan pakai efek, live.
Khemod: Jadi ya itu, emang perubahannya sucks, tapi somehow liberating gitu.
Sammy: Gue waktu pertama kali latihan berlima, terus ada beberapa lagu yang emang sudah dipelajari mereka di rumah, terus ada misalkan kayak (bagian) tengahnya “Akselerasi Maksimum” gitu, biasanya cuma “Jettt… Jettt… Jettt…” Nah ini jadi ada, “Tetodot… tetodot… totet…” Terus gue sama Khemod langsung lihat-lihatan, “Wah anjing, enak banget”.
Khemod: Karena di rekamannya gitu, tapi di live gak pernah begitu.
Oke, bisa kita bahas nih satu-satu. Dimulai, kenapa kalian memilih Angga Kusuma?
Arian: Iya Ricky tuh waktu kita tur bareng Taring di Jepang (Seperti Api Japan Tour, 2019) dia bilang suka style-nya Angga, style-nya 11-12 dengan dia. Kan kadang-kadang kami manggung, Khemod atau Sammy gak bisa, jadi ada additional-nya. Nah, si Ricky pernah mention, seru ya kalau Angga yang jadi additional di Seringai kalau dia gak bisa.
Sammy: Cocok nih kayaknya nih.
Arian: Jadi ya emang udah acc.
Sekarang alasan memilih Darma sebagai gitaris 2 dalam format live? Apa supaya bisa lebih enak mengatur jadwal dengan Negatifa mungkin?
Khemod: Gue yang ngusulin. Waktu itu kami udah kepikiran dua gitaris, cuma waktu itu belum tau siapa satu lagi, terus gue pikir salah satu pertimbangan pertama adalah chemistry. Darma tuh datang ke rekaman. Datang, bawain martabak lah [tertawa].
Arian: Gue yang ajak. Maksudnya si Negatifa kemarin tuh rekamannya di studio Invasion, studio kecil, jadi ada keterbatasan-keterbatasan. Pas Seringai rekaman, gue sebenernya bilang ke anak-anak (Negatifa), mereka kan sangat DIY underground, jadi studio-studio yang biasa mereka (pakai) untuk rekaman tuh lebih yang gitu lah. Kami di Dexter studionya, emang proper, bagus, “Eh, lo dateng, lo mungkin bisa belajar sesuatu juga.” Gitu sih. Nah, yang datang Darma aja.
Khemod: Terus gue juga mikirnya, at least kalau buat gue pertama tuh chemistry, kedua teknis. Angga kami udah kenal dari lama, secara chemistry udah beres, technical kami udah tau juga. Jadi kalau mau nyari satu lagi, ya start-nya dari chemistry dulu. Buat gue pribadi, gue ngerasa kombinasi Angga sama Darma tuh seperti kombinasi seleranya Ricky. Angga yang mainnya rapi, sophisticated, punya selera di alternatif, shoegaze, semua segala, tapi Ricky juga suka hardcore punk yang kasar. Dan emang pas kami bagi sound-nya emang jadi kebagi gitu, si Angga yang lebih rapinya, yang lebih tight-nya. Yang low gitu banyak diambil sama si Darma. Kalau gue sih waktu itu nawarinnya gitu. Di sisi lain, biar secara teknis gampang ngatur jadwal [tertawa]. Silakan hubungi langsung ke booking agent-nya.
Sejauh apa kalian memberikan ruang kebebasan untuk menginterpretasikan materi-materi baru Seringai ini?
Sammy: Banyak. Sangat luas kok.
Arian: “Sang Lelaki” dia sendiri tuh melodinya.
Khemod: Terutama kalau bagian lead, itu kami agak ngebebasin.
Sammy: Jadi dia nge-draft, terus kirim. Dia ngirim ke gue, gue kirim ke yang lain. Tapi ada banyak juga improvisasi dia yang dilakukan langsung pas di studio.
Khemod: Tapi kami sih sebenarnya ngasih banget ruang justru kayak, “Bagusan kayak gimana, Ngga? Menurut lo ini gimana?”.
Sammy: Iya, ada gitunya juga. Si lagu “Akar” yang pas bagian ngeband-nya, fill-nya itu dia aja yang nyari. Pokoknya mau yang sedih, kontemplatif, melodius, dia deh tuh.
