Ketika dengar kata kos campur, pasti yang di pikiran kalian adalah kebebasan, suara mendesah tiap malam, serta kegilaan yang tak terbatas. Akui saja, nggak usah ditutup-tutupi begitu lah.
Dulu saya mikirnya juga begitu, sebelum pindah ke kos campur. Saya sempat tinggal di kos campur sekitar beberapa bulan. Saya sudah menyiapkan jika diri saya harus melihat kegilaan yang ada. Pikiran saya saat itu, asal ra nyenggol, ra bakal disenggol. Toh saya pekerja, ngapain ngurusin tingkah anak kos lain.
Tapi begitu tinggal, saya akhirnya tau bahwa kos campur yang sering dianggap tempat orang biadab berkumpul, ternyata tidak seburuk itu. Malah yang saya temui, nggak buruk sama sekali.
Desahan di kos campur
Namanya kos campur, biasanya ya bebas. Pikiran orang-orang, kalau kosnya bebas, ya isinya seks bebas. Dari dulu kayak gitu. Masalahnya, sewaktu saya tinggal di situ, saya nggak denger kayak gitu sama sekali. Kalau pada ngeseks saya nggak tau, nggak mungkin juga saya intip.
Cuma kalau fantasi kalian adalah suara lenguhan panjang dua insan sepanjang hari, buang jauh-jauh kayak gitu. Kos bebas dan gila itu sering sepaket, tapi nggak melulu seperti itu juga kegiatannya. Sepanjang waktu saya ngekos di Jogja, hampir semuanya kos bebas, nyatanya orangnya ya normal-normal saja.
Dan kos campur, ya nggak ada bedanya begitu jauh.
Orang-orangnya pada cuek
Yang saya alami selama ngekos di kos campur, ya orang-orangnya pada cuek. Tegur sapa jarang banget. Jadi jika ditanya trait paling keliatan di kos campur, menurutku justru bukan orang-orangnya gila, tapi kelewat individualistis. Makanya kos campur dan kos bebas itu laku keras bukan karena kebebasan dari norma, tapi karena orangnya nggak pedulian, akhirnya bisa fokus sama diri sendiri.
Saya beneran tidak tahu penghuni lain selain yang memang sudah saya kenal sebelumnya. Yang saya kenal pun, belum tentu saya ketemu tiap hari. Pada dasarnya, saya beneran sama kayak pekerja yang lainnya, yang pake kos sebagai tempat tidur saja. Jadi ya, kalian nggak usah mikir saya gimana-gimana.
Kamar mandinya memang bermasalah, sih
Kapan hari, saya mengedit naskah tentang biaya lv di jogjadan penulis mengeluhkan kamar mandi. Nah, kalau ini, saya setuju. Masalah di kos yang saya tempati pun tentang kamar mandi.
Kos saya saat itu memang kamar mandinya banyak. Tapi yang dua kelewat sempit. Yang satunya, yang luas, sering dipakai. Masalahnya, kondisinya ya ngapunten, nggak menyenangkan.
Apalagi kos yang saya tempati itu kamarnya banyak. Banyak jenis penghuni dengan karakteristiknya masing-masing, bikin kamar mandi “hancur”. Saya malah merasa mendingan kos saya yang lama, meski murah, kamar mandinya proper. Padahal kos cowok lho, yang biasa dianggap sebagai “penghancur”.
Saya tidak tinggal begitu lama di kos tersebut. Kamar mandi lah yang jadi alasan utama. Kemudian saya pindah kos putra kamar mandi dalam, yang lebih sering saya tinggal karena badai covid saat itu bikin saya merasa nggak aman dan memilih pulang kampung.
Jadi, intinya, saya nggak amat setuju kalau kos campur dianggap seburuk itu. Sebenarnya ya balik ke orang-orangnya. Mungkin kos yang saya tempati saat itu orang-orangnya waras. Di kos lain, mungkin kegilaan adalah budayanya. Tapi kalau saya disuruh milih lagi, pilih kos campur atau kos biasa, saya dengan tegas memilih…
Beli rumah. Ngapain milih ngekos kalau bisa beli rumah. Aneh.
Penulis: Rizky Prasetya
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Pengalamanku Sebagai “Anak Baik” Tinggal di Kos LV Jogja Penuh Drama
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini dari.
Terakhir diperbarui pada 13 Mei 2026 oleh