Arab Bersatu Emirates telah mengumumkan akan meninggalkan OPEC dan OPEC+ efektif tanggal 1 Mei, mengakhiri keanggotaan yang dimulai pada tahun 1967—empat tahun sebelum UEA didirikan sebagai sebuah negara. Hal ini menandakan titik balik dalam peran UEA dalam hal ini energi global.
Pernyataan pemerintah, dipublikasikan di kantor berita negara WAMmengutip tinjauan komprehensif terhadap kebijakan dan kapasitas produksi negara tersebut sebagai dasar tindakan tersebut, dan menyebutnya sebagai cerminan dari “visi strategis dan ekonomi jangka panjang UEA serta profil energi yang terus berkembang.”
Keputusan tersebut, katanya, berakar pada kepentingan nasional dan komitmen untuk memenuhi apa yang digambarkan sebagai “kebutuhan mendesak” pasar, yang mengacu pada permintaan global yang menurut UEA tidak terlayani pada saat terjadi gangguan pasokan yang signifikan.
Pernyataan tersebut mengakui latar belakang geopolitik—termasuk konflik yang sedang berlangsung dengan Iran yang sangat membatasi pergerakan kapal tanker melalui jalur tersebut Selat Hormuzjalur air sempit antara Iran dan Oman yang dilalui secara kasar seperlima dari minyak mentah dan gas alam cair dunia biasanya lewat.
Administrasi Informasi Energi AS memperkirakan bahwa Irak, Arab Saudi, Kuwait, UEA, Qatar, dan Bahrain menutup produksi minyak mentah sebesar 7,5 juta barel per hari pada bulan Maret, dan 9,1 juta barel per hari pada bulan April.
Namun, pernyataan tersebut menggambarkan keluarnya AS sebagai hal yang didorong oleh kebijakan dan bukan reaktif, dengan menyatakan bahwa “tren yang mendasarinya menunjukkan pertumbuhan permintaan energi global yang berkelanjutan dalam jangka menengah dan panjang.”
Perselisihan yang Berlangsung Lama
Pengumuman hari Selasa itu bukannya tanpa preseden. Pada tahun 2021, UEA menolak untuk mendukung perjanjian produksi guna memperpanjang pengurangan produksi kecuali kuota masing-masing negara ditingkatkan, dengan alasan bahwa negara tersebut telah menginvestasikan miliaran dolar untuk meningkatkan kapasitas dan dibatasi secara tidak adil oleh angka-angka yang ditetapkan pada tahun 2018. Sebuah kompromi akhirnya tercapai, namun kejadian tersebut menimbulkan ketegangan mendasar: UEA ingin memproduksi lebih banyak, dan sistem kuota OPEC menghambatnya.
Ambisi itu semakin berkembang sejak saat itu. Perusahaan Minyak Nasional Abu Dhabi, sebuah entitas milik negara, telah melakukannya target yang dinyatakan sebesar 5 juta barel per hari pada tahun 2027naik dari produksi saat ini sekitar 3,4 juta. Berdasarkan kesepakatan OPEC+, negara tersebut dibatasi produksinya sebesar 3,2 juta barel per hari, sementara kapasitasnya berada di atas 4 juta barel, sebuah kesenjangan yang membuat keanggotaannya semakin sulit untuk dibenarkan.
UEA menekankan bahwa keluarnya negara ini bukan merupakan tanda mundurnya tanggung jawab energi global. Mereka berjanji untuk membawa produksi tambahan ke pasar “secara bertahap dan terukur, selaras dengan permintaan dan kondisi pasar,” dan menegaskan kembali rencana investasi di bidang minyak, gas, energi terbarukan, dan teknologi rendah karbon.
Pernyataan tersebut menyatakan bahwa keluarnya OPEC akan membuat negara ini lebih fleksibel dalam menanggapi dinamika pasar; OPEC menetapkan batasan produksi, yang berarti bahwa produsen minyak terbesar di dunia sering kali dapat memasok dan menjual lebih banyak minyak daripada jumlah sebenarnya.
Dengan membatasi pasokan, kelompok ini mampu mendukung harga. Mekanisme ini terutama menguntungkan produsen yang sangat bergantung pada pendapatan minyak, sebuah gambaran yang jauh lebih cocok untuk Arab Saudi dibandingkan UEA, yang perekonomian non-minyaknya kini berkontribusi sekitar 75 persen PDB.
Reaksi Pasar dan Implikasinya Lebih Luas
Respon pasar langsung sangat tajam. Minyak mentah Brent, patokan Eropa, melampauinya $100 per barel untuk pertama kalinya sejak 8 April, naik menjadi $111 pada saat penulisan.
Implikasi jangka panjang bagi OPEC lebih penting. Kelompok ini berada di bawah tekanan selama berbulan-bulan, dengan beberapa anggotanya—termasuk Irak, Kazakhstan, dan UEA—yang memproduksi kuota mereka secara berlebihan dan menjadi sasaran konflik. diharuskan untuk memberikan kompensasi. Kepergian UEA melucuti kelompok produsen terbesar ketiga tersebut pada saat dinamika pasokan sudah rapuh.
Keluarnya Qatar dari grup tersebut terjadi pada tahun 2019 dan terjadi saat OPEC mempersiapkan pertemuan di Wina, Austria, pada hari Rabu.
“Waktunya telah tiba untuk memfokuskan upaya kita pada kepentingan nasional kita dan komitmen kita terhadap investor, pelanggan, mitra, dan pasar energi global,” bunyi pernyataan itu.
UEA mengatakan mereka menghargai kerja sama OPEC selama lebih dari lima dekade dan berharap organisasi tersebut sukses di masa depan.
Cerita ini pertama kali muncul di WIRED Timur Tengah.