Banyak yang mengira jadi Makeup Artist (MUA) atau bahasa sederhananya perias di desa itu enak. Persaingan MUA di desa memang tidak sengit seperti di kota-kota besar. Orang yang butuh dirias banyak, sementara MUA-nya hanya beberapa saja.
Akan tetapi, yang tidak banyak orang tahu, klien di desa biasanya minta “harga tetangga” alias murah. Mereka ingin make up harga Rp60.000, tapi hasilnya harus lebih kecilbold, dan awet seharian. Biasanya permintaan macam ini datang ketika acara perpisahan sekolah yang mana biasanya datang bersamaan. Di sini ada ketidakselarasan antara permintaan, harga, dan konsep. Masak iya, riasan perpisahan diminta mirip dengan riasan pengantin yang siap kena sorot lampu panggung.
Hitung-hitungan yang bikin MUA desa ngelus dada
Di tengah kondisi ekonomi sekarang ini, uang Rp60.000 tidak bisa dapat apa-apa. Bahkan, duit segitu belum cukup untuk menebus satu dasar yang beneran tahan banting 8 jam. Itu baru satu jenis alat perang. Belum bedak tabur, concealer, eyeshadow, lipstik, bulu mata palsu, lem bulu mata, setting spray, hingga kapas dan tisu. Semua itu modal yang sekali pakai langsung habis atau menyusut.
Sementara itu, kata “menor” yang diminta punya konsekuensi teknis yang berat. Menor itu artinya pigmentasi tebal, contour tajam biar hidung kelihatan mancung tiba-tiba, dan finish yang tahan keringat. Itu standar riasan pengantin yang biasanya dipakai buat foto outdoor berjam-jam.
Persoalannya, acara yang dihadiri itu cuma perpisahan sekolah. Durasinya mungkin cuma 6 jam, tempatnya di lapangan sekolah yang panas minta ampun. Jelas riasan ala pengantin tidak cocok untuk kondisi semacam itu. Di sisi lain, harga yang ditawarkan juga nggak masuk sama sekali.
Atas nama tetangga semua bisa dilakukan
Celakanya, di desa status tetangga sering kali dimainkan untuk menawar harga. “Kan tetangga sendiri, masa nggak dipotong harganya?” Kalimat ini wajar diucapkan sambil basa-basi, tapi efeknya langsung menggerus modal MUA. Apabila ditolak, siap-siap saja kalian dicap sombong atau pelit. Kalau diterima, ya siap-siap saja kalian merugi.
Sedihnya, di desa riasan Rp60.000 seolah-olah jadi harga wajar. Kalau MUA pasang harga normal Rp150.000-120.000 bakal nggak laku. Pasar di desa terlanjur terdidik bahwa murah wajib dapet mewah.
Itu mengapa, banyak MUA, terutama yang masih baru, akhirnya banting harga ke angka Rp50.000 biar ada orderan masuk. Mereka mungkin akan kuat bertahan beberapa bulan, lalu pelan-pelan menghilang. Sekalipun bertahan, mereka akan pakai produk abal-abal yang baru dua jam sudah luntur atau berubah warna jadi abu-abu monyet. Nama baik pun jadi taruhan.
Baca juga Slow Living di Gamping Itu Nyata, Asal Kamu Tidak Jadi Warga Lokalnya.
Ketidakselarasan informasi
Persoalan ini bukan karena klien di desa itu pelit. Saya yakin orang-orang desa juga banyak yang baik dan dermawan. Persoalan “harga tetangga” ini akarnya adalah ketidakselarasan informasi. Banyak orang desa yang referensinya cuma dari media sosial yang banyak kepalsuan. Mereka cuma lihat hasil akhir yang kinclong, tanpa mau tahu prosesnya yang panjang dan butuh kocek.
Kabar baiknya, beberapa MUA di desa sekarang mulai tegas dengan membuat paket hemat. Produknya kelas menengah, daya tahan terbatas, dan nggak disarankan buat foto close-up. Transparansi ini penting buat menyaring klien yang beneran paham kualitas.
Saya rasa ini sangat perlu. Kalau pola “harga tetangga” diteruskan, ekosistem pekerja kreatif di desa bakal pincang. Yang tersisa cuma mereka yang mau mengorbankan kualitas demi harga murah.
Pengarang : Iday Daiyah Adawiyah
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Pengalaman Kuliah S2 UGM Nyambi Jadi MUA, Nggak Malu walau Sempat Merias Temen yang Lulus Duluan.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini dari.
Terakhir diperbarui pada 18 Mei 2026 oleh