Khemod: Makanya pas di situ kan gue jadi ngerasa ini something Ricky would do sih, karena mungkin memang seleranya sama. Dia (Angga) di Collapse, gitu-gitu kan sebenarnya reference-nya ke sana juga kan, today’s shoegaze.
Sammy: Sama Angga memang suka Seringai katanya. Jadi dia kayaknya paham band ini mau diapain.
Arian: Dia ngikutin.
Khemod: Ricky tuh salah satu reference dia.
Sammy: Jadi ya bagus lah.
Kabarnya, Seringai juga bakal rilis demo IV: Anastasis setelah perilisan album. Apa sih perbedaan emosional kedua versi ini?
Sammy: Ya yang satu Angga yang main, yang satu Ricky yang main.
Khemod: Yang satu live (direkamnya). Benar-benar kayak kami latihan di studio, that’s it.
Saat bikin pertanyaan ini waktu itu hanya berkaca sama lirik lagu “Pulang”, “Sejati”, dan “Senarai Feses” yang udah rilis duluan. Tiga lagu ini rasanya lebih personal, apakah refleksi kehidupan lo selama 8 tahun gak rilis album?
Arian: Semua lirik gue menurut gue personal, tinggal relevan apa gak dengan orang. Maksudnya liriknya Cannibal Corpse juga personal, relevannya sama siapa? Sama orang psikopat mungkin. Jadi sebetulnya itu bukan suatu hal yang penting, apakah ini personal atau bukan, relevan dengan orang banyak apa gak. Lebih ke ekspresi aja, sama dengan musik, lirik juga ekspresi.
![]()
Arian menulis lirik sebagai bentuk ekspresi / Dok. Anggik Yoga Prayuda
Khemod: Dan harusnya lirik yang bagus itu memang bisa multi-interpretasi sebenarnya. Ya mungkin karena orang cocoklogi jadinya ngerasa, “Oh itu sangat personal banget.” Kayak misalnya gue yang ditanya gitu, “Sejati” buat gue tentang true to the scene. Kayak Jokowi tuh menurut gue “Sejati”, menipu kita dengan sok-sok pakai baju metal. Kalau lo mendengarkan lirik positif sebagai pesan, lo gak akan jadi presiden kayak begitu. Jokowi tak akan menjadi kami. Nah, akhirnya kan tergantung background dan pretensi orang. Kalau lo emang pretensinya ke para influencer, ya berarti itu yang akan lo pikirin.
Tapi di usia lo sekarang nih, jadi lebih susah gak sih mencari tema lirik, mengingat Seringai juga udah punya tiga album?
Arian: Gue sekarang bikin tema lirik untuk dua band.
Nah, itu juga yang pengin ditanyain. Apakah dengan lo yang udah lebih marah-marah di Negatifa jadi ada perubahan pas nulis buat Seringai gak?
Arian: Gue gak tau ini akan masuk apa gak, tapi ini tema lirik yang belum jadi lagu. [Arian menunjukkan catatan tema lirik di handphone-nya].
Khemod: Sebanyak itu.
Arian: Ngebedainnya tuh caranya aja sih. Negatifa jelas lebih singkat dan to the point, Seringai tuh lebih bercerita, karena durasi juga mungkin lebih puitis.
Saat nulis lirik, gimana caranya lo bikin cerita yang mau lo angkat bisa relate ke rekan-rekan lo di Seringai?
Arian: Karena kami dekat, jadi biasanya kami udah, “Oh lo cerita A, B, C.” Gitu. Kecuali gue punya rahasia pribadi, terus gue bilang gini, terus gue ini, oh bisa begitu ya.
Maksudnya gimana itu? Boleh jelasin lagi?
Arian: Gak bisa diulang.
Semua: [tertawa].
Arian: Sebagai contoh deh, lirik lagu “Pulang”. Waktu gue bikin lirik itu sih anak-anak gak ada yang tau. Terus gue cerita ini liriknya tentang apa, mereka juga surprised kali ya.
Khemod: Cara dia untuk share problem-nya ternyata lewat karya.
Sammy: Lagi pula juga kami sadar akan perlunya untuk ngobrolin si topik smiling depression. Ini bukan sesuatu yang jelas terlihat di depan mata, tapi banyak orang mengalaminya. It’s a form of depression atau anxiety.
