Dahulu, ketika hormon sedang lucu-lucunya menguasai masa muda, saya rasa musik adalah poros semesta. Bangun tidur? Musik. Berangkat sekolah empit-empitan di angkot yang bau keringat dan oli? Musik. Ditolak mentah-mentah oleh gebetan yang lebih memilih kakak kelas pemain basket? Saya bakal mendengarkan musik sambil meratap di pojok kamar, persis seperti adegan videoklip band emo zaman Myspace yang gagal budget. Akhir pekan pun habis untuk menonton acara musik di venue-venue kecil demi melihat band idola yang sound system-nya pecah. Apa pun yang terjadi, musik adalah tambatan hidup, oksigen, sekaligus bumbu dapur saya.
Terdengar seperti narasi pecundang sekolah yang sangat nikmat untuk di-bully, bukan? Namun, bagi remaja seperti saya yang tidak punya minat pada hobi-hobi maskulin macam bongkar mesin motor atau menendang bola, musik adalah satu-satunya harga diri. Musik mewakili perasaan saya tanpa pamrih. Dia tidak pernah bertanya kenapa nilai matematikaku merah; dia hadir hanya untuk berdentum untuk saya.
Kehidupan berporos musik ini berjalan mulus sampai akhirnya saya memakai toga dan keluar dari gedung wisuda. Tiba-tiba saja, sinar matahari terasa lebih menyengat dan bunyi klakson kendaraan terasa lebih menuntut. Realitas baru menyapa di ambang mata. Dunia ternyata butuh uang, bukan cuma koleksi vinyl 7” lengkap dari Mutant Pop Records atau Lookout Records.
Kurang lebih isi pikiran saya saat itu sangat pragmatis; atau lebih tepatnya, saya mencoba menjadi dewasa yang membosankan: “Musik sepertinya bukan hal yang akan mengamankan finansial saya. Saya ini lahir pas-pasan, bukan anak sultan yang kalau gagal main band tinggal mengurus kebun sawit bapak.” Akhirnya, saya memulai manuver untuk semi meninggalkan musik. Saya mengambil pekerjaan full-time yang normatif. Gaji bulanan masuk dengan disiplin, cukup aman untuk keberlangsungan hidup di dunia yang serba transaksi ini. Tapi keparatnya, musik itu seperti mantan kekasih yang posesif. Dia terus meronta-ronta di dalam dada saya, minta diperhatikan di sela-sela rapat yang tidak ada ujungnya.
Lalu, ketololan fase kedua muncul. Saya mulai berani bolos kerja demi menonton konser atau sekadar latihan band. Saya menghabiskan gaji yang seharusnya ditabung untuk membeli rilisan fisik dalam jumlah yang tidak sehat dan harga yang tidak masuk akal. Lebih parahnya lagi, saya mencoba membahas antusiasme musik ini kepada teman kantor yang bermuka dua. Di kantin, sambil mengunyah batagor, mereka tertawa mengejek obsesi saya. Bagi mereka, musik itu cuma hiburan latar saat menyetir, sementara bagi saya, musik adalah hal yang penting. Yes, yes, yes, terdengar tolol memang.
Di tengah kemuakan itu, sebuah ide tolol kembali mencuat. Bagaimana kalau saya tinggalkan saja karier normatif ini demi musik? Lagi-lagi, pikiran yang sangat tidak disarankan oleh konsultan keuangan mana pun. Namun, sekonyol-konyolnya pikiran itu, akhirnya saya lakukan juga.
Saya melakukan pivot total menjadi penulis musik.
Awalnya berat, tentu saja. Tapi entah kenapa, Dewi Fortuna sepertinya sedang bosan dan iseng melirik saya. Ketololan saya divalidasi menjadi rezeki. Tulisan, ulasan, dan proyek kreatif mulai berdatangan. Rasanya luar biasa; saya bisa menjalani hari dengan percaya diri secara identitas. Memang tidak sepopuler jurnalis musik favoritmu yang punya ribuan followers dan sering diundang jadi moderator panel diskusi, tapi lumayanlah untuk hidup nyaman ala kelas menengah. Untuk sesaat, musik membuat saya merasa tidak terlalu tolol. Saya merasa telah menaklukkan sistem.
