Meski berstatus sebagai tim tamu, Gustavo Franca dkk. memberikan perlawanan sengit kepada tuan rumah. Menurut Hendri Susilo, seharusnya sejak menit kedua Malut United berhak mendapat hadiah penalti dari aksi pemain muda, Taufik Rustam.
Namun, wasit Aprisman Aranda menganulir keputusan penalti setelah meninjau Video Assistant Referee (VAR). Pembatalan keputusan penalti itu ditebus dengan gol Ciro Alves yang memanfaatkan assist Taufik pada menit ke-32.
Andai keputusan penalti tak dianulir, Malut United berpotensi mencetak dua gol di babak pertama. Bali United berhasil menyamakan kedudukan pada menit ke-40 lewat eksekusi penalti Teppei Yachida.
Masuk babak kedua, meski Malut United tak mengendurkan perlawanannya akhirnya mereka harus kebobolan tiga gol berkat aksi Joao Ferrari menit ke-63, Boris Kopitovic (67’), dan Thijmen Goppel (77’).
Pemain Malut United juga memprotes keputusan wasit yang menganggap Wbeymar Angulo melakukan pelanggaran saat merebut bola dengan cara bersih. Tendangan bebas dari pelanggaran itu yang kemudian berbuah gol kedua bagi Bali United.
Laskar Kie Raha pun kembali mendapatkan potensi penalti setelah tangan pemain Bali United menyentuh bola di kotak terlarang. Akan tetapi, wasit memutuskan tidak ada handball setelah meninjau VAR.
“Berbagai kondisi yang terjadi akibat keputusan wasit membuat kami kehilangan sentuhan dan momentum,” jelas Hendri Susilo.