Arian: Depression dan anxiety itu ada di semua orang, terlebih mereka yang udah makan asam garam atau mungkin, banyak permasalahan, bukan dia yang bermasalah, tapi ya ini sesuatu yang gak dikomunikasikan. Mungkin contoh paling gede misalnya para komedian yang terus akhirnya bunuh diri, kan ada Robin Williams. Gak nyangka. Sama kayak si Riley Gale-nya Power Trip, kayaknya gak apa-apa, tapi ternyata gone.
Sammy: Jadi menarik dan penting gitu. Mungkin pesannya kayak, be nice to people, you don’t know what their problems. Oke banget sih kalau menurut gue ya. Terlepas dari gue dan Khemod relate karena sama-sama mengalami, gak harus sampai situ.
![]()
Kedekatan para personel Seringai membuat mereka sudah saling mengerti / Dok. Anggik Yoga Prayuda
Khemod: Sebenarnya itu kan menurut gue akhirnya orang bertanya-tanya gini mungkin karena orang punya ekspektasi bahwa Seringai itu harusnya ngomongin topik tertentu. “Seringai tuh harus ngomongin politik, senang-senang, tapi sambil marah-marah, itu lah Seringai.” Gue gak suka sih sebenarnya diarahkan.
Arian: Jadi limiting.
Khemod: Makanya gue suka banget album ini, karena ya itu liberating. Kami gak harus dipaksa jadi Seringai yang berbicara seperti apa. “Politik tuh sekarang lagi kacau-kacaunya, kok lo gak omongin?” Anjing, gue udah ngomongin dari beberapa tahun lalu, lo sih nge-vote.
Arian: Sesimpel kayak misalnya, ada yang lagi ngetren nih, isu sawit misalnya, “Seringai gak mau bikin lagu tentang sawit?” Gak kayak gitu juga.
Khemod: Kalau mau ngomong gitu mah, penyebabnya juga udah gue omongin di album-album sebelumnya. Toh gak ada perubahan kan?
Salah satu lagu Seringai di album ini, “Matinya Kepakaran” bahas tentang influencer. Apa latar belakang pemikirannya?
Khemod: Banyak sih sebenarnya. Kayak di zaman pandemi, orang lebih percaya anti-vaccine daripada pakar yang ngomongin soal vaksin. Terus orang lebih percaya podcast membahas sebuah topik, daripada pakarnya membahas topik tersebut. Bahwa sekarang podcaster itu seakan-akan sumber informasi yang paling akurat dan valid.
Arian: Ini maksudnya bukan podcast yang terus mendatangkan narasumber yang tepat dan kredibel ya.
Maksudnya kayak Unfaedah Podcast ya?
Arian: Itu mah udah jelas gak ada faedah [tertawa].
Sammy: Namanya aja begitu [tertawa].
Khemod: Ya kalau lo menganggap Unfaedah Podcast sebagai sumber referensi, something’s wrong with you [tertawa].
Tapi tenang, podcast XYZ lumayan bermuatan kok.
Sammy: Ada dagingnya dikit lah ya.
Khemod: Cuma sekarang kan emang zamannya gitu, orang-orang berpatokan sama citra, sama tampilan, sama ya influencer.
Arian: Ya itu hasilnya kayak sekarang kan, 58% itu kan karena dampak influencer.
Khemod: Semua influencer berjoget bersama di sebuah panggung ramai-ramai, dan semua percaya. Lo gak percaya pakar yang bilang bahwa ‘dia’ bermasalah. Ya sekarang kita ada di sini.
Oke, kita lanjut bahas musik lagi. Saat bikin materi buat IV: Anastasis band apa aja yang jadi referensi? Apakah ada yang di luar pakem Seringai selama ini?
Khemod: Ada Voivod, Killing Joke, Bolt Thrower, Converge, Prong, banyak sih.
Sammy: Waktu mastering gue pakai sample-nya Gojira biar agak modern karena pengin cari sound yang gak terlalu vintage. Emang pengin berubah juga dari sisi itunya.
Khemod: Tapi kalau lo perhatiin sound-nya Seringai tuh selalu berubah sebenarnya. Hanya orang mungkin terpatri sama heavy-nya album Seperti Api gitu. Jadi kayak, “Oh, ini nih, Seringai kayak gini.” Ya, for you [tertawa]. Kayak, aku lelah deh mengikuti kemauan netizen.
Jadi emang di album ini banyak band di luar pakem Seringai ya yang jadi referensi kalian?
Khemod: Bahkan sampai Depeche Mode gitu ya. Menurut gue “Pulang” itu somehow terinspirasi dari Depeche Mode.
Sammy: Iya, “Pulang” tuh sangat Depeche Mode menurut gue, kental lah bisa dibilang.
Khemod: Iya, ending-nya, terus darkwave tapi ala kami.
Kalau dari vokal? Soalnya biasanya gue selalu nangkepnya tuh vokal Arian ya kayak Danzig tapi lebih serak. Di album ini kayaknya vokal lebih di-explore ya?
Arian: Maksudnya gak selalu di main vocal-nya, tapi bisa kayak di isiannya. Gue pribadi, enaknya punya band lain ya gue bisa explore. Ketika Negatifa rilis tuh, orang lumayan gak nyangka itu tuh gue. Jadi itu lumayan, “Oh, ternyata si Arian bisa begini juga ya?” Bisa, tapi di Seringai gak masuk.
Album ini juga pertama kalinya sampul album tidak dikerjakan oleh Arian. Kenapa kalian mengambil keputusan memakai ilustrator lain untuk album ini dan kenapa memilih Bahrull Marta?
Arian: Sesuai tone aja sih. Maksudnya dengan lagu-lagu kami yang udah jadi, dan waktu itu Ricky masih ada. Gue udah cukup merasa lagu-lagu baru Seringai itu in a way dark, jadi gue juga pengin punya artwork yang lebih dark. Kalau gue pakai ilustrasi gue, menurut gue less dark. Dan gue udah pernah kerja sama bareng Bahrull, ya udah sekalian aja.
Kemarin juga sempat lihat orang tweet kayak tahun ini tuh Neurosis, Poison The Well, Converge, sampai Seringai rilis album. Vibes-nya jadi kayak tahun 2000-an lagi, pendapat kalian?
Arian: Emang janjian sama mereka.
Sammy: “Kalian kapan, bro?” Gitu.
Arian: Sebetulnya ini karena lagi banyak yang rilis, tapi kalau lo perhatiin tahun-tahun lalu yang rilisannya bagus ya selalu akan ada.
Tapi dari obrolan kemarin kayak kalian-kalian lagi keluar kandang semua nih.
Khemod: Iya, kayak The SIGIT.
Arian: Kelelawar Malam.
Nah, di antara banyaknya rilisan album itu, kalian udah nyiapin strategi khusus gitu gak?
Sammy: Baru sebatas videoklip, comeback show, itu juga cukup pikirin.
Arian: Iya, kami juga fokusnya lebih ke situ, comeback aja dulu.
Khemod: Kami bukan seperti influencer yang bikin gimmick. Gak gitu juga sih, biasa aja.
Sammy: Kalau ngomongin strategi digital masa kini yang kami lagi tempuh atau mau dijalanin untuk mempromosikan album ini, jujur belum ada.
Khemod: Kami bisa balik lagi manggung aja bagus [tertawa].
Sammy: Cara-cara kami nge-service albumnya masih konservatif lah bisa dibilang.
Pertanyaan terakhir. Anastasis kan artinya kebangkitan, kebangkitan seperti apa yang kalian tawarkan di album ini?
Arian: Kematian Ricky kan sesuatu perubahan besar. Ketika kami bangkit lagi dengan IV: Anastasis, itu juga sebuah perubahan besar, positif juga.
Khemod: Sesimpel kami bangkit dari hiatus sebenarnya. Gue banyak banget dapat pertanyaan pas Ricky meninggal, “Bagaimana nasib Seringai?” Di gue sendiri juga bertanya gitu kan. Bahwa ini kebangkitannya bukan cuma di Seringai-nya, gue ternyata juga bangkit lagi.
Sammy: Mungkin gini kali ya, kebangkitan ini bukan sebuah kebangkitan formalitas cuma untuk menunaikan hutang yang masih ketinggalan. Banyak sekali perubahan yang kami lakukan di Seringai, format baru, aransemen musiknya juga fresh. Kami nanti akan comeback show dengan program lighting baru, visual panggung baru, intro baru, semuanya kami usahakan se-fresh mungkin. Jadi kebangkitan tuh bukan cuma tagline semata, tapi emang kami mencoba untuk merealisasikan arti dari kata itu sendiri. Harusnya sih kalau emang ngikutin Seringai dari lama, udah sering nonton, mustinya terasa sesuatu yang benar-benar beda lah dari Seringai.
![]()
Seringai siap bangkit lewat album IV: Anastasis / Dok. Anggik Yoga Prayuda