Sampai akhirnya, realitas kembali menampar saya dengan tangan besi keras dan dingin ala tangan palsunya Jaime Lannister. Pilihan hidup di jalur musik ternyata tidak semulus jalan tol menuju gaji dua digit di perusahaan fintech. Selalu ada rintangan yang sifatnya sangat personal. Di industri ini, batas antara profesional dan pertemanan itu setipis tisu dibagi dua. Terkadang saya yang memang bebal, terkadang lingkungannya yang terlalu eksklusif sampai-sampai kalau kamu tidak satu frekuensi, kamu langsung dianggap enggak asyik.
Hingga suatu hari, sebuah ketololan level kosmik terjadi di hidup saya, ada yang menarik kabel listrik saya dari saklar. Saya berhenti melaju di sirkuit karier musik. Lebih tepatnya, saya diberhentikan.
Mari kita bicara jujur tanpa bumbu motivasi murahan ala LinkedIn yang penuh dengan kutipan hustle culture sampah. Di-PHK bukan sekadar masalah kehilangan arus kas tiap tanggal 25. Ini adalah serangan brutal terhadap struktur identitas yang sudah payah saya bangun. Secara psikologis, dipecat mengirimkan sinyal ke otak bahwa saya tidak lagi relevan. Terdengar lebay atau ya, lagi-lagi tolol. Tapi setidaknya itu yang saya rasakan kala itu. Awalnya saya denial, merasa perusahaan itu akan menyesal. Lalu, perasaan itu bermutasi menjadi self-blame. Saya mulai bertanya, “Apakah saya memang se-sampah itu?”
Depresi akibat PHK ini membawa efek domino. Susah tidur, cemas saat ditanya orang “kerja di mana?”, sampai hilangnya gairah pada hobi yang dulu saya puja. Saya merasa dunia terus berputar kencang, sementara saya terlempar keluar orbit seperti sampah kosmik yang luntang-lantung di tatanan galaksi.
Satu jalur dengan segala kebangsatan perasaan setelah dipecat, ada sebuah hikmah yang baru terlihat setelah saya berhenti menangis di pojok kamar. PHK adalah kesempatan langka untuk menjadi manusia kembali. Saya dididik untuk menjadi sekrup yang efisien bagi sebuah entitas musik yang, jujur saja, tidak memberikan manfaat jangka panjang bagi jiwa saya. Saya menjadi robot yang membosankan.
Mungkin coping mechanism terbaik saya saat ini adalah dengan berani berpikir tidak normatif. Meski terdengar tolol dari seseorang yang tidak bergelimang harta dari warisan turunan atau sokongan finansial dari relasi mana pun, tentu sebetulnya saya membutuhkan pekerjaan purna waktu untuk bisa meniti kestabilan finansial di masa seperti ini. Saya butuh itu. Namun, di sela-sela realitas yang mencekik tersebut, kena PHK ternyata memberikan kesempatan-kesempatan nikmat mikro yang mahal harganya. Sekadar jalan-jalan di taman kota di sore hari, menyambangi tempat-tempat yang belum pernah saya kunjungi, sampai terkoneksi kembali dengan beberapa kawan di kota ini yang sebelumnya tidak pernah sempat saya temui karena sama-sama terhantam kesibukan bekerja.
Dunia luar mungkin akan menyuruh saya segera memperbarui CV dan melamar ke 100 perusahaan lain seperti orang kesurupan. Saya tetap realistis, saya tetap mengirimkan lamaran ke sana kemari demi mencari pekerjaan full-time baru. Namun, di sinilah letak komedi gelapnya. Banyak perusahaan atau pemilik kerja langsung mengernyitkan dahi begitu melihat lembar demi lembar lamaran saya. Mereka menolak saya mentah-mentah hanya karena portofolio saya dianggap terlalu berkutat di seputar musik.
Ini lucu sekaligus ironis. Padahal, jika mereka mau meluangkan waktu lima menit saja tanpa stereotip usang, seluruh skill set yang mereka butuhkan ada di sana. Di dunia musik yang serabutan ini, saya sudah terbiasa menulis konten, menyusun skrip video, melakukan editing video secara cut to cut, hingga mengetuk pintu pihak eksternal untuk menjalin kolaborasi taktis. Tapi yah, bagi para pemuja dokumen formal, pengalaman kerja di dunia musik tampaknya tak ada artinya dengan kualifikasi job description content creator yang bisa “edit video, tulis skrip, upload viral, keranjang kuning, buat brand aku super laku in this economy dengan upah yang katanya sepadan”.
