Legenda Mbok Randa Bintara dan Lurah Cakrajaya, Cerita Rakyat dari Yogyakarta
Legenda Mbok Randa Bintara dan Lurah Cakrajaya merupakan salah satu cerita rakyat dari Yogyakarta. Konon kisah dalam legenda ini menjadi asal usul penamaan Desa Bintaran dan Desa Jalasutra yang ada di daerah Bantul, Yogyakarta.
Bagaimana kisah lengkap dari legenda Mbok Randa Bintara dan Lurah Cakrajaya tersebut?
Legenda Mbok Randa Bintara dan Lurah Cakrajaya, Cerita Rakyat dari Yogyakarta
Dikutip dari buku Antologi Cerita Rakyat Daerah Istimewa Yogyakarta, pada zaman dahulu di sebuah desa hidup seorang janda beserta kelima orang anaknya. Janda tersebut bernama Mbok Randa Bintara.
Mereka tinggal di sebuah gubuk yang sudah tidak memadai. Tidak hanya itu, keluarga tersebut juga hidup dalam taraf kemiskinan.
Meskipun demikian, Mbok Randa Bintara tidak menyerah begitu saja. Dia tetap meminta pada Yang Maha Kuasa agar keluarganya dapat hidup dengan layak.
Pada suatu hari, Mbok Randa Bintara tengah merasa gusar. Kelima anaknya belum makan pada hari tersebut.
Situasi ini makin diperparah ketika Lurah Cakrajaya mendatanginya. Lurah tersebut memerintahkan Mbok Randa Bintara untuk menyiapkan seratus bungkus nasi untuknya.
Mbok Randa Bintara tentu merasa kebingungan dengan permintaan itu. Jangankan seratus bungkus nasi, makanan untuk anak-anaknya saja tidak tersedia.
Walau begitu, Lurah Cakrajaya tidak peduli dengan kondisi yang dialami Mbok Randa Bintara. Jika dia gagal melakukan perintah tersebut, maka Mbok Randa Bintara beserta anak-anaknya akan diusir dari desa tersebut.
Lurah Cakrajaya memang dikenal sebagai pemimpin yang tamak dan berperilaku buruk. Dia tidak segan berbuat semena-mena pada masyarakat yang ada di desa tersebut.
Di tengah kebingungannya, tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu rumah Mbok Randa Bintara. Ada seorang pemuda yang menawarkan ikan hasil tangkapannya pada Mbok Randa Bintara.
Dengan sopan Mbok Randa Bintara menolak penawaran pemuda tersebut. Dia berkata jika tidak memiliki uang untuk menebus ikan tersebut.
Pemuda ini kemudian bertanya mengapa Mbok Randa Bintara terlihat begitu gusar. Mbok Randa Bintara akhirnya menceritakan kondisi yang tengah dia alami.
Setelah mendengarkan cerita tersebut, pemuda ini kemudian bertanya apakah Mbok Randa Bintara masih memiliki sisa beras. Ternyata di rumah tersebut hanya tersisa secangkir beras saja.
Pemuda ini kemudian meminta Mbok Randa Bintara untuk membuat ketupat dari setiap butir beras. Nantinya secangkir beras itu akan cukup untuk seratus bungkus ketupat.
Tidak hanya itu, pemuda itu juga memberikan ikan hasil tangkapannya secara cuma-cuma. Pemuda tersebut berkata jika Mbok Randa Bintara bisa memohon pertolongan pada Yang Maha Kuasa atas apa yang tengah dia alami.
Awalnya Mbok Randa Bintara merasa heran dengan perintah pemuda tersebut. Namun dia tetap melakukannya begitu saja.
Benar saja, semua ucapan pemuda tersebut berhasil terbukti. Dengan perasaan senang, Mbok Randa Bintara kemudian mengantarkan pesanan yang sudah dia buat pada Lurah Cakrajaya.
Ketika sedang asik makan, tiba-tiba Lurah Cakrajaya menemukan bongkahan emas di dalam ketupat tersebut. Dirinya kemudian langsung menghampiri Mbok Randa Bintara dan menanyakan dari mana lauk untuk makanan itu dia dapatkan.
Mbok Randa Bintara kemudian berkata jika ada seorang pemuda yang memberikan ikan sebagai lauk untuknya. Lurah Cakrajaya kemudian langsung menuju ke sungai dan mencari pemuda tersebut.
Begitu tiba di sungai, Lurah Cakrajaya langsung memerintahkan pemuda itu untuk mencari ikan yang sama persis dengan yang dia berikan pada Mbok Randa Bintara. Lurah Cakrajaya berkata jika dia ingin mendapatkan emas lebih banyak seperti apa yang baru saja ditemukannya.
Melihat ketamakan Lurah Cakrajaya, pemuda tersebut tetap tenang begitu saja. Bahkan dia berkata bisa mendapatkan emas lebih banyak dengan mudah.
Pemuda tersebut kemudian melemparkan jalanya ke sebuah batu yang ada di atas bukit. Batu-batu tersebut kemudian berubah menjadi emas dan bersinar.
Bukan main girangnya Lurah Cakrajaya melihat hal itu. Tidak menunggu waktu lama, dia langsung berlari menuju puncak bukit dan menghampiri batu emas tersebut.
Namun begitu mendekat, batu tersebut berubah seperti sedia kala. Hal itu terus terjadi berulang kali.
Lurah Cakrajaya akhirnya menyadari sifat tamak yang dia miliki. Perasaan ini makin terasa ketika dia tahu bahwa pemuda yang ada di hadapannya adalah Sunan Kalijaga.
Sejak saat itu, Lurah Cakrajaya mengabdi sebagai murid Sunan Kalijaga dan dikenal dengan nama Sunan Geseng. Kelak desa yang dulu dia pimpin akhirnya dikenal dengan nama Desa Bintaran.
Sementara itu, bukit tempat dilemparnya jala Sunan Kalijaga dikenal dengan nama Desa Jalasutra. Kelak di desa ini pula Sunan Geseng wafat dan dimakamkan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News