Menghadapi penolakan demi penolakan di hari-hari freelancing yang tidak menentu ini, pelan-pelan kewarasan saya mulai diuji. Di masa bertahan hidup inilah, saya memutuskan untuk mengambil kendali atas hidup saya sendiri. Saya tidak mau identitas saya didefinisikan oleh surat penolakan HRD. Maka, saya memutuskan untuk menggarap zine di Geekmonger dan membuat konten bitesize musik di kanal media sosial saya.
Dua hal ini seakan menjadi ruang bagi saya untuk bisa berdamai dengan musik. Ini adalah win-win solution bagi saya untuk tetap mengemban passion terhadap musik yang saya suka tanpa beban korporasi. Memang, secara bahasan, apa yang saya ulas di dua format tersebut sama sekali tidak populis. Saya sadar betul ini tidak akan mendongkrak engagement digital ataupun menaikkan reputasi saya di mata publik luas. Tapi mengutip nyanyian lirih dari Bismo Satu Per Empat di verse paruh kedua lagu “Realis”: “Fuck lah.”
Setidaknya, dengan cara ini, saya punya keleluasaan penuh untuk membahas musik-musik yang murni saya suka. Proyek zine ini sengaja saya kerek tinggi-tinggi, diproyeksikan sebagai identitas utama saya yang baru; sebuah jangkar esensial yang membuat saya tetap waras menghadapi hari-hari freelancing ini.
Maka pilihan saya sekarang adalah kirim lamaran secukupnya, jalani hari sebaik mungkin, dan biarkan kreativitas ini berjalan. Alih-alih stres meratapi profil LinkedIn yang sepi, saya malah lebih sibuk menata halaman zine musik bulanan saya, menulis beberapa draft naskah untuk calon publikasi, dan membuat konten seputar musik yang benar-benar saya sukai tanpa peduli algoritma. Ketololan ini terasa sangat manusiawi ketika saya masih bisa menantikan hari-hari ketika band saya kembali aktif atau memang kelak akan ada pekerjaan yang berjodoh dengan saya.
Berpikir kreatif dalam kondisi terdesak adalah bentuk perlawanan tertinggi bagi saya. Menjadi tidak normatif berarti saya menolak untuk hancur hanya karena sebuah institusi yang tidak lagi menginginkan saya. Keberhasilan saya sebagai manusia tidak ditentukan oleh seberapa aman gaji saya, tapi oleh seberapa mampu saya berdiri tegak saat semua label luar itu dicopot paksa oleh keadaan. PHK memang berengsek, anjing, dan depresif. Namun, bagi saya, kena PHK juga semacam pintu keluar dari penjara rutinitas yang membunuh jiwa secara perlahan. Jika rezeki saya memang cuma sampai sana, mungkin itu tandanya alam semesta ingin saya mencari jalan lain yang lebih jujur.
Menjadi pengangguran kreatif jauh lebih bermartabat daripada menjadi manajer depresif yang visinya dikubur oleh kepentingan dan malah jadi manipulatif ke orang lain demi kepentingannya sendiri yang berkedok ‘mengamankan perusahaan’.
Jadi, apakah saya akan menyerah? Rasanya tidak. Saya hanya sedang mengambil ancang-ancang untuk melompat ke kolam yang berbeda. Kolam di mana saya sendiri yang menentukan seberapa dalam saya ingin menyelam, bukan ditentukan oleh bos yang masa kerjanya sudah purba tapi lupa caranya memanusiakan manusia. Kalau pun nantinya ada kolam baru dan sang raja ikan akan mengajak saya untuk bergabung ke dinastinya, saya harap dia bisa menjadi tandem diskusi dan partner kerja yang baik.
Yaaaa mungkin pada akhirnya, musik mungkin memang membuat saya tetap tolol. Tapi setidaknya, dalam ketololan ini, saya merasa jauh lebih hidup daripada sebelumnya. Yes, yes